Relasi Kekuasaan dalam Gerakan Gejayan Memanggil: Kajian Aliansi Tanpa Pemimpin dalam Perspektif Michel Foucault
Yusuf Eko Prasetyo, Drs. Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D.;Rachmad Hidayat, S.Fil., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Penelitian
ini bertujuan untuk menelaah relasi kekuasaan yang bekerja secara tersembunyi
dalam gerakan sosial aliansi tanpa pemimpin, khususnya pada kasus gerakan
Gejayan Memanggil 2019. Gerakan sosial sendiri merupakan salah satu bentuk
ekspresi politik yang memainkan peran penting dalam dinamika demokrasi. Oleh
sebab itu penelitian ini bertujuan untuk (1) merumuskan bagaimana teori
kekuasaan Michel Foucault dapat menjelaskan munculnya relasi kekuasaaan
tersebar melalui diskursus dalam aliansi tanpa pemimpin, (2) menganalisis
relasi kekuasaan yang tersebar melalui diskursus terhadap kebebasan dan
demokrasi dalam gerakan Gejayan Memanggil.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode empiris-reflektif bersumber pada studi literatur atau kepustakaan seperti buku, jurnal atau artikel ilmiah mengenai aliansi tanpa pemipin dalam gerakan Gejayan Memanggil yang dianalisis dengan teori kekuasaan Michel Foucault. Metode analisis hasil yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode interpretasi, induksi, dan kesinambungan historis.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan menghasilkan dua kesimpulan. (1) konsep kekuasaan Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan bekerja secara tersebar dalam aliansi tanpa pemimpin melalui pembentukan dan dominasi diskursus, serta sebagai dispositif. (2) konsekuensi keberadaan kekuasaan yang tersebar terhadap konsep kebebasan adalah inkonsistensi, dimana kebebasan dalam gerakan diatur oleh dispositif dan normalisasi kolektif. Dalam konteks demokrasi, kekuasaan yang tersebar menantang pemahaman tradisional pengambilan keputusan, namun juga membuka ruang bagi perlawanan inovatif dan perluasan partisipasi demokratis melalui proses merebut kembali dan mengangkat bentuk-bentuk pengetahuan yang terpinggirkan (insurrection of subjugated knowledges).
This
research aims to examine the hidden power relations operating within leaderless
social alliance movements, specifically in the case of the 2019 Gejayan
Memanggil movement. Social movements themselves are a significant form of political
expression that plays an important role in the dynamics of democracy.
Therefore, this study aims to (1) formulate how Michel Foucault's theory of
power can explain the emergence of dispersed power relations through discourse
within leaderless alliances, and (2) analyze the impact of dispersed power
relations through discourse on freedom and democracy within the Gejayan
Memanggil movement.
The method used in this research is an empirical-reflective approach based on literature studies or library research, such as books, journals, or scientific articles concerning leaderless alliances in the Gejayan Memanggil movement, analyzed using Michel Foucault's theory of power. The analysis methods for the results used in this study include interpretation, induction, and historical continuity.
Based on the research conducted, two conclusions were drawn. (1) Michel Foucault's concept of power explains that power operates in a dispersed manner within leaderless alliances through the formation and domination of discourse, as well as acting as a dispositif. (2) The consequence of the existence of this dispersed power on the concept of freedom is inconsistency, where freedom within the movement is regulated by the dispositif and collective normalization. In the context of democracy, dispersed power challenges traditional understandings of decision-making, but also opens space for innovative resistance and the expansion of democratic participation through the process of reclaiming and uplifting marginalized forms of knowledge (insurrection of subjugated knowledges).
Kata Kunci : relasi kekuasaan, diskursus, gejayan memanggil, leaderless resistance