ANALISIS LAJU SEDIMENTASI WADUK GAJAH MUNGKUR MENGGUNAKAN METODE MUSLE (MODIFIED UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION)
Feni Kusuma Maharani, Dr. Ir. Bambang Kun Cahyono, S.T., M.Sc., IPU
2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Waduk Gajah
Mungkur menghadapi masalah sedimentasi tinggi yang dapat mengancam usia dan
fungsi dari waduk tersebut. Penurunan kapasitas waduk yang cukup signifikan
dengan tampungan awal pembangun di tahun 1980-an sebesar 560 juta m3 mengalami
penurunan menjadi 365 m3 di tahun 2020. Sedimentasi yang mengendap
mengakibatkan pendangkalan waduk yang selanjutnya dapat mengurangi kapasitas
tampungan waduk dan kemampuan waduk dalam irigasi, pembangkit listrik, dan
pengendalian banjir. Oleh karena itu, perlu adanya upaya strategis monitoring
sedimen secara berkala. Tujuan dari
penelitian ini adalah menganalisis laju sedimentasi menggunakan metode Modified
Universal Soil Loss Equation (MUSLE) dan metode Angkutan Sedimen.
Perkiraan
laju sedimentasi dapat dilakukan dengan metode MUSLE yang
mempertimbangkan parameter limpasan permukaan, erodibilitas tanah, penggunaan
lahan, dan kemiringan lereng. Data yang digunakan adalah DEMNAS, Sentinel-2A
untuk klasifikasi lahan menggunakan Random Forest, data jenis tanah, dan curah
hujan dari pos curah hujan (PCH) serta satelit CHIRPS untuk parameter limpasan
permukaan. Sehingga didapatkan dua hasil akhir yaitu MUSLE PCH dan MUSLE
CHIRPS. Perhitungan parameter tertimbang dilakukan untuk mendapatkan nilai
sedimen secara umum pada setiap subdas. Seluruh nilai parameter dilakukan
overlay untuk mendapatkan nilai laju sedimentasi metode MUSLE. Selain itu,
pengambilan sampel air pada aliran sungai dilakukan untuk mendapatkan nilai
konsentrasi sedimen dan debit sedimen masuk metode Angkutan Sedimen. Hasil laju
sedimentasi metode Angkutan Sedimen akan digunakan sebagai nilai validasi
terhadap perhitungan MUSLE PCH dan MUSLE CHIRPS.
Berdasarkan hasil penelitian, laju
sedimentasi metode MUSLE PCH dan MUSLE CHIRPS memiliki selisih sebesar
400.471,09 m3/tahun. Perbedaan nilai laju sedimentasi metode MUSLE
dikarenakan nilai curah hujan dari pos curah hujan dan CHIRPS yang berbeda.
Namun, nilai curah hujan dari keduanya memiliki korelasi yang kuat. Nilai curah
hujan berpengaruh pada besar limpasan permukaan yang menjadi faktor paling
berpengaruh pada perhitungan laju sedimentasi metode MUSLE. Pada Angkutan
Sedimen, curah hujan menjadi faktor pendukung besarnya debit air yang masuk
membawa konsentrasi sedimen. Validasi hasil MUSLE terhadap Angkutan Sedimen menunjukkan
hasil MUSLE PCH lebih baik dibandingkan MUSLE CHIRPS, dengan hasil MUSLE PCH
uji R2 sebesar 0,7767 (tinggi) dan NSE 0,73969 (baik).
Sementara, MUSLE CHIRPS uji R2 sebesar 0,6746 (sedang) dan NSE
0,6290 (memenuhi). Sub-DAS Keduang menjadi subdas paling besar menyumbang
sedimentasi ke Waduk Gajah Mungkur.
The Gajah Mungkur Reservoir is facing a severe
sedimentation problem that threatens both its lifespan and functions. The
reservoir’s storage capacity has significantly declined, from the original 560
million m³ at its construction in the 1980s to 365 million m³ in 2020. The
deposited sediment has caused reservoir siltation, which in turn reduces
storage capacity and affects the reservoir’s roles in irrigation, hydropower
generation, and flood control. Therefore, strategic efforts for regular
sediment monitoring are required.
The purpose of this study is to analyze the sedimentation rate using the
Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE) method and the Sediment Transport
method. Estimation of the sedimentation rate with MUSLE involves parameters
such as surface runoff, soil erodibility, land use, and slope gradient. The
data used include DEMNAS, Sentinel-2A for land classification using Random
Forest, soil type data, and rainfall data from rain gauge stations (PCH) and
CHIRPS satellite data for surface runoff parameters. These produce two final
outputs, MUSLE PCH and MUSLE CHIRPS. Weighted parameter calculations were
performed to obtain general sediment values for each sub-watershed. All
parameter values were overlaid to estimate the sedimentation rate using the
MUSLE method. In addition, river water sampling was carried out to obtain
sediment concentration and sediment discharge for the Sediment Transport
method. The sedimentation rate obtained from Sediment Transport was then used
to validate the MUSLE PCH and MUSLE CHIRPS results.
Based on the findings, the sedimentation rates calculated with MUSLE PCH
and MUSLE CHIRPS differ by 400,471.09 m³/year. This variation is mainly due to
differences in rainfall data from rain gauge stations and CHIRPS, although both
rainfall datasets show strong correlation. Rainfall values significantly affect
surface runoff, which is the most influential factor in MUSLE sedimentation
rate calculation. In the Sediment Transport method, rainfall indirectly
influences the water discharge that carries sediment concentration. Validation
of MUSLE against Sediment Transport shows that MUSLE PCH performs better than
MUSLE CHIRPS, with MUSLE PCH achieving R² = 0.7767 (high) and NSE = 0.73969
(good), while MUSLE CHIRPS achieved R² = 0.6746 (moderate) and NSE = 0.6290
(acceptable). Among all sub-watersheds, Keduang Sub-watershed contributes the
largest sediment load to Gajah Mungkur Reservoir.
Kata Kunci : angkutan sedimen, daerah aliran sungai, erosi, laju sedimentasi, MUSLE, waduk.