Laporkan Masalah

Makna Merantau bagi Para Perantau Minangkabau di Yogyakarta

Delta Fera Apriani, Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Dahulu, praktik merantau dominan dilakukan oleh anak laki-laki pada usia produktif karena adanya dorongan secara kultur untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kenyataan saat ini menunjukkan adanya kecenderungan yang berbeda, di mana anak muda yang merantau lebih terbuka, pergerakannya semakin luas, pergi tanpa tujuan menetap, hingga mobilitas menjadi bagian dari gaya hidup dan keseharian yang didukung oleh kemudahan akses transportasi dan komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk menggali pengalaman merantau para perantau Minangkabau, mulai dari motivasi, adaptasi, hingga pemaknaan dari praktik merantau itu sendiri. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori looking glass-self dari Charles Horton Cooley yang dilengkapi oleh teori negosiasi identitas Stella Ting-Toomey, teori mobilitas dengan konsep pendukung rooted cosmopolitanism. Penelitian ini menemukan adanya pergeseran faktor pendorong praktik merantau, dari motivasi ekonomi dan penolakan citra diri negatif pada perantau generasi lama menjadi dorongan relasi sosial untuk pendidikan pada perantau generasi baru. Sistem kekerabatan matrilineal juga berperan signifikan dengan konsekuensi yang bertolak belakang bagi laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki, sistem ini menjadi faktor pendorong kuat untuk pergi akibat keterbatasan hak, sementara bagi perempuan, status istimewa yang diberikan justru menjadi kontrol sosial yang membatasi mobilitas mereka sekalipun di era modern. Terkait proses adaptasi, para perantau umumnya berhasil menyesuaikan diri dengan baik, namun tetap tidak luput dari berbagai tantangan. Dalam mengatasi tantangan tersebut, mereka secara aktif menerapkan beragam strategi dan negosiasi demi mengatasi gesekan yang muncul. Lebih lanjut, pemaknaan terhadap praktik merantau dalam penelitian ini dibagi ke dalam empat kategori: pertama, merantau sebagai sebuah keharusan bagi laki-laki; kedua, merantau sebagai batu loncatan; ketiga, merantau sebagai evolusi kehidupan dan sumber ilmu; keempat, merantau sebagai ajang pembuktian diri. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan adanya pergeseran pada makna merantau meski tidak signifikan. Selain itu, praktik merantau di era kontemporer juga telah mengalami pergeseran positif ke arah mobilitas.

Traditionally, the practice of merantau was predominantly undertaken by young men of productive age, driven by cultural expectations to seek a better life. Current realities, however, show a different trend, where young migrants are more open, their movements are more extensive, they leave without the intention of settling permanently, and mobility has become a part of their lifestyle and daily life, supported by the ease of access to transportation and communication. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach, aiming to explore the merantau experiences of Minangkabau migrants, from their motivations and adaptations to the meaning they attribute to the practice itself. The research is analyzed using Charles Horton Cooley's looking-glass self theory, complemented by Stella Ting-Toomey's identity negotiation theory and mobility theory, supported by the concept of rooted cosmopolitanism. This study finds a shift in the push factors for the practice of merantau, from the economic motivations and rejection of a negative self-image among the older generation of migrants to the influence of social relations for educational purposes among the new generation. The matrilineal kinship system also plays a significant role, with opposing consequences for men and women. For men, this system becomes a strong push factor to leave due to limited rights, whereas for women, the special status granted to them conversely becomes a form of social control that restricts their mobility, even in the modern era. Regarding the adaptation process, the migrants generally adapt successfully but are not without various challenges. To overcome these challenges, they actively apply diverse strategies and negotiations to manage the friction that arises. Furthermore, the meaning attributed to the practice of merantau in this research is divided into four categories: first, merantau as a necessity for men; second, merantau as a stepping stone; third, merantau as a life evolution and a source of knowledge; and fourth, merantau as a means of self-proving. The findings of this study indicate a shift in the meaning of merantau, although not a significant one. Additionally, the contemporary practice of merantau has undergone a positive shift towards mobility.

Kata Kunci : Merantau, Perantau Minangkabau, Makna, Identitas, Mobilitas

  1. S1-2025-472997-abstract.pdf  
  2. S1-2025-472997-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-472997-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-472997-title.pdf