KONFIGURASI POLITIK LOKAL: INTERAKSI DAN KEPENTINGAN ELIT DALAM DINAMIKA PEMBENTUKAN DOB KABUPATEN BALANIPA, SULAWESI BARAT
Hasbi, Dr. Nanang Indra Kurniawan, M.P.A
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Penelitian ini mengkaji bagaimana konfigurasi politik
lokal terbentuk melalui interaksi dan kepentingan elit dalam proses pembentukan
Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Balanipa pasca moratorium 2014. Dengan
pendekatan kualitatif berbasis wawancara, observasi partisipan, dan studi
dokumen, penelitian ini menyingkap dinamika koalisi elit yang memainkan peran
krusial dalam mengarahkan wacana dan strategi perjuangan pemekaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi politik
lokal Balanipa dibentuk melalui pola interaksi kooperatif, kompetitif, dan
kooptatif antar-elite. Koalisi horizontal tercermin dalam konsolidasi elit
lokal, ada KAPP, camat, tokoh adat, serta jejaring masyarakat, sementara
koalisi vertikal terbangun melalui hubungan dengan partai politik, anggota
DPR/DPD RI, kementerian, hingga forum nasional seperti FORKONAS. Kedua jenis
koalisi ini menghasilkan arsitektur kekuasaan yang cair dan
sarat kepentingan. Kepentingan elit yang mendorong pemekaran tidak hanya
berkaitan dengan legitimasi budaya atau janji pembangunan, melainkan juga
menyangkut akses jabatan, distribusi sumber daya politik-ekonomi, serta
perhitungan elektoral. Partisipasi publik relatif terbatas dan lebih sering
dijadikan basis legitimasi simbolik ketimbang aktor substantif. Narasi historis,
seperti posisi Balanipa dalam konfederasi kerajaan di Mandar dan gagasan Mappenpendulu Akaiyanganna, dimobilisasi
untuk memperkuat klaim administratif dan kultural, bersanding dengan
rasionalisasi spasial-demografis: tujuh kecamatan, luas 964,01 km², serta
jumlah penduduk 215.295 jiwa (BPS, 2023). Kondisi keterisolasian, khususnya di
wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur jalan seperti Tutar dan beberapa titik di Alu, Luyo dan Limboro, menjadi argumen kuat atas urgensi layanan publik yang dekat.
Penelitian ini mengkaji bagaimana konfigurasi politik lokal terbentuk melalui interaksi dan kepentingan elit dalam proses pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Balanipa pasca moratorium 2014. Dengan pendekatan kualitatif berbasis wawancara, observasi partisipan, dan studi dokumen, penelitian ini menyingkap dinamika koalisi elit yang memainkan peran krusial dalam mengarahkan wacana dan strategi perjuangan pemekaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi politik lokal Balanipa dibentuk melalui pola interaksi kooperatif, kompetitif, dan kooptatif antar-elite. Koalisi horizontal tercermin dalam konsolidasi elit lokal, ada KAPP, camat, tokoh adat, serta jejaring masyarakat, sementara koalisi vertikal terbangun melalui hubungan dengan partai politik, anggota DPR/DPD RI, kementerian, hingga forum nasional seperti FORKONAS. Kedua jenis koalisi ini menghasilkan arsitektur kekuasaan yang cair dan sarat kepentingan. Kepentingan elit yang mendorong pemekaran tidak hanya berkaitan dengan legitimasi budaya atau janji pembangunan, melainkan juga menyangkut akses jabatan, distribusi sumber daya politik-ekonomi, serta perhitungan elektoral. Partisipasi publik relatif terbatas dan lebih sering dijadikan basis legitimasi simbolik ketimbang aktor substantif. Narasi historis, seperti posisi Balanipa dalam konfederasi kerajaan di Mandar dan gagasan Mappenpendulu Akaiyanganna, dimobilisasi untuk memperkuat klaim administratif dan kultural, bersanding dengan rasionalisasi spasial-demografis: tujuh kecamatan, luas 964,01 km², serta jumlah penduduk 215.295 jiwa (BPS, 2023). Kondisi keterisolasian, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur jalan seperti Tutar dan beberapa titik di Alu, Luyo dan Limboro, menjadi argumen kuat atas urgensi layanan publik yang dekat.
Kata Kunci : koalisi elit, konfigurasi politik lokal, pemekaran daerah, moratorium, Balanipa