Sosialisasi Keluarga dan Aspirasi Masa Depan Anak Narapidana di Kota Semarang
Azizah Rizqi Mufidah, Desintha Dwi Ariani, S.Sos., M.A., Ph.D
2025 | Tesis | S2 Sosiologi
Penelitian ini membahas proses sosialisasi anak narapidana dengan menekankan pada bagaimana anak-anak menavigasi hubungan, memaknai kondisi keluarganya, serta menanggapi stigma sosial yang dilekatkan pada mereka. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: bagaimana anak-anak membangun pemaknaan, strategi, dan relasi sosial ketika salah satu orang tuanya dipenjara. Melalui pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap enam informan anak narapidana di Kota Semarang, penelitian ini menemukan bahwa pengalaman anak sangat dipengaruhi oleh usia saat pemenjaraan, kualitas hubungan anak-orang tua sebelum pemenjaraan, serta pemaknaan keluarga (familial beliefs).
Faktor usia terbukti menentukan kapasitas anak dalam menavigasi diskusi dengan pihak luar; anak usia dini cenderung jujur atau bingung menjawab, sedangkan anak remaja mampu menggunakan narasi alternatif untuk melindungi identitas keluarga. Temuan penting lainnya adalah bahwa keenam anak tidak menginternalisasi label negatif dari masyarakat. Mereka melihat pemenjaraan sebagai konsekuensi dari tekanan ekonomi dan ketidakadilan hukum. Pemaknaan ini membentuk agensi mereka dalam menjaga hubungan dengan orang tua, baik melalui kunjungan atau komunikasi terbatas via telepon.
Analisis dengan teori labelling (Becker, 1963) menunjukkan bahwa label “anak narapidana” dapat memicu resistensi dan konstruksi identitas alternatif. Dengan perspektif sosiologi anak, penelitian ini memperlihatkan bahwa anak merupakan agen yang aktif dalam menafsirkan situasi, menegosiasikan makna, dan menciptakan strategi adaptif. Konsep disjunction memperkuat analisis ini, karena pemenjaraan menyebabkan keterputusan peran orang tua sehingga anak harus mengisi kekosongan tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini berargumen bahwa proses sosialisasi anak narapidana tidak bersifat linear. Anak-anak memiliki kapasitas untuk menolak label, membentuk pemaknaan baru, serta merancang strategi relasional yang sesuai dengan konteks usia, ekonomi, dan dinamika keluarga mereka.
Studi-studi di Indonesia masih menempatkan narapidana sebagai fokus kajian utama. Pemenjaraan orang tua berdampak pada identitas anak, sehingga keluarga berperan untuk mensosialisasikan perubahan kondisi keluarga akibat pemenjaraan orang tua. Penelitian ini mengembangkan kerangka PIS (Parental Incarceration Socialization) untuk mengkaji bagaimana proses sosialisasi anak dengan pemenjaraan orang tua dalam keluarga Jawa. Penelitian ini berpijak pada kepentingan dan kesejahteraan anak narapidana dengan memposisikan anak sebagai agen sosial aktif yang memiliki agensi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menangkap pengalaman anak secara mendalam dan kontekstual. Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan bahwa setiap anak mengalami proses sosialisasi yang berbeda. Beberapa dari mereka justru menunjukkan agensi ketika tidak mendapatkan proses sosialisasi pemenjaraan orang tua secara utuh. Penelitian ini juga menemukan bahwa proses sosialisasi dipengaruhi oleh persilangan identitas yakni gender, kelas sosial, dan budaya. Secara praktis, dengan mengkaji pengalaman anak narapidana secara komprehensif dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan yang sensitif anak dengan mempertimbangkan kerentanan yang dialami oleh anak secara spesifik.
Kata Kunci : Parental Incarceration Socialization, Anak Narapidana, Interseksionalitas