Laporkan Masalah

Modal Sosial dalam Arisan Kebutuhan Masyarakat Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo

Ni'ma Ulinnuha, Kafa Abdallah Kafaa, S.Sos., M.A.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Masyarakat sebagai salah satu aktor kesejahteraan memiliki swadaya membantu memenuhi kebutuhan dasar melalui solidaritas bersama. Salah satu bentuk tindak kolektif ini melalui praktik arisan kebutuhan pada masyarakat Desa Ngadirojo, Sooko, Ponorogo. Arisan kebutuhan mampu membantu anggota memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga hajat besar, meskipun praktik kegiatan terlihat sederhana. Fleksibilitas dalam arisan serta adanya istilah 'ora akeh-akeh mur dinge kumpul-kumpulan' yang berarti bahwa arisan dilakukan bukan kompetisi pemaksimalan jumlah, tetapi arisan sebagai sarana berkumpul. Penelitian ini bertujuan mengetahui unsur-unsur modal sosial dalam kegiatan arisan kebutuhan dengan menggunakan pendekatan modal sosial Fukuyama dan konsep resiprositas Putnam. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan sumber informasi delapan informan mencakup anggota lama dan anggota baru serta diperkuat melalui catatan lapangan dari masyarakat di luar keanggotaan. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat unsur modal sosial berupa kepercayaan, norma, resiprositas, dan jaringan sosial memiliki intensitas yang kuat. Arisan kebutuhan tidak sebatas memberikan manfaat nilai ekonomi berupa perputaran ekonomi lokal sederhana tetapi juga nilai sosial bagi anggota arisan dan di luar praktik kegiatan arisan kebutuhan hingga melampaui kedua nilai tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa modal sosial menjadi penopang keberlanjutan praktik arisan serta memberi kontribusi kesejahteraan komunitas berbasis solidaritas di masyarakat pedesaan. 


KATA KUNCI: ARISAN KEBUTUHAN, MODAL SOSIAL, NILAI EKONOMI, NILAI SOSIAL

The Community, as one of the welfare actors, has the capacity for self-help in meeting basic needs through collective solidarity. One form of this collective action is the arisan kebutuhan (necessity-based rotating savings) practiced in Ngadirojo Village, Sooko, Ponorogo. Although seemingly simple, this practice enables members to meet both household needs and larger life events. Its flexibility is reflected in the local expression "ora akeh-akeh mur dinge kumpul-kumpulan", which emphasizes arisan as a means of togetherness rather than a competition to maximize contributions. This study aims to identify the elements of social capital within the arisan kebutuhan by employing Fukuyama's framework of social capital and Putnam's concept of reciprocity. A qualitative descriptive approach was applied, involving eight informants consisting of long-term and new members, complemented by field notes from non-members. Data were collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature study. The findings reveal that four elements of social capital- trust, norms, reciprocity, and social networks emerged with strong intensity. The arisan kebutuhan not only provides economic benefits through simple local circulation, but also generates social value for both members and the wider community, extending beyond these two dimensions. This study confirms that social capital underpins the sustainability of arisan kebutuhan and contributes to community welfare based on salidarity in rural society. 


KEYWORDS: ARISAN KEBUTUHAN, SOCIAL CAPITAL, ECONOMIC VALUE, SOCIAL VALUE 

Kata Kunci : Arisan Kebutuhan, Modal Sosial, Nilai Ekonomi, Nilai Sosial

  1. S1-2025-480947-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480947-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480947-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480947-title.pdf