Kejadian Komplikasi Respirasi Paska Pembiusan/Sedasi pada Pasien Anak dengan dan Tanpa Kelainan Kongenital Airway
Aliannor, dr. Yunita Widyastuti, M.Kes, SpAn-TI, Subsp.An.Ped(K), PhD.; DR. dr. Djayanti Sari, M. Kes, Sp. An-TI, Subsp AP (K)
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Anestesiologi
Latar Belakang: Komplikasi respirasi merupakan penyebab utama kejadian kritis pada anak yang menjalani pembiusan atau sedasi, dengan risiko lebih tinggi pada anak dengan kelainan kongenital jalan napas. Bukti komparatif mengenai kejadian dan faktor risiko antara anak dengan dan tanpa kelainan kongenital jalan napas masih terbatas.
Tujuan: Menilai dan membandingkan kejadian komplikasi respirasi pada anak dengan dan tanpa kelainan kongenital jalan napas, serta mengidentifikasi faktor?faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya komplikasi.
Metode: Studi cohort prospective pada 124 anak (<18>
Hasil: Kejadian komplikasi respirasi lebih tinggi pada anak dengan kelainan kongenital jalan napas dibanding tanpa kelainan (59,7% vs 24,2%; p<0 p=0,011), p=0,038).>
Kesimpulan: Kejadian komplikasi respirasi pasca pembiusan/sedasi pada anak dengan kelainan kongenital jalan napas secara bermakna lebih tinggi dibanding anak tanpa kelainan tersebut. Faktor yang secara independen meningkatkan risiko adalah adanya kelainan kongenital jalan napas, komorbiditas, dan tindakan bedah, sedangkan usia, jenis kelamin, dan IMT tidak berpengaruh setelah penyesuaian. Temuan ini menekankan perlunya skrining pra-anestesi terstruktur dan strategi anestesi berbasis risiko pada populasi pediatrik, khususnya dengan kelainan jalan napas.
Background: Respiratory complications are a leading cause of critical events in children undergoing anesthesia or sedation, with higher risk in those with congenital airway abnormalities. Comparative evidence on the incidence and risk factors between children with and without congenital airway abnormalities remains limited.
Objective: To assess and compare the incidence of respiratory complications in children with and without congenital airway abnormalities, and to identify risk factors associated with these complications.
Methods: A prospective cohort study of 124 children (<18>
Results: Respiratory complications were more frequent in children with congenital airway abnormalities than in those without (59.7% vs 24.2%; p<0 p=0.011), p=0.038).>
Conclusion: The incidence of post-anesthesia/sedation respiratory complications is significantly higher in children with congenital airway abnormalities than in those without. Independent risk factors include congenital airway abnormalities, comorbidities, and surgical procedures, whereas age, sex, and BMI are not associated after adjustment. Thesefindings underscore the need for structured pre-anesthetic screening and risk-based anesthetic strategies in pediatric practice, especially for children with airway abnormalities.
Kata Kunci : anak; komplikasi respirasi; pembiusan/sedasi; kelainan kongenital jalan napas; komorbiditas; laringospasme; desaturasi.