Laporkan Masalah

REPRESENTASI KONFLIK KOMUNIKASI KELUARGA DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP (Analisis Semiotika Christian Metz terhadap Representasi Anak Pertama)

Wisda Fatihur Rozi, Novi Kurnia, M.Si., M.A., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi

Abstrak

Penelitian ini mengangkat konteks komunikasi keluarga dari sudut pandang representasi media yaitu film sebagai teks budaya. Ini menjadi penting karena studi komunikasi keluarga dalam Ilmu Komunikasi selama ini lebih banyak berbasis pada pendekatan empiris seperti observasi keluarga nyata, survei, dan wawancara. Pendekatan tersebut memang penting, namun memiliki keterbatasan dalam menggali lapisan-lapisan simbolik dan ideologis yang lebih dalam. Penelitian ini memperluas ruang analisis komunikasi dari sekadar interaksi nyata menjadi konstruksi wacana dan nilai melalui simbol visual, narasi, dan struktur dramatik yang dikemas dalam media populer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konflik komunikasi keluarga khususnya peran anak pertama direpresentasikan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap (2022) garapan sutradara Bene Dion Rajagukguk. Fokus utama penelitian ini adalah reprsentasi konflik komunikasi keluarga Domu sebagai anak pertama dalam keluarga Batak yang mengalami tekanan budaya dan ekspektasi keluarga berkaitan dengan nilai adat, pernikahan, dan tanggung jawab keturunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika film menurut Christian Metz yang menelaah struktur sintagmatik (alur dan urutan adegan) dan paradigmatik (pemilihan tanda visual dan simbolik) dalam film. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap film dengan  enam adegan yang dipilih yang merepresentasikan konflik, dialog, dan simbol komunikasi keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa repsentasi komunikasi keluarga antara ayah dan anak dalam keluarga Batak dalam film ini cenderung bersifat hierarkis, pasif-agresif, dan minim ekspresi afeksi terhadap anak laki-laki. Domu mengalami konflik internal antara memenuhi tuntutan keluarga dan menjalani pilihan hidupnya sendiri. Melalui tanda-tanda sinematik seperti gestur, dialog, pencahayaan, dan penataan ruang. Film ini menyampaikan pesan mengenai perubahan nilai dalam konflik komunikasi keluarga modern dan transformasi komunikasi dari otoritarian ke arah dialog yang lebih terbuka dan seimbang dalam representasi film. Penelitian ini menjadi kajian komunikasi keluarga khususnya dalam memahami bagaimana dinamika konflik komunikasi, peran anak pertama, dan konflik nilai tradisional modern direpresentasikan melalui media populer film.


Kata kunci: komunikasi keluarga, anak pertama, semiotika Christian Metz, film Ngeri-Ngeri Sedap, budaya Batak

Abstract

This research explores the context of family communication through the lens of media representation, particularly film as a cultural text. This perspective is significant because studies on family communication within the field of Communication Science have predominantly relied on empirical approaches such as observation of real families, surveys, and interviews. While those approaches are important, they often fall short in uncovering the deeper symbolic and ideological layers embedded within interpersonal communication. This study expands the scope of communication analysis beyond actual interaction toward the construction of discourse and values through visual symbols, narrative, and dramatic structures encoded in popular media. The aim of this research is to analyze how family communication conflict particularly the role of the firstborn child is represented in the Indonesian film Ngeri-Ngeri Sedap (2022), directed by Bene Dion Rajagukguk. The central focus of this study is the representation of communication conflict within the Batak family, specifically through the character Domu, the eldest son, who faces cultural pressure and family expectations related to customary values, marriage, and generational responsibility. This study adopts a descriptive qualitative approach and employs Christian Metz’s film semiotic theory, which examines both the syntagmatic structure (narrative flow and sequence of scenes) and paradigmatic structure (selection of visual and symbolic signs) within the film. Data were collected through direct observation of the full-length Netflix version of the film, with six selected scenes that represent key moments of conflict, dialogue, and symbolic communication within the family. The findings show that the representation of communication between father and son in the Batak family is predominantly hierarchical, passive-aggressive, and lacking in emotional expression, particularly toward male children. Domu is portrayed as experiencing an internal conflict between fulfilling his family’s expectations and pursuing his personal life choices. Through cinematic signs such as gesture, dialogue, lighting, and spatial composition, the film conveys a message of shifting values in modern family communication conflict and illustrates a transformation from authoritarian patterns toward more open and balanced dialogue, as represented through filmic language. This research contributes to family communication studies by offering insights into how the dynamics of communication conflict, the role of the firstborn, and the tension between traditional and modern values are represented through the medium of popular film.

 

Keywords: family communication, firstborn child, Christian Metz semiotics, Ngeri-Ngeri Sedap film, Batak culture

Kata Kunci : Kata kunci: komunikasi keluarga, anak pertama, semiotika Christian Metz, film Ngeri-Ngeri Sedap, budaya Batak

  1. S2-2025-486103-abstract.pdf  
  2. S2-2025-486103-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-486103-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-486103-title.pdf