Laporkan Masalah

Analisis Keterlibatan Perempuan Adat Lumad dalam Gerakan Sosial di Era Aquino III (2010-2016) dan Era Duterte (2016-2022)

Maria Clarissa Triana Sutanto, Arindha Nityasari, S.I.P., MCyberSecAnalysis

2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Masyarakat adat Lumad merupakan kelompok masyarakat adat terbesar di Filipina, yang terdiri dari sekitar 18 kelompok etnis non-Moro yang mendiami wilayah pegunungan di Mindanao, Filipina Selatan. Sejak awal masa penjajahan, kedaulatan mereka di tanah leluhurnya tidak sepenuhnya dirasakan karena penindasan yang dilakukan oleh para opresor, mulai dari penjajah Spanyol, Amerika, hingga pemerintah Filipina sendiri, yang kerap mengeksploitasi dan merampas wilayah kehidupan masyarakat Lumad. Berbagai tindak kekerasan yang menargetkan masyarakat Lumad pun menyebabkan perempuan Lumad berada dalam posisi subordinat dan semakin rentan mengalami kekerasan. Berangkat dari ketidakadilan yang dialaminya tersebut, perempuan Lumad pun menunjukkan keberdayaannya untuk bangkit dan melawan penindasan dengan berserikat dan melakukan gerakan sosial. Tulisan ini akan menganalisis kekerasan yang dialami oleh masyarakat Lumad di masa pemerintahan Aquino III (2010-2016) serta masa pemerintahan Duterte (2016-2022) dan bagaimana perempuan adat Lumad merespons kekerasan tersebut dengan mengorganisir gerakan sosial. Melalui analisis kualitatif dengan metode studi komparatif, tulisan ini akan menyoroti komparasi ketidakadilan yang terjadi serta bentuk perlawanan sosial yang dilakukan oleh perempuan Lumad yang terjadi pada masa pemerintahan Aquino III dan masa pemerintahan Duterte melalui lensa interseksionalitas, tipping, timing, framing, dan feminisme dekolonial. Dengan menggunakan studi literatur dalam mengumpulkan data, penelitian ini menemukan bahwa kekerasan yang terjadi di antara kedua rezim sama-sama berakar dari reproduksi kolonial yang menindas masyarakat yang termarjinalkan. Pola gerakan sosial yang terjadi di antara kedua rezim juga selaras, namun di era Duterte, keterlibatan perempuan Lumad dalam mobilisasi gerakan sosial terlihat semakin meningkat dikarenakan kehadiran serikat perempuan Lumad, Sabokahan, yang mengalami perkembangan dalam melakukan gerakan sosial. Kehadiran perempuan Lumad pun berhasil memberikan pengaruh yang besar dalam memperjuangkan pembebasan kolektif dari penindasan berdasarkan solidaritas dan inklusivitas.

Kata kunci: perempuan adat, masyarakat Lumad, gerakan sosial, kekerasan negara, Filipina, Aquino III, Duterte, ketidakadilan interseksional, feminisme dekolonial

Lumad people is an indigenous community consisting of around 18 non-Moro ethnic groups inhabiting the mountainous regions of Mindanao, Southern Philippines. Since the beginning of the colonial period, their sovereignty over their ancestral domains has not been fully achieved due to oppression by the oppressors, ranging from Spanish and American colonizers to the Philippine government itself, which has frequently exploited and seized the Lumad people's territories. Various acts of violence targeting the Lumad people have also placed Lumad women in a subordinate position and made them increasingly vulnerable to violence. Driven by the injustice they experienced, Lumad women demonstrated their strength to rise up and fight oppression by organizing and engaging in social movements. This paper will analyze the violence experienced by the Lumad people during the Aquino III administration (2010-2016) and the Duterte administration (2016-2022) and how indigenous Lumad women responded to this violence by engaging in social movements. Through qualitative analysis using comparative study methods, this paper will highlight the comparison of injustices that occurred and the forms of social resistance carried out by Lumad women during the Aquino III administration and the Duterte administration through the lens of intersectionality, tipping, timing, and framing, and decolonial feminism. Using literature studies to collect data, this research found that the violence occurred under both regimes was rooted in colonial reproduction that oppressed marginalized communities. The patterns of social movements that occurred under both regimes were also similar, but in the Duterte era, the involvement of Lumad women in social movement mobilization has increased due to the emergence of the Lumad women's union, Sabokahan, which has developed in its social movement activities. The existence of Lumad women has also had a significant impact in the struggle for collective liberation from oppression based on solidarity and inclusivity.

Keywords: indigenous women, Lumad people, social movement, state violence, Philippines, Aquino III, Duterte, intersectionality, decolonial feminism

Kata Kunci : Kata kunci: perempuan adat, Masyarakat Lumad, gerakan sosial, kekerasan negara, Filipina, Aquino III, Duterte, ketidakadilan interseksional, feminisme dekolonial

  1. S1-2025-477521-abstract.pdf  
  2. S1-2025-477521-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-477521-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-477521-title.pdf