Laporkan Masalah

Pemetaan Wilayah Prioritas Intervensi Stunting Berdasarakan Faktor Sanitasi Total di Kabupaten Gunungkidul

Danniel Immanuelle Kristo Joaan, Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si.

2025 | Tugas Akhir | D4 SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dari standar usianya. Stunting disebabkan oleh beberapa fakor determinan, salah satunya adalah sanitasi. Sanitasi berhubungan langsung dengan kesehatan lingkungan yang dapat memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat. Dampak dari tingkat sanitasi yang rendah dapat menjadi media transmisi penularan penyakit dan dapat berkontribusi pada stunting. Kasus prevalensi stunting di Kabupaten Gunungkidul sebesar 14.37% masih tergolong tinggi sehingga diperlukan untuk intervensi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Intervensi merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana untuk merubah perilaku atau mencegah memburuknya suatu keadaan. Dalam menentukan daerah prioritas intervensi stunting berdasarkan faktor sanitasi dibutuhkan pemetaan dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode Overlay dan skoring digunakan untuk membantu mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi stunting berdasarkan faktor sanitasi total. Data analisis tersebut kemudian dilakukan visulisasi data dan ditampilkan pada dashboard STUNISASI : Stunting dan Sanitasi Kabupaten Gunungkidul. Melalui hasil analisis, dapat disimpulkan terdapat 36 kalurahan menjadi Prioritas I, 58 kalurahan menjadi Prioritas II, 9 kalurahan menjadi Prioritas III, dan 11 kalurahan menjadi Prioritas IV.  

Stunted is a growth disorder in toddlers caused by chronic malnutrition, characterized by a height shorter than the standard for their age. Stunted is caused by several determining factors, one of which is sanitation. Sanitation is directly related to environmental health, which can affect the level of public health. Low sanitation levels can serve as a medium for disease transmission and contribute to stunted. The prevalence of stunted in Gunungkidul District stands at 14.37%, which is still considered high, necessitating intervention for further management. Intervention refers to systematic and planned activities aimed at changing behavior or preventing the worsening of a condition. In determining priority areas for stunted interventions based on sanitation factors, mapping using Geographic Information System (GIS) applications is required. Overlay and scoring methods are used to help identify priority areas for stunted interventions based on total sanitation factors. The analysis data is then visualized and displayed on the STUNISASI dashboard: Stunted and Sanitation in Gunungkidul District. Based on the analysis results, it can be concluded that 36 villages are classified as Priority I, 58 villages as Priority II, 9 villages as Priority III, and 11 villages as Priority IV. 

Kata Kunci : Stunting, Sanitasi Total, Intervensi, Overlay, Skoring

  1. D4-2025-474597-abstract.pdf  
  2. D4-2025-474597-bibliography.pdf  
  3. D4-2025-474597-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2025-474597-title.pdf