Persebaran Kasus Kusta Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2020–2024
Adelia Fitri Kusumadewi, Marko Ferdian Salim, S.KM., M.P.H.
2025 | Tugas Akhir | D4 MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN
Latar Belakang: Kusta adalah penyakit infeksi kronis akibat Mycobacterium leprae
yang bisa menyebabkan kecacatan. Indonesia termasuk negara dengan kasus kusta
tertinggi di dunia, dan Kabupaten Gunungkidul mencatat jumlah kasus tertinggi
di Provinsi DIY dalam dua tahun terakhir.
Tujuan: Menganalisis persebaran kasus kusta dengan menggunakan Sistem Informasi
Geografis di Kabupaten Gunungkidul tahun 2020 – 2024.
Metode: Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif dan desain
cross-sectional secara ekologi. Populasi penelitian adalah seluruh penderita
kusta dengan teknik total sampling sebanyak 72 kasus yang ada di Kabupaten
Gunungkidul. Penelitian dilakukan dari Februari sampai Juli 2025. Variabel
bebas mencakup faktor demografi dan lingkungan, sedangkan variabel terikat
adalah jumlah kasus kusta.
Hasil: Selama 2020–2024, kasus kusta di
Kabupaten Gunungkidul berfluktuasi, dengan lonjakan tertinggi pada 2023 dan
2024. Kecamatan Girisubo, Karangmojo, dan Patuk sering mencatat kasus tinggi.
Persebaran kasus bersifat acak dan tidak berpola tetap. Faktor lingkungan seperti
kepadatan penduduk, suhu, dan kelembaban diduga berpengaruh, sementara
fasilitas kesehatan tampaknya kurang berperan. Pendidikan rendah dan status
ekonomi juga turut memengaruhi. Karena itu, intervensi lintas sektor seperti
penyuluhan, pemerataan layanan, dan dukungan sosial perlu ditingkatkan.
Penelitian selanjutnya disarankan memakai data koordinat rumah penderita dan
wawancara langsung agar analisis spasial lebih akurat.
Kesimpulan : Dinas Kesehatan perlu
memperkuat upaya pencegahan di wilayah berisiko melalui edukasi, layanan
merata, dan dukungan sosial. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan data
lokasi penderita dan pendekatan langsung agar hasil lebih akurat dan representatif.
Background: Leprosy is a chronic infectious disease
caused by Mycobacterium leprae, which can cause disability. Indonesia ranks
among the countries with the highest leprosy cases globally, with Gunungkidul
Regency reporting the highest number in the DIY over the past two years.
Objective: To analyze the spatial distribution of leprosy cases using Geographic
Information Systems in Gunungkidul
Regency from 2020 to 2024.
Methods: This
study employed a quantitative descriptive approach with a cross-sectional ecological
design. The study population consisted of all leprosy patients in Gunungkidul
Regency, using a total sampling technique with 72 recorded cases. The research
was conducted from February to July 2025. The independent variables included
demographic and environmental factors, while the dependent variable was the
number of leprosy cases.
Results: From 2020 to 2024, leprosy cases in
Gunungkidul Regency fluctuated, with peaks in 2023 and 2024. Girisubo,
Karangmojo, and Patuk sub-districts frequently reported high numbers. The
distribution appeared random, without a consistent pattern. Environmental
factors like population density, temperature, and humidity may influence the
spread, while healthcare facilities seem less impactful. Low education and
economic status also played a role. Thus, cross-sector efforts such as health
education, equitable services, and social support should be strengthened.
Future studies should use patient residence coordinates and direct interviews to
enhance spatial analysis accuracy.
Conclusion: The
Health Office needs to strengthen prevention efforts in high-risk areas through
education, equitable services, and social support. Further research is
recommended to use patient location data and direct approaches to obtain more
accurate and representative results.
Kata Kunci : SIG, LISA, Global Moran’s I, Kusta