Laporkan Masalah

Etnoornitologi Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Konservasi Burung Dan Habitatnya Di Desa Kepuharjo, Cangkringan

Muhammad Annas Alfiansyah, Much. Taufik Tri Hermawan

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Taman Nasional Gunung Merapi memiliki keragaman jenis burung yang tinggi tetapi juga memiliki ancaman berupa aktivitas vulkanik yang tinggi, sehingga memerlukan upaya perlindungan bagi burung, melalui peran desa penyangga seperti Desa Kepuharjo. Masyarakat desa penyangga perlu memiliki sikap konservatif untuk emastikan kelestarian burung di alam. Kearifan lokal masyarakat, khususnya dalam bentuk etnoornitologi, dapat menjadi pendekatan penting dalam konservasi burung dan habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat Desa Kepuharjo dalam konservasi burung dan habitatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu wawancara tidak terstruktur. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling (bola salju). Kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Informasi utama yang digali dalam penelitian ini adalah mitos dan kepercayaan lokal mengenai burung, bentuk pemanfaatan burung, kebudayaan mengenai burung, dan pengetahuan lokal masyarakat terkait burung. Penelitian ini menemukan empat bentuk etnoornitologi di Desa Kepuharjo yang berperan sebagai kearifan lokal dalam konservasi burung. Keempat aspek ini diimplementasikan dalam tiga konsep konservasi menurut UU No. 5 Tahun 1990, yaitu perlindungan habitat melalui upacara adat, pelestarian jenis dan ekosistem lewat larangan pengambilan burung, serta pemanfaatan berkelanjutan seperti penggunaan burung sebagai obat dan pangan. Namun, ditemukan pula praktik perburuan burung untuk ekonomi dan hobi yang bersifat tidak lestari dan tidak termasuk dalam nilai nilai konservasi.

Mount Merapi National Park hosts a high diversity of bird species but also faces the threat of intense volcanic activity, and requiring bird protection efforts through the role of buffer villages such as Kepuharjo Village. Communities in buffer zones need to adopt a conservation-minded attitude to ensure the sustainability of wild bird populations. Local wisdom, particularly in the form of ethno-ornithology, can serve as a vital approach in bird and habitat conservation. This study aims to explore the local wisdom of Kepuharjo Village in conserving birds and their habitats. The research uses a qualitative approach. Data collection techniques include unstructured interviews, and the sampling technique used is snowball sampling. The data were then analyzed using descriptive analysis. The main information gathered includes local myths and beliefs about birds, forms of bird utilization, cultural practices related to birds, and the community’s local knowledge about birds. This study identified four forms of ethno-ornithology in Kepuharjo Village: myths and superstitions, bird utilization, cultural aspects, and local knowledge, which serve as local wisdom in bird conservation. These aspects are implemented in three conservation concepts based on Law No. 5 of 1990: habitat protection through traditional ceremonies, species and ecosystem preservation by avoiding bird capture, and sustainable use such as utilizing birds for medicine and as a secondary food source. However, bird hunting for economic purposes and hobbies was also found, which is unsustainable and does not align with conservation values.

Kata Kunci : Desa penyangga, mitos, pemanfaatan, kebudayaan, pengetahuan lokal masyarakat

  1. S1-2025-478054-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478054-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478054-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478054-title.pdf