Laporkan Masalah

Fasilitas Kesehatan Pasien Skizofrenia dengan Metode Disprogramming

Ahmad Wildan Muzaki, Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU.

2025 | Skripsi | ARSITEKTUR

Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal luas sebagai kota pelajar dan pusat budaya. 

Namun, di balik citra tersebut, permasalahan kesehatan mental menjadi isu yang 

perlu mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan data terbaru, angka prevalensi 

penderita skizofrenia di Yogyakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia. 

Tingginya jumlah kasus ini belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan 

fasilitas kesehatan jiwa yang memadai, khususnya fasilitas yang mengintegrasikan 

layanan pengobatan, rehabilitasi, dan pelatihan keterampilan bagi pasien. Oleh 

karena itu, diperlukan pengembangan fasilitas kesehatan yang tidak hanya berfokus 

pada aspek medis, tetapi juga pada pemulihan sosial untuk mendukung kemandirian 

pasien skizofrenia. 

Fasilitas kesehatan jiwa yang ada saat ini masih terbatas dan umumnya hanya 

berfokus pada aspek pengobatan medis tanpa dukungan rehabilitasi lanjutan. Oleh 

karena itu, perancangan fasilitas kesehatan jiwa, khususnya bagi pasien skizofrenia 

menjadi fokus yang cukup penting. Diperlukan perencanaan fasilitas dengan 

intervensi arsitektural yang tidak hanya menyediakan ruang pengobatan, tetapi juga 

ruang pelatihan untuk mendukung proses pemulihan yang berkelanjutan dan 

reintegrasi sosial. 

Di Kabupaten Kulonprogo, Yogayakarta sendiri, fasilitas kesehatan untuk pasien 

skizofrenia masih sangat minim. Oleh karena itu, pada tugas akhir ini akan 

dilakukan perancangan “Fasilitas Kesehatan Pasien Skizofrenia di Kabupaten 

Kulonprogo dengan Metode Disprogramming”. Pendekatan disprogramming 

digunakan untuk mengolah dua fungsi utama, yaitu pengobatan dan pelatihan, agar 

tidak dipisahkan secara kaku melainkan saling melebur secara spasial. Hal ini 

diwujudkan melalui strategi interlocking massing dan superimpose area, dimana 

ruang transisi seperti galeri terapi atau selasar aktif dirancang sebagai titik temu 

antara fungsi medis dan edukatif.

The Special Region of Yogyakarta is widely recognized as a city of education and 

culture. However, behind this positive image lies a serious issue concerning mental 

health that requires greater attention. According to recent data, the prevalence of 

schizophrenia in Yogyakarta ranks among the highest in Indonesia. This growing 

number of cases has not been fully supported by the availability of adequate mental 

health facilities, particularly those that integrate medical treatment, rehabilitation, 

and skills training programs for patients. Therefore, there is a pressing need to 

develop healthcare facilities that focus not only on medical aspects but also on 

social recovery to support the independence of individuals living with 

schizophrenia. 

Existing mental health facilities remain limited and generally focus solely on 

medical treatment without providing ongoing rehabilitative support. Therefore, the 

design of a dedicated mental health facility, particularly for patients with 

schizophrenia, becomes an important focus. It requires architectural intervention 

that not only provides spaces for treatment but also integrates training areas to 

support long-term recovery and social reintegration. 

In Kulon Progo Regency, Yogyakarta, mental health facilities for patients with 

schizophrenia are still very limited. Therefore, this final project proposes the design 

of a Mental Health Facility for Schizophrenia Patients in Kulon Progo using the 

disprogramming method. This approach is intended to merge two main functions—

 treatment and training—not by separating them rigidly, but by allowing them to 

blend spatially. This is implemented through strategies such as interlocking 

massing and superimposed areas, where transitional spaces like therapeutic 

galleries or active corridors are designed to serve as points of intersection between 

medical and educational functions.


Kata Kunci : disprogramming, skizofrenia, fasilitas kesehatan, kriminalitas, pengobatan, pelatihan.

  1. S1-2025-482009-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482009-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482009-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482009-title.pdf