Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) di Bawah Tegakan Jati dengan Umur yang Berbeda di Gununugkidul
Adinda Reza Berliana, Ir. Budiastuti Kurniasih, M.Sc., Ph.D. ; Valentina Dwi Suci Handayani S.P., M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | AGRONOMI
Luas lahan produksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Gunungkidul mengalami penurunan dari tahun ke tahun akibat alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian, sehingga salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas pada lahan yang semakin menyusut adalah melalui sistem agroforestri kacang tanah dan jati (Tectona grandis). Namun, terdapat kendala agroforestri di Gunungkidul, terutama kompetisi cahaya dan air. Diperlukan pemilihan umur tegakan jati yang tepat untuk menciptakan iklim mikro yang optimal bagi kacang tanah dan pemilihan varietas kacang tanah yang tahan naungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh umur tegakan, perbedaan varietas kacang tanah, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah di Gunungkidul. Penelitian dilaksanakan di Semanu, Gunungkidul dan Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman. Penelitian dilakukan dengan rancangan multi-lokasi dengan petak utama berupa umur tegakan jati tua (J1) dan muda (J2) dan anak petak berupa varietas kacang tanah Lokal Gunungkidul (V1), Kancil (V2), dan Tuban (V3). Hasil penelitian naungan tegakan jati muda secara signifikan lebih mendukung pertumbuhan dan hasil kacang tanah dibandingkan naungan tegakan jati tua. Varietas Tuban dan Kancil menunjukkan hasil terbaik dalam parameter pertumbuhan, tetapi produktivitas dan hasil polong tidak berbeda nyata dengan varietas Lokal. Interaksi antara umur tegakan dan varietas ditunjukkan pada performa pertumbuhan ketiga varietas yang sama-sama menunjukkan pertumbuhan yang rendah di bawah cekaman naungan tinggi dari jati tua, sedangkan varietas Kancil dan Tuban menunjukkan pertumbuhan yang nyata lebih baik daripada varietas Lokal di bawah naungan sedang dari jati muda. Sementara itu, tidak terdapat interaksi antara umur tegakan dan varietas pada variabel hasil.
The area of peanut (Arachis hypogaea L.) production land in Gunungkidul has been declining year by year due to the conversion of agricultural land to non-agricultural purposes. This reduction in farmland poses a challenge to sustaining peanut production. One effort to maintain and increase productivity on the shrinking land is through a peanut–teak (Tectona grandis) agroforestry. However, agroforestry in Gunungkidul faces challenges, particularly competition for light and water between trees and crops. Therefore, selecting the appropriate teak stand age to create an optimal microclimate for peanuts and identifying shade-tolerant varieties are important. This study aimed to assess the effects of teak stand age, peanut variety, and their interaction on peanut growth and yield in Gunungkidul. The research was conducted in Semanu, Gunungkidul, and at the Crop Production Management Laboratory. A multi-location design was used, with main plots consisting of old (J1) and young (J2) teak stands, and subplots consisting of three peanut varieties: Local Gunungkidul (V1), Kancil (V2), and Tuban (V3). Results showed that shading from young teak stands significantly favored peanut growth and yield compared to shading from old teak stands. Tuban and Kancil varieties performed best in growth parameters, although their productivity and pod yield were not significantly different from the Local variety. An interaction between stand age and variety was observed for growth, with all varieties showing low growth under heavy shade from old teak, while Kancil and Tuban grew significantly better than Local under moderate shade from young teak. No interaction between stand age and variety was found for yield variables.
Kata Kunci : Agroforestri, Jati, Kacang Tanah, Varietas, Naungan