Laporkan Masalah

Perilaku Golput di Wilayah Suburban Studi Kasus Pemilihan Presiden Tahun 2024 di Desa Bojongbaru, kabupaten Bogor

ADELIA, Prof. Dr. Haryanto. M. A.

2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini menunjukkan fenomena tingginya perilaku tidak memilih (golput) pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024 di Desa Bojongbaru yang dijadikan lokasi sebagai representasi wilayah suburban. Persentase golput di Desa Bojongbaru mencapai angka 21,78%, 1,96% lebih tinggi dari angka golput nasional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari tahu secara lebih mendalam terkait alasan dari tindakan golput yang dilakukan oleh pemilih di Desa Bojong Baru yang merupakan wilayah suburban serta berusaha menganalisa faktor-faktor yang menyebabkan perilaku golput terjadi.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Dalam upaya pengambilan data, penulis menggunakan metode wawancara dengan menggunakan dua cara pengambilan sampling, yaitu purposive dan snowball sampling. Penelitian ini juga menggunakan sumber data lain berupa laporan-laporan resmi tentang data golput yang berasal dari liputan media massa (koran dan majalah, televisi) serta data-data statistika yang berasal dari hasil studi-studi, survey dan polling lembaga-lembaga penelitian. Adapun teori yang digunakan adalah pandangan David Moon dan Eep Saefullah Fatah mengenai perilaku tidak memilih yang dipadukan dengan konsep masyarakat suburban.

Hasilnya, penelitian ini menunjukan bahwa ada tiga faktor utama penyebab golput di Desa Bojongbaru. Pertama, faktor politis yang menilai bahwa mereka tak punya pilihan dari kandidat yang tersedia atau tak percaya bahwa pemilu akan membawa perubahan dan perbaikan. Kedua, faktor ideologis yang didasari dengan adanya perbedaan keyakinan yang dianut, yang mana ideologi dan keyakinan politik mereka  tidak sejalan dengan mekanisme demokrasi maupun pemilu. Ketiga, faktor teknis-politis. Hal kebanyakan dialami oleh pemilih yang bekerja atau sedang menempuh studi di luar kota. Mereka awalnya ingin memilih, tetapi alasan teknis seperti rumitnya mengurus administrasi Pindah Memilih membuat mereka tidak bisa memilih dan mengakui bahwa mereka tidak terlalu kecewa tidak bisa memilih karena suaranya tidak akan memiliki banyak pengaruh. Hal yang sama juga dialami oleh kebanyakan dari mereka yang menjadi petugas KPPS. Adanya ketidakefektifan dalam pembagian tugas dan pelaksanaan tugas selama menjadi KPPS membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mencoblos karena waktu untuk melakukan pencoblosan sudah habis, sementara sejak pagi mereka sibuk mengurusi proses pemungutan suara di TPS tempat tugas mereka. Alasan-alasan golput ini menjurus pada satu alasan utama bahwa setiap alasan golput yang mereka gunakan selalu ada aspek ketidakpercayaan (trust issue) terhadap pemerintah dan sistem politik yang selama ini berjalan di Indonesia.

Didasari oleh proses berpikir yang cukup panjang yang dibentuk dari pengalaman mereka sebagai kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah suburban dengan segala karakteristik dan kemewahannya, para pemilih di Desa Bojongbaru yang memutuskan untuk golput melihat golput sebagai sebuah sikap dan pilihan. Mereka memaknai golput sebagai respons terhadap ketidakpuasan terhadap pilihan kandidat, kebijakan yang dianggap tidak relevan, serta proses pemilu itu sendiri yang dianggap sudah mencederai nilai-nilai demokrasi. Hal ini juga menepis asumsi yang kerap muncul tiap pemilu bahwa orang-orang yang golput merupakan orang yang berasal dari kalangan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah serta orang-orang yang apatis dan tidak peduli dengan negara.

This study demonstrates the high rate of non-voting (golput) in the 2024 presidential election in Bojongbaru Village, a representative suburban area. The abstention rate in Bojongbaru Village reached 21.78%, 1.96% points higher than the national abstention rate. This study aimed to gain a deeper understanding of the reasons for voter abstention in Bojong Baru Village, a suburban area, and to analyze the factors contributing to this phenomenon.

This study employed a qualitative case study method. For data collection, the author employed two sampling methods: purposive and snowball sampling, through interviews. This study also utilized other data sources, including official reports on abstention data from mass media coverage (newspapers, magazines, and television), as well as statistical data from studies, surveys, and polls conducted by research institutions. The theory employed is the perspective of David Moon and Eep Saefullah Fatah on non-voting behavior, combined with the concept of suburban society.

The results of this study indicate that there are three main factors causing abstention in Bojongbaru Village. First, political factors, which perceive them as having no choice among the available candidates, or a lack of confidence that the election will bring change and improvement. Second, ideological factors, based on differences in beliefs, where their political ideologies and beliefs are not in line with democratic or electoral mechanisms. Third, technical-political factors. This is mostly experienced by voters who work or are studying outside the city. They initially wanted to vote, but technical reasons, such as the complicated administrative process for Moving Voters prevented them from voting, and they admitted that they were not too disappointed not to be able to vote because their vote would not have much influence. The same thing also happened to most of those who worked as KPPS officers. Ineffectiveness in the division of tasks and the implementation of their duties while working as KPPS officers resulted in them missing the opportunity to vote because the voting time had run out, while they had been busy since morning taking care of the voting process at their assigned polling stations. These reasons for abstaining from voting all boil down to one primary reason: each reason they use always stems from a mistrust of the government and the current political system in Indonesia.

Based on a long-term process shaped by their experiences as a community living in a suburban area with all its characteristics and luxuries, voters in Bojongbaru Village who decided to abstain from voting see it as an attitude and a choice. They interpret it as a response to dissatisfaction with the candidate selection, policies they deem irrelevant, and the election process itself, which they perceive as violating democratic values. This also disproves the assumption often raised in each election that those who abstain from voting are those from lower economic and educational backgrounds, as well as those who are apathetic and unconcerned with the country.

Kata Kunci : Pilpres 2024, golput, wilayah suburban, perilaku tidak memilih

  1. S1-2025-459862-abstract.pdf  
  2. S1-2025-459862-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-459862-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-459862-title.pdf