Persepsi Masyarakat terhadap Pengolahan Sampah Refuse Derived Fuel di Kabupaten Cilacap dalam Konsep Sustainable Development
Najla Hikmalia Dhiyaa Ulhaq, Dr. Anggi Rahajeng, S.E., M.Ec
2025 | Tugas Akhir | D4 PEMBANGUNAN EKONOMI KEWILAYAHAN
Kabupaten Cilacap menghadapi peningkatan volume sampah
dan keterbatasan lahan TPA. Untuk mengatasi hal tersebut, dibangun fasilitas Refuse
Derived Fuel (RDF) pertama di Indonesia tepatnya di Kabupaten Cilacap yang dapat
mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis persepsi masyarakat terhadap RDF Plant dalam konteks
pembangunan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah mixed methods
melalui kuesioner, observasi, dan wawancara, dengan fokus pada aspek sosial,
lingkungan, dan ekonomi. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat umumnya memiliki
persepsi positif, khususnya terhadap aspek lingkungan. Namun, polusi bau masih
menjadi keluhan. Penerimaan sosial tergolong baik, meskipun partisipasi masyarakat
masih terbatas. Manfaat ekonomi lebih dirasakan oleh
kelompok yang terlibat langsung seperti pekerja, pemulung, dan masyarakat
sekitar RDF Plant, namun belum merata ke kelompok lainnya yang tidak
terlibat secara langsung seperti RT, RW, Lurah/Perangkat Desa, dan komunitas
masyarakat. Penelitian ini menekankan
pentingnya pelibatan masyarakat dan pemerataan distribusi manfaat agar program dalam
pengolahan sampah RDF berjalan secara berkelanjutan di berbagai dimensi.
Cilacap Regency is facing an increase in waste volume and limited landfill capacity. To address this issue, the first Refuse Derived Fuel (RDF) facility in Indonesia was established in Cilacap Regency, which transforms waste into alternative fuel. This study aims to analyze community perceptions of the RDF Plant in the context of sustainable development. The research employed a mixed-methods approach through questionnaires, observations, and interviews, focusing on social, environmental, and economic aspects.The results indicate that the community generally has a positive perception, particularly regarding the environmental aspect. However, odor pollution remains a major concern. Social acceptance is relatively good, although community participation is still limited. Economic benefits are more strongly felt by groups directly involved, such as workers, scavengers, and local residents around the RDF Plant, while other groups not directly involved—such as neighborhood associations (RT, RW), village officials, and community organizations—have not yet experienced these benefits equally. This study emphasizes the importance of community engagement and equitable distribution of benefits to ensure that the RDF waste management program can operate sustainably across multiple dimensions.
Kata Kunci : Refuse Derived Fuel (RDF), persepsi masyarakat, pembangunan berkelanjutan, Pengolahan sampah.