Studi Litofasies dan Mekanisme Sedimentasi Anggota Mangli Bagian Bawah–Tengah Formasi Kebo-Butak pada Jalur Bundelan di Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
IBROHIM, Ir. Moch. Indra Novian, S.T., M.Eng.,IPP. dan Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko,S.T.,M.Eng.,IPM.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Anggota Mangli Formasi Kebo-Butak merupakan
salah satu dari tiga anggota penyususu Formasi Kebo-Butak. Salah satu
singkapan formasi ini berada di sepanjang Jalur Bundelan yang berada di Desa
Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Penelitian dilakukan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan
mekanisme sedimentasi batuan di daerah penelitian. Metode yang digunakan berupa pengukuran stratigrafi yang didukung
dengan analisis petrografi untuk mengetahui komposisi mineral secara
mikroskopis dan analisis paleontologi untuk mengetahui umur batuan dan
paleobatimetri. Penelitian ini menggunakan aspek geometri, litologi, struktur
sedimen, dan fosil sebagai parameter pembagian litofasies. Daerah penelitian
tersusun oleh 9 litofasies, yaitu plane-stratified massive sand-mud couplets
(smSM), plane-stratified graded sand-mud couplets (sgSM), plane-stratified
massive mud-sand couplets (smMS), plane-stratifed laminated sand-mud
couplets (slSM), cross-stratified massive gravel sand couplets (xm2GS), massive
gravel (m2G), plane-stratified laminated mud-sand couplets
(slMS), laminated gravelly sand (lGyS) dan massive gravelly sand
(m1GyS). Lingkungan pengendapan berada pada upper– middle fan
dengan sub lingkungan pengendapan distal levee, kemudian mengalami
perubahan menjadi distal silt-mud
lobe yang diikuti dengan kenaikan muka air laut serta jarak cekungan
pengendapan yang semakin jauh dari sumber suplai sedimen, kemudian mengalami
perubahan menjadi debris-slump masses akibat penurunan muka air laut
serta penambahan material sedimen yang berlebihan. Selanjutnya lingkungan
pengendapan pengendapan mengalami perubahan menjadi channel yang
terbentuk akibat suplai material kasar
yang melimpah serta dekat dengan sumber material sedimen. Kemudian berubah
menjadi sandy lobe yang terbentuk
oleh adanya penurunan energi aliran turbidit saat sedimen keluar.Selanjutnya
lingkungan pengendapan berubah menjadi distributary
channel yang terbentuk akibat meningkatnya suplai material kasar dan
kemudian terubah menjadi Silty Sandy Distal Lobe yang disebabkan oleh adanya penurunan drastis
energi aliran dan kapasitas transportasi sedimen. Dari analisis paleontologi menunjukkan umur
N7 – N8 pada Jalur Bundelan. Proses pengendapan pada lokasi penelitian diawali
dengan proses settling dari suspensi (suspension settling) dari aliran
turbidit yang telah kehilangan sebagian besar energinya pada AF-1. Selanjutnya
berubah menjadi density flow
dengan suplai sedimen yang tinggi, lalu menjadi arus turbidit kembali
dengan energi dan suplai sedimen yang lemah dengan suplai sedimen yang menurun
berkembang pada AF-2. Selanjutnya menjadi debris flow yang berkembang
pada AF-3. arus turbidit yang pekat dan berkecepatan tinggi, yang mampu membawa
beban sedimen yang sangat besar pada AF-4. Selanjutnya mekanisme sedimentasi
berubah menjadi arus high density current pada AF-5. Selanjutnya mekanisme
pengendapan berubah menjadi transportasi
high density flow pada AF-6. Selanjutnya mekanisme sedimentasi berubah
menjadi peralihan arus dari density flow yang mengendapkan paket paket
pengendapan sedimen melambat dan terhenti menjadi turbidity flow pada AF-7.
The Mangli Member of the Kebo-Butak Formation is
one of the three members that compose the Kebo-Butak Formation. One of the
outcrops of this formation is located along the Bundelan Route in Tancep
Village, Ngawen District, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region
Province. The research was conducted to determine the depositional environment
and sedimentation mechanisms of the rocks in the study area. The methods used
include stratigraphic measurement supported by petrographic analysis to
identify mineral composition microscopically, as well as paleontological
analysis to determine the rock age and paleobathymetry. This study applies
geometry, lithology, sedimentary structures, and fossils as parameters for
lithofacies division. The study area consists of nine lithofacies:
plane-stratified massive sand-mud couplets (smSM), plane-stratified graded
sand-mud couplets (sgSM), plane-stratified massive mud-sand couplets (smMS),
plane-stratified laminated sand-mud couplets (slSM), cross-stratified massive
gravel-sand couplets (xm2GS), massive gravel (m2G),
plane-stratified laminated mud-sand couplets (slMS), laminated gravelly sand
(lGyS), and massive gravelly sand (m1GyS).The depositional
environment is interpreted as an upper–middle fan with sub-environments
starting from a distal levee, then shifting into a distal silt-mud lobe,
accompanied by sea-level rise and increasing distance of the depositional basin
from the sediment supply source. Subsequently, it evolved into debris-slump
masses due to sea-level fall and excessive sediment input. The depositional
setting later changed into a channel formed by abundant coarse material supply
and proximity to the sediment source. This was followed by the development of a
sandy lobe, resulting from a decrease in turbidity current energy as sediment
was released. Later, the environment shifted into a distributary channel due to
increased coarse material input, and then transformed into a Silty Sandy Distal
Lobe caused by a drastic decrease in flow energy and sediment transport
capacity. Paleontological analysis indicates an age range of N7–N8 along the
Bundelan Route. The depositional processes in the study area began with
suspension settling of turbidite flows that had already lost most of their
energy (AF-1). This was followed by density flow deposition with high sediment
supply, then returned to weak turbidite flows with reduced sediment supply,
represented in AF-2. The process then shifted into debris flow in AF-3.
High-concentration and high-velocity turbidite currents capable of transporting
very large sediment loads occurred in AF-4. Subsequently, sedimentation
mechanisms evolved into high-density currents in AF-5, followed by high-density
flow transport in AF-6. Finally, the mechanism transitioned into turbidity
flows again in AF-7, as density flows deposited successive sediment packages
that gradually decelerated and ceased.
Kata Kunci : Sedimentologi, Litofasies, Lingkungan Pengendapan, Mekanisme Sedimentasi