Pemberdayaan Masyarakat melalui Wisata Negeri Kahyangan Berbasis Badan Usaha Milik Desa di Dusun Surodadi Desa Wonolelo Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang
Halimatus Sa'diyah, Ratih Ineke Wati, SP., M.Agr., Ph.D.; Dr. Ir. Roso Witjaksono, MS.
2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis tahap pemberdayaan masyarakat melalui wisata Negeri Kahyangan berbasis Badan Usaha Miliki Desa di Dusun Surodadi, Desa Wonolelo, dan 2) menganalisis peran stakeholders dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui wisata Negeri Kahyangan berbasis Badan Usaha Milik Desa di Dusun Surodadi, Desa Wonolelo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengunpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pemberdayaan masyarakat berjalan melalui tiga tahapan utama: 1) tahap penyadaran: BUM Desa melakukan sosialisasi melalui diskusi untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat akan potensi wisata di Dusun Surodadi. Tahap ini berhasil menumbuhkan partisipasi sukarela masyarakat dalam pembangunan awal wisata melalui gotong royong, 2) tahap pengkapasitasan: peningkatan kapasitas masyarakat dilakukan melalui berbagai pelatihan seperti pelatihan kuliner, manajemen keuangan, digital marketing, pelayanan, dan studi banding yang difasilitasi oleh BUM Desa, pemerintah, dan akademisi, 3) tahap pendayaan: masyarakat diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam operasional wisata sebagai karyawan dan pengelola warung UMKM. Hal ini berhasil menciptakan lapangan kerja dan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat, sehingga meningkatkan perekonomian lokal. Peran stakeholders dalam pentahelix antara lain: 1) komunitas: sebagai pelaku utama yang terlibat langsung dalam pembangunan dan operasional wisata, 2) pemerintah: BUM Desa, pemerintah desa, hingga kementerian berperan sebagai inisiator dan fasilitator berupa dukungan dana, 3) akademisi: Universitas Gadjah Mada dan Universitas Tidar berperan melakukan pengabdian masyarakat berupa pelatihan, 4) bisnis: investor dan pelaku usaha lokal (jasa jeep dan shuttle) berperan dalam penyediaan modal, fasilitas, dan layanan pendukung, 4) berbagai media massa (televisi dan radio) berperan dalam mempromosikan dan membangun citra positif Wisata Negeri Kahyangan. Secara keseluruhan, pemberdayaan masyarakat melalui Wisata Negeri Kahyangan telah berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, masyarakat belum sepenuhnya mandiri karena masih bergantung pada BUM Desa dalam pengambilan keputusan strategis.
This study aims to 1) analyze the stages of community empowerment through Negeri Kahyangan tourism based on Village-Owned Enterprises in Surodadi Hamlet, Wonolelo Village, and 2) analyze the role of stakeholders in community empowerment activities through Negeri Kahyangan tourism based on Village-Owned Enterprises in Surodadi Hamlet, Wonolelo Village. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation. The results showed that the community empowerment stage runs through three main stages: 1) awareness stage: BUM Desa conducted socialization through discussions to build the community's collective awareness of the tourism potential in Surodadi Hamlet. This stage succeeded in fostering community voluntary participation in the initial development of tourism through mutual cooperation, 2) the capacity building stage: community capacity building was carried out through various trainings such as culinary training, financial management, digital marketing, services, and comparative studies facilitated by BUM Desa, government, and academics, 3) the enrichment stage: the community was given the opportunity to be directly involved in tourism operations as employees and managers of UMKM stalls. The has succeeded in creating jobs and alternative sources of income for the community, thus improving the local economy. The roles of stakeholders in the pentahelix model include: 1) community: as the main actors directly involved in tourism development and operations, 2) government: BUM Desa, village government, and ministries act as initiators and facilitators in the form of financial support, 3) academics: Gadjah Mada University and Tidar University play a role in conducting community service in the form of training, 4) business: investors and local businesses (jeep and shuttle services) play a role in providing capital, facilities, and supporting services, 4) various mass media (television and radio) play a role in promoting and building a positive image of Wisata Negeri Kahyangan. Overall, community empowerment through Kahyangan State Tourism has succeeded in improving the economic welfare of the community. However, the community is not yet fully independent as they still depend on BUM Desa in strategic decision-making.
Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Pentahelix, Wisata