DAMPAK PENGURANGAN TARIF KOMODITAS PERTANIAN PADA KERJASAMA AIFTA TERHADAP PEREKONOMIAN DI INDONESIA
Muhammad Fathin Akbar, Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc.; Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadidarwanto, S.U.
2025 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)
ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) menjadi salah satu upaya dalam mendorong perekonomian melalui perdagangan bebas hambatan dengan adanya pengurangan tarif, khususnya pada komoditas pertanian di Indonesia. Namun, perdagangan bebas melalui pengurangan tarif berpotensi menimbulkan ketimpangan distribusi manfaat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, menganalisis keterkaitan antar sektor, serta mengevaluasi dampak dari pengurangan tarif komoditas pertanian pada distribusi pendapatan rumah tangga, output sektor produksi, dan kinerja perdagangan. Analisis menggunakan metode Social Accounting Matrix (SAM) melalui pendekatan multiplier Leontief menggunakan data Tabel SNSE tahun 2022 berukuran 84x84 dengan memasukkan perubahan harga dari adanya tarif sebagai injeksi. Dua skenario yang dianalisis, yaitu pengurangan tarif parsial (5%) dan penghapusan tarif (0%) pada komoditas pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi kontributor utama bagi perekonomian, dengan nilai forward linkage yang tinggi, sementara nilai backward linkage yang relatif lemah. Pengurangan tarif pertanian berdampak negatif pada output sektor pertanian dan pedagang besar dan eceran, tetapi menguntungkan sektor manufaktur, konstruksi, dan pertambangan. Dalam hal pendapatan rumah tangga, kebijakan ini memberikan dampak positif bagi rumah tangga termiskin dan terkaya, sementara kelompok rentan-menengah atas mengalami dampak negatif. Pada skala makro, kinerja perdagangan memperoleh dampak positif dari kedua skenario. Hasil ini menekankan bahwa meskipun liberalisasi tarif pertanian dapat meningkatkan perdagangan, kebijakan tersebut masih menimbulkan dampak yang tidak merata secara sektoral dan distribusional sehingga memerlukan langkah-langkah terarah untuk mendukung kelompok dan sektor yang terdampak negatif.
The
ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) represents one of the key initiatives
to stimulate economic growth through trade liberalization by reducing tariffs,
particularly on agricultural commodities in Indonesia. However, tariff
liberalization may generate unequal distributional outcomes. This study aims to
examine the agriculture sector’s contribution to the national economy, analyze
its intersectoral linkages, and assess the effects of tariff changes on household
income distribution, sectoral output, and trade performance. The study employs
a Social Accounting Matrix (SAM) framework and applies the Leontief multiplier
approach, utilizing data from the SNSE 2022 (84x84) data table. Tariff-induced
price changes are introduced as exogenous shocks, with two scenarios simulated:
a partial tariff reduction (5%) and a complete tariff elimination (0%) on
agricultural commodities. The findings reveal that agriculture remains a key
contributor to the economy, with strong forward linkages but relatively weak
backward linkages. Agricultural tariff reductions negatively affect
agricultural and wholesale-retail outputs, yet benefit manufacturing,
construction, and mining sectors. In terms of household income, the policy
yields positive effects for the poorest and wealthiest households, while the
upper-middle groups experience adverse effects. At the macro level, trade performance
improves under both scenarios. The results underscore that while agricultural tariff
liberalization can boost trade, it produces uneven sectoral and distributional
effects, warranting targeted measures to support adversely affected groups and
sectors.
Kata Kunci : pengurangan tarif, sektor pertanian, AIFTA, distribusi pendapatan, social accounting matrix