Laporkan Masalah

Peran urban farming tanaman hias terhadap pendapatan rumahtangga (Studi kasus kecamatan Mantrijeron kota Yogyakarta)

Dian Rianti Mayasari, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.

2009 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Budidaya tanaman hias merupakan kegiatan usaha yang cukup menjanjikan, karena pendapatan yang didapat dari usaha ini relatif besar dan mampu membuka peluang kerja dengan mengoptimalisasikan lahan di kota. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menjelaskan kontribusi pendapatan dari budidaya tanaman hias terhadap pendapatan rumah tangga, 2) Menjelaskan faktor produksi yang paling mempengaruhi pendapatan tanaman hias, 3) Mengetahui pengaruh tingkat perkembangan pembudidaya terhadap pendapatan rumah tangga, 4) Mengetahui perubahan pendapatan petani berkaitan dengan perubahan trend tanaman hias. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus. Responden penelitian ini adalah seluruh pembudidaya tanaman hias di Kecamatan Mantrijeron, yaitu sebanyak 72 pembudidaya. Data primer diperoleh melalui kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah tabel frekuensi untuk menjawab tujuan pertama dan keempat, teknik statistik regresi berganda untuk menjawab tujuan kedua, dan tabulasi silang untuk menjawab tujuan ketiga. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pada tahun 2008 ini budidaya tanaman hias hanya mampu memberikan sumbangan sebesar 17,81% terhadap pendapatan total rumah tangga. Hal tersebut dikarenakan telah terjadinya penurunan trend tanaman hias pada tahun 2008. Faktor produksi yang paling mempengaruhi pendapatan budidaya tanaman hias adalah bibit tanaman hias dengan koefisien 0,896. Bibit ini merupakan tanaman hias yang telah jadi maupun tanaman hias yang baru berupa bibit. Faktor tersebut menjadi yang paling berpengaruh karena pembudidaya di daerah penelitian ini lebih banyak melakukan kegiatannya hanya sebatas pembesaran / perawatan (tidak membudidayakan tanaman secara murni (pendederan atau pembibitan)). Pendapatan tanaman hias yang tinggi (Rp. 2.215.000,00 per bulan) dimiliki oleh sebagian besar pembudidaya dari kelas lanjut dengan presentase 37,04 % pembudidaya. Hal ini dikarenakan pembudidaya pada kelas lanjut telah memiliki skill dan kemampuan wirausaha yang lebih baik. Rata-rata pendapatan dari budidaya tanaman hias tertinggi dicapai pada tahun 2007 dan terendah pada tahun 2008. Pada tahun 2007 jenis tanaman hias yang mampu meningkatkan harga pasar adalah Anthurium. Dari hasil penelitian yang dilakukan, implikasi kebijakan untuk perkembangan kegiatan usaha budidaya tanaman hias kedepannya berupa pembinaan dan pelatihan kewirausahaan, sehingga peran pemerintah tidak hanya sebatas pada pembimbingan kegiatan produksi yang berupa pengenalan dan pembelajaran teknologi produksi.

-

Kata Kunci : Urban Farming, Tanaman Hias,Mantrijeron,Kotamadya Yogyakarta,DIY

  1. S1-2009-187293-Abstract.pdf  
  2. S1-2009-187293-Bibliography.pdf  
  3. S1-2009-187293-TableofContent.pdf  
  4. S1-2009-187293-Title.pdf