BERBAGI DATA PRIBADI DI TENGAH RISIKO SIBER: NEGOSIASI KULTURAL MAHASISWA DALAM RUANG-RUANG DIGITAL
Amelia Early Deswita, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Transformasi digital telah mengubah aspek struktural dari kehidupan manusia. Penciptaan nilai-nilai baru dari hadirnya dunia digital mendorong partisipasi masyarakat yang semakin meningkat. Namun, partisipasi digital membawa risiko-risiko yang mengancam kehidupan manusia. Salah satunya muncul dalam bentuk ancaman siber terhadap keamanan data pribadi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami praktik berbagi data pribadi di dunia digital pada mahasiswa sebagai praktik sosial-budaya.
Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada empat mahasiswa yang merupakan partisipan digital aktif dengan bidang pendidikan yang berbeda. Dua informan merupakan mahasiswa perempuan, dan dua lainnya mahasiswa laki-laki dengan rentang usia antara 21-22 tahun.
Studi ini menggunakan kerangka pemikiran yang melihat dunia digital bukanlah dunia abstrak sehingga artefak digital memiliki agensi dan dunia digital harus dipelajari dalam konteksnya. Perbedaan sosial-budaya dan konsep diri yang relasional mengonstruksikan batas privasi yang dinamis. Dari hasil studi, ditemukan bahwa informan memiliki pemahaman terhadap batas privasi yang berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh tiga dimensi budaya, yaitu pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan. Berdasarkan hasil temuan, penggunaan data pribadi juga membawa dua pemaknaan berbeda, yakni data pribadi sebagai syarat dan gambaran diri.
Sementara itu, terdapat paradoks antara sikap dengan perilaku berbagi data pribadi yang berkaitan dengan penilaian risiko sebagai konstruksi sosial-budaya. Nilai-nilai budaya kolektif yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia telah memengaruhi pengambilan risiko yang berkaitan dengan penerimaan bersama. Oleh karenanya, studi ini menunjukkan bahwa praktik berbagi data pribadi pada mahasiswa di dunia digital merupakan sebuah praktik yang melibatkan proses negosiasi dengan mempertimbangkan batas privasi dan risiko yang bersifat kultural.
Digital transformation has altered structural aspects of human life. The presence of the digital world encourages the values creation and increased digital participation. However, digital participation poses risks that threaten human life. One of these risks is cyber threats to personal data security. This research aims to understand the practice of sharing personal data in the digital spaces among students as a socio-cultural practice.
This research employs qualitative research methods. Primary data was collected through in-depth interviews with four students who actively participate in digital spaces, and are from different educational backgrounds. Two were female students and two were male students between 21 and 22 years old.
This research adopts a framework that views the digital spaces as a material world, where digital artifacts have agency and the digital world must be examined within its context. Socio-cultural differences and relational self-concepts construct dynamic privacy boundaries. The findings reveal that the informants have different perceptions of privacy boundaries. These differences were influenced by three cultural dimensions: knowledge, experience, and belief. Based on these findings, personal data has two different meanings: as a requirement and as a representation of the self.
Furthermore, there is a paradox between attitudes and behaviors related to sharing personal data, which associated with risk assessment as a socio-cultural construct. Collective cultural values that have developed within Indonesian society have influenced risk-taking related to mutual acceptance. Therefore, this research shows that sharing personal data in the digital spaces among students negotiates cultural privacy and risk.
Kata Kunci : Data pribadi, privasi digital, risiko siber, transformasi digital, partisipasi digital