Laporkan Masalah

Tajen: Daulat Wacana Kebalian dan Keindonesiaan

I Wayan Damuna Suga Bhawanta, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A

2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Penelitian ini mendalami Tajen, praktik sabung ayam di Bali untuk menguak paradoks "illegal but legitimate" dalam koeksistensi nationhood Kebalian dan statehood Keindonesiaan. Bagi nilai Keindonesiaan, Tajen merupakan praktik ilegal sebab bertentangan dengan hukum positif nasional, namun pada sisi yang berbeda, nilai Kebalian justru memberi ruang pengakuan dan legitimasi atas pelaksanaannya. Koeksistensi ini memberi ruang terhadap sengketa wacana dalam rangka merebut kedaulatan status hegemoni-ialah status yang dibayangkan oleh Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe sebagai perluasan jangkauan wacana untuk menjadi yang universal (Laclau&Mouffe, 1985). Meminjam teori kontestasi wacana Laclau dan Mouffe, penelitian akan menganalisis proyek hegemoni Tajen dalam ruang Kebalian untuk menggapai daulat wacana. Penelitian ini menemukan bahwa melalui operasi diskursif, Tajen berhasil, menjadi nodal point yang dirujuk oleh beragam entitas partikular tentang praktik beragama, budaya, adat, dan pemberdayaan ekonomi yang mengitari wacana Kebalian. Ketika Tajen telah berhasil menghegemoni Kebalian, selanjutnya watak antagonismenya dapat ditentukan. Kebalian nyatanya tengah berhadap-hadapan dengan Keindonesiaan yang diisi oleh wacana hukum positif nasional. Pertarungan yang terjadi sekaligus menunjukkan bekerjanya logika perbedaan (logic of deference) dan logika persamaan (logic of equivalence) secara bersamaan. Bekerjanya kedua logika tersebut mengendapkan suatu sedimentasi makna yang berlapis-lapis. Saya mengajukan pembacaan yang lebih komprehensif atas lapis-lapis sedimentasi ini dengan menggunakan 'logika kue lapis'. Di mana setiap lapisan makna, memiliki ceritanya masing-masing dan berkontribusi dalam pembentukan universalitas Tajen. Pendalaman lapisan-lapisan sedimentasi ini mengajukan sebuah gagasan tentang 'profesionalisme Tajen'. Profesionalisme Tajen merupakan jalan tengah yang mampu menjembatani ketegangan yang terjadi di antara Kebalian dan Keindonesiaan. Peneilitian ini pada akhirnya mengajukan tawaran bahwa Tajen menyiratkan perjuangan menggapai daulat wacana Kebalian. 

This research delves into Tajen, the practice of cockfighting in Bali, to unveil the "illegal but legitimate" paradox within the coexistence of Kebalian (Balinese nationhood) and Keindonesiaan (Indonesian statehood). From the perspective of Keindonesiaan values, Tajen is an illegal practice as it contradicts national positive law. Conversely, Kebalian values provide space for its recognition and legitimacy. This coexistence opens up a discursive struggle to seize a hegemonic status of sovereignty-a status envisioned by Ernesto Laclau and Chantal Mouffe as the expansion of a discourse's reach to become universal (Laclau&Mouffe, 1985). Borrowing  from Laclau and Mouffe's theory of discursive contestation, this study analyzes Tajen's hegemonic project within the Kebalian sphere in its pursuit of sovereignity. The research finds that through discursive operations, Tajen successfully becomes a nodal point referred to by various particular entities concerning religious practice, culture, custom, and economic empowerment within the Kebalian sphere. Once Tajen has Successfully hegemonized Kebalian, its antagonistic character becomes discernible. Kebalian demonstrably confronts  Keindonesiaan, which is defined by the discourse of national positive law. This ongoing struggle simultaneously illustrates the operation of both the logic of equivalence and the logic of difference. The interplay oh these two logics precipitates a multilayered sedimentation of meaning. I propose a more comprehensive reading of these layers of sedimentation using a 'layered cake logic', where each layer of meaning has its own narrative and contributes to the formation of Tajen's universality. A deeper exploration oh these layers of sedimentation introduces the idea of 'Tajen professionalism'. Tajen professionalism represents a middle ground capable of bridging the tensions between Kebalian and Keindonesiaan. Ultimately, this research posits that Tajen signifies a struggle to achieve Kebalian sovereignty. 

Kata Kunci : Tajen, Kebalian, Keindonesiaan, dan Daulat Wacana

  1. S2-2025-525953-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525953-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525953-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525953-title.pdf