Laporkan Masalah

Aplikasi foto udara dan sistem informasi geografis untuk evaluasi kekeringan pertanian sawah tadah hujan berdasarkan neraca air Thornthwaite-mather (Studi disebagian kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Fakhruddin Mustofa, Dr. Totok Gunawan, M.S.; Dr. M. Pramono Hadi, M.Sc.

2001 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Fenomena kekeringan (drought) metzjadi isu nasional dalam dekade terakhir int, a_palagi terkait erat dengan kejadian El Nino yang melanda wilayah Indonesia„ Kekeringan akan berakibat langsung pada lahan-lahan pertanian semu.s.im terutama di s'awah trigasi dan tadah hujan. Akibat vang dapat dirasakan dapat berup.a mundurnya 17171S1171 tanam, kelayuan, puso hahkan kegagalan panen. Untuk mengantisipasi hal-hal di atas dilakukan penelitian tentang kekeringan di sebagian Kabupciten Brehes, Propinsi Jawa Tengah, tnenekcznkan pada evaluasi kekeringan pertanian sa-wah tadah hujan. Metode Thornthwaite-Mather digunaktm untuk memperoleh gambaran neraca air sawah tadah hujan, hasil perhitungan neraca berupa kelembaban, evapotran,spirasi, limpasatz„urplus dan defisit bulanan. Untuk memperoleh keberadaan sawah tadah hujan dan karakteristiknya dilakukan interpreiasi _foto udara pankronzatik hitam putih skala 1 : 50.000, infbrmasi vang di peroleh dari foto udara int kemudian di padu dengan data sekunder dan hasil kerja lapangan menggunakan sistem inlOrrnasi geografis (SIG) menghasilkan data-data yang terkait erat dengan tujuan penelitian. Tingkat kekeringan dan kebasahan bulanan merupakan pencermitzan dari perbandingan defisit dan surplus dengan evapotranspirasi potensial yang terjadi. Hasrl analisa surplus dan defisit di peroleh, untuk surplus terpanjang ( 8 bulan) dan defisit terpendek (4 bulan) terjadi di sawah tadah hujan wilayah Kertasart, sehingga wilayah ini mempunyal tingkat kehasahan vang bervariasi sejak bulan November sampai Juni. Periode ini memungkinkan untuk pola tanam padi-padi-palawija. Surplus dan defisit berimbang (6 bulan) terjadi di „sviivah tadah hujan wilavah Cisadap, Bendung Nambo dan Larangan„whingga terjadi tingkat kekeringan dan kehasahan vang bervariasi yang bergantian setiap 6 bulan. Dari keaduan ini dapat ditawarkan alternatif pola tana.m padi-palawijaigogo-hero. Untuk sawah tadah hulan wilayah Malahavu dan Ciseureuh, surplus tetjadi selama 7 hulan dan defisit selama 5 bulan. Alternatif padi-padi/gogaipalawija-bero ditawarkcm pada areal ini berdasarkan keadaan tingkat kekeringan dan kebasahannva.

-

Kata Kunci : Kekeringan pertanian,Sistem informasi geografis,Foto udara,Brebes,Jawa Tengah

  1. S1-2001-Fakhruddin_Mustofa-abstract.PDF  
  2. S1-2001-Fakhruddin_Mustofa-bibliography.PDF  
  3. S1-2001-Fakhruddin_Mustofa-tableofcontent.PDF  
  4. S1-2001-Fakhruddin_Mustofa-title.PDF