Laporkan Masalah

Decolonizing Queer Religiosities: From Pesantren to Pride and Resilience of Three Queer Muslims and an Ally’s Narratives

Nanda Tsani Azizah, Dr. Jonathan Davis Smith; Dr. Katrin Bandel

2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Intisari

Tesis ini mengeksplorasi pengalaman hidup dan religiositas queer dari empat individu yang mengidentifikasi diri sebagai queer maupun sekutu dengan latar belakang pesantren di Indonesia. Berada pada persimpangan gender, seksualitas, dan agama, penelitian ini menyelidiki bagaimana Muslim queer dari Global South menegosiasikan visibilitas, resiliensi, dan pride dalam kaitannya dengan narasi serta gerakan LGBTQ+ yang didominasi Barat. Dengan menggunakan wawancara naratif bersama Ji, Ro, Durga, dan Fik, penelitian ini mengadopsi pendekatan maieutik dan dekolonial terhadap penceritaan sebagai metode sekaligus epistemologi.

Bagian pertama tesis mengkritisi wacana global tentang Pride dengan menunjukkan bagaimana Muslim queer menavigasi posisi marginal mereka di dalam politik visibilitas LGBTQ+ arus utama dan kapitalisme pelangi. Alih-alih mengekspresikan diri secara publik secara terang-terangan, para partisipan menegaskan identitas mereka melalui penceritaan intim, reinterpretasi spiritual, dan rekonstruksi etika Islam. Bagian kedua menganalisis narasi kehidupan para partisipan sebagai santri queer, menyoroti bagaimana ruang pesantren—yang sering dipandang heteronormatif dan represif—juga dikenang sebagai ruang pembentukan etika, perlawanan, dan solidaritas relasional. Bagian terakhir memperkenalkan konsep religiositas queer untuk menggambarkan bagaimana para partisipan mewujudkan spiritualitas hidup yang non-normatif, yang sekaligus mengganggu sekularisme Barat dalam teori queer dan otoritas patriarkal dalam diskursus Islam.

Dengan memusatkan suara Muslim queer, tesis ini berkontribusi pada upaya dekolonisasi teori queer dan studi agama. Tesis ini menantang kerangka akademik dominan yang memarginalkan identitas queer berbasis iman dan menawarkan epistemologi alternatif yang berakar pada etika relasional, interseksionalitas, serta kritik pascakolonial. Kisah para partisipan mengungkap bahwa keberadaan queer dan Islam bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan sumber-sumber yang saling terkait dalam membangun keberlangsungan hidup, rasa memiliki, dan pengetahuan.

Abstract

This thesis explores the lived experiences and queer religiosities of four queer-identifying and allied individuals with pesantren (Islamic boarding school) backgrounds in Indonesia. Situated at the intersection of gender, sexuality, and religion, the study investigates how queer Muslims from the Global South negotiate visibility, resilience, and pride in relation to Western-dominated LGBTQ+ narratives and movements. Drawing on narrative interviews with Ji, Ro, Durga, and Fik, this research adopts a maieutic and decolonial approach to storytelling as both method and epistemology.

The first part of the thesis critiques global Pride discourse by showing how queer Muslims navigate marginality within mainstream LGBTQ+ visibility politics and rainbow capitalism. Instead of overt public expression, participants assert their identities through intimate storytelling, spiritual reinterpretation, and the reclamation of Islamic ethics. The second part analyzes the participants’ life narratives as queer santri, highlighting how pesantren spaces—often seen as heteronormative and repressive—are also remembered as sites of ethical formation, resistance, and relational solidarity. The final part introduces the concept of queer religiosities to describe how participants embody a lived, non-normative spirituality that disrupts both Western secularism in queer theory and patriarchal authority in Islamic discourse.

By foregrounding the voices of queer Muslims, this thesis contributes to the decolonization of queer theory and religious studies. It challenges dominant academic frameworks that marginalize faith-based queer identities and offers alternative epistemologies rooted in relational ethics, intersectionality, and postcolonial critique. The participants’ stories reveal that queerness and Islam are not opposing forces, but intertwined sources of survival, belonging, and knowledge.


Kata Kunci : Queer Muslims, Pride politics, pesantren, queer religiosity, decolonial theory, narrative method, intersectionality, LGBTQ+ in Indonesia, religious studies, queer theory, storytelling.

  1. S2-2025-514219-abstract.pdf  
  2. S2-2025-514219-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-514219-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-514219-title.pdf