Laporkan Masalah

Kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa didesa Panjangrejo kecamatan Pundong kabupaten Bantul provinsi D.I.Yogyakarta

Dian Equanti, Dra. Kistini, M.S.; Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A.

2009 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Gempa yang melanda Yogyakarta tahun 2006 telah menyebabkan lumpuhnya kegiatan industri kecil khususnya di Kabupaten Bantul sebagai daerah dengan kerusakan terparah. Salah satu industri kecil yang banyak menyerap tenaga kerja yang juga turut menjadi korban adalah industri gerabah di Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi industri gerabah pasca gempa, mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa dan pendapatan usaha industri gerabah pasca gempa. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panjangrejo dengan metode survei. Responden penelitian ini adalah pengusaha gerabah yang aktif menjalankan produksi gerabah pasca gempa. Sampel yang diambil sebanyak 60 pengusaha gerabah. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan tabulasi silang untuk menjelaskan kondisi dan karakteristik industri gerabah. Metode skoring dipakai untuk menilai kelangsungan usaha yang merupakan skor total nilai produksi dan skor waktu bangkit pasca gempa. Kelangsungan usaha dikategorikan menjadi tiga, yaitu "baik", "sedang", dan "buruk". Industri gerabah di Desa Panjangrejo terdiri dari produksi gerabah tradisional dan keramik. Sebagian besar unit industri rusak berat atau roboh akibat gempa. Lebih dari 90 persen unit usaha mampu bangkit kurang dari I tahun pasca gempa dengan nilai produksi rata-rata sebesar Rp1.378.333 per bulan. Hasil penelitian menunjukkan 21,7 persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha baik, 60 persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha sedang, dan 18,3 persen memiliki kelangsungan usaha buruk pasca gempa. Sebanyak 32,4 persen unit usaha mengalami penurunan nilai produksi sebesar 40 80 persen dibanding nilai produksi sebelum gempa. Penyaluran kredit bagi usaha kecil cukup membantu pengusaha dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Ini dibuktikan dengan persentase kelangsungan usaha kategori baik yang lebih tinggi pada pengusaha yang memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar 30,4 persen dibanding mereka yang tidak memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar 16,2 persen. Rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh industri gerabah adalah Rp755.000 per bulan, dengan lebih dari sepertiga unit usaha memperoleh pendapatan kurang dari Rp500.000 per bulan.

-

Kata Kunci : gerabah, gempa, pendapatan bersih,Pundong,Bantul,DIY

  1. S1-2009-139426-Abstract.pdf  
  2. S1-2009-139426-Bibliography.pdf  
  3. S1-2009-139426-TableofContent.pdf  
  4. S1-2009-139426-Title.pdf