Laporkan Masalah

Pulau Pemecah Ombak sebagai Pengembangan Pusat Wisata di Desa Langgula (“Desa Sejuta Cumi”) dengan Pendekatan Ekowisata Berbasis Komunitas (CBE)

CIKAL ABYAN NUR, Prof. Dr. Ing. Ir. Eugenius Pradipto

2025 | Skripsi | ARSITEKTUR

Masyarakat pesisir di Indonesia hidup bergantung pada kekayaan laut dan alam yang melimpah. Akan tetapi, ancaman akan kerusakan lingkungan menghantui mereka di masa depan. Menurut pengamatan, sepanjang pesisir Batuda’a Pantai mengalami abrasi yang berdampak langsung ke masyarakat pesisir.  Rencana pemberdayaan desa berbasis wisata pesisir di Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo yang disusun berdasarkan SDG’s Desa 2030 tidak akan berjalan maksimal sebelum pencegahan abrasi dan keberlanjutan sektor nelayan terjamin. Di salah satu desanya, Desa Seribu memiliki teluk yang terdampak abrasi sehingga menyulitkan masyarakat setempat untuk memaksimalkan potensi yang ada. Kondisi pesisir hancur akibat abrasi menyulitkan nelayan dan merusak fasilitas dan lahan yang ada di sepanjang pesisir.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dilakukan pendekatan desain Community based Ecotourism yang ditransfomasikan sebagai berikut : (1) Merestorasi kondisi alam dan ekosistem ke keadaan semula dengan prinsip ekowisata dan perlindungan dari tiplogi infrastruktur pantai. (2) Prinsip wisata berbasis kegiatan nelayan yang didasari pola kegiatan nelayan ,jumlah dan siklus tahunannya. (3) Fasilitas wisata sebagai upaya pengembangan desa yang dirancang menjembatani komunitas nelayan dan warga dengan wisatawan (4) Sarana eduwisata alam dan desa pesisir yang memiliki ciri khas budaya nelayan desa Seribu Cumi. Sehingga keberadaan pemecah ombak tidak hanya sebagai infrastruktur perlindungan pesisir tetapi sekaligus fasilitas pemberdayaan desa yang sesuai konteks.

Coastal communities in Indonesia rely on marine resources. However, the imminent threat of environmental disaster could endangers their future. Observations indicate that the coastal areas of Batuda’a Pantai are experiencing significant abrasion, which is change the coastline and directly affects the livelihoods of local communities. A coastal tourism-based village empowerment plan in Batuda’a Pantai, Gorontalo Regency, aligned with the Village SDGs 2030, cannot be effectively implemented without ensuring abrasion control and the sustainability of the fishing sector. In the Langgula villages, the bay has been affected by abrasion and erosion, making it difficult for the community to fully leverage its existing potential. The damaged coastline disrupts fishing activities and deteriorates infrastructure and land along the shore.

To tackle this issue, a Community-Based Ecotourism (CBET) design approach is applied and developed into the following strategies: (1) Restoring the natural environment and ecosystem to its original state based on ecotourism principles and the protection by using breakwater as coastal infrastructure typologies; (2) Promoting tourism based on traditional fishing activities, anchored in the annual cycles, types, and quantities of local catches with in tourism center (3) Developing tourism facilities as a means of village development, designed to connect fishing communities and residents with tourists; and (4) Providing nature and coastal village educational tourism that highlights the unique cultural identity of Seribu Cumi’s fishermen.The breakwaters serve not only as coastal defenses but also as facilities  for village development that suit to its context.


Kata Kunci : Abrasi,Pemecah Ombak,Nelayan,Pusat Wisata,Pemberdayaan Desa

  1. S1-2025-460092-abstract.pdf  
  2. S1-2025-460092-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-460092-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-460092-title.pdf