Laporkan Masalah

The Impact of Galantamine on Working Memory of Elderly People With Alzheimer's Disease

Rekyan Ratri Mustafidah, DR. dr. Probosuseno, SpPD, KGer, SE, MM ; dr. Yulia Wardhani, SpPD, KGH ; dr. Raden Bowo Pramono, SpPD-KEMD (K)

2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang : Lansia didefinisikan sebagai mereka yang berusia 60 tahun ke atas, mengalami penuaan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik, psikologis, dan sosial, yang dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Masalah kesehatan yang umum terjadi adalah penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan demensia, dengan penyakit Alzheimer sebagai jenis yang paling banyak terjadi, yang mempengaruhi 60-80% kasus demensia. Alzheimer ditandai dengan kehilangan memori dan penurunan kognitif, mempengaruhi lebih dari satu juta orang Indonesia, dengan jumlah yang diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun. Galantamine, penghambat asetilkolinesterase (AChE), digunakan untuk mengobati Alzheimer ringan hingga sedang dengan meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi gejala, dan memperlambat perkembangan penyakit.  

Tujuan : Untuk mengevaluasi efektivitas galantamin sebagai pengobatan pada pasien Alzheimer ringan hingga sedang, khususnya dalam meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi tingkat keparahan gejala, dan memperlambat progresivitas penyakit, serta untuk memahami efek samping yang mungkin ditimbulkan. 

Metode : Penelitian ini menggunakan metode systematic review, dengan mengidentifikasi, menilai, dan menganalisis artikel yang relevan. Pencarian literatur dilakukan melalui database seperti PubMed, ResearchGate, dan Google Scholar. Data dari artikel yang memenuhi kriteria kemudian dianalisis menggunakan metode sintesis naratif (metasynthesis) untuk mengelompokkan dan membandingkan temuan utama. 

Hasil : Penelitian menunjukkan bahwa pemberian galantamin, yang merupakan penghambat asetilkolinesterase dan modulator reseptor nikotinik, secara signifikan dapat meningkatkan fungsi kognitif pada pasien dengan Alzheimer ringan hingga sedang. Perbaikan terlihat pada memori kerja, perhatian, dan fungsi memori jangka panjang. Selain itu, galantamin juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tidur pasien, yang secara tidak langsung mendukung fungsi kognitif. Namun, kepatuhan pasien terhadap terapi seringkali terganggu oleh efek samping seperti mual, pusing, dan gangguan gastrointestinal. 

Kesimpulan : Galantamin efektif dalam memperlambat progresi gejala Alzheimer dan meningkatkan kualitas hidup pasien melalui perbaikan fungsi kognitif dan aktivitas harian. Meski demikian, pengelolaan efek samping dan strategi untuk meningkatkan aksesibilitas obat perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan hasil terapi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang galantamin terhadap kualitas hidup pasien secara menyeluruh. 

Kata Kunci : Galantamin, Memori Kerja, Penyakit Alzheimer, Lansia, Fungsi Kognitif

Background: The elderly are defined as those aged 60 years and above, experiencing aging characterized by a decline in physical, psychological, and social functions, influenced by genetic, environmental, and lifestyle factors. Common health problems are non-communicable diseases such as hypertension, diabetes, and dementia, with Alzheimer's disease being the most prevalent type, affecting 60-80% of dementia cases. Alzheimer's is characterized by memory loss and cognitive decline, affecting more than one million Indonesians, with the number expected to double in 20 years. Galantamine, an acetylcholinesterase (AChE) inhibitor, is used to treat mild to moderate Alzheimer's by improving cognitive function, reducing symptoms, and slowing disease progression.  

Objective: To evaluate the effectiveness of galantamine as a treatment in mild to moderate Alzheimer's patients, specifically in improving cognitive function, reducing symptom severity, and slowing disease progression, as well as to understand possible side effects. 

Methods: This study used a systematic review method, by identifying, assessing, and analyzing relevant articles. Literature searches were conducted through databases such as PubMed, ResearchGate, and Google Scholar. Data from articles that met the criteria were then analyzed using the narrative synthesis method (metasynthesis) to group and compare the main findings. 

Results: The study showed that administration of galantamine, which is an acetylcholinesterase inhibitor and nicotinic receptor modulator, can significantly improve cognitive function in patients with mild-to-moderate Alzheimer's disease. Improvements were seen in working memory, attention, and long-term memory functions. In addition, galantamine also contributes to improving patients' sleep quality, which indirectly supports cognitive function. However, patient adherence to therapy is often compromised by side effects such as nausea, dizziness, and gastrointestinal disturbances. 

Conclusion: Galantamine is effective in slowing the progression of Alzheimer's symptoms and improving patients' quality of life through improvements in cognitive function and daily activities. However, management of side effects and strategies to improve drug accessibility need to be considered to optimize therapeutic outcomes. Further research is needed to evaluate the long-term impact of galantamine on patients' overall quality of life. 

Keywords: Galantamine, Working Memory, Alzheimer's Disease, Elderly, Cognitive Function


Kata Kunci : Galantamine, Working Memory, Alzheimer's Disease, Elderly, Cognitive Function

  1. S1-2025-475054-abstract.pdf  
  2. S1-2025-475054-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-475054-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-475054-title.pdf