Konflik Peran, Kepribadian Proaktif, dan Tindakan Kohesi: Determinasi Kesiapan Kognitif Akuntan Pendidik dan Perilaku Prekrastinasi
Angelia Pribadi, Dr. Sumiyana, Akt., M.Si; Suyanto, S.E., M.B.A., Ph.D; Choirunnisa Arifa, S.E., M.Sc., Ph.D
2025 | Disertasi | S3 Ilmu Akuntansi
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengatur kewajiban pendidik untuk memenuhi tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi akuntan pendidik, kewajiban ini juga diatur oleh Accounting Education Change Commission (AECC) untuk menghasilkan lulusan program studi Akuntansi yang sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan. Namun, pemenuhan kewajiban ini seringkali sulit karena kompleksitas tugas yang harus dijalankan. Akibat ketidak mampuan memprioritaskan tugas, akuntan pendidik mengalami konflik peran yang membuat kesiapan kognitif menurun dan rentan bertindak prekrastinasi. Penurunan kesiapan kognitif dan tindakan prekrastinasi menjadi ancaman tersendiri bagi kualitas lulusan program studi Akuntansi.
Penelitian ini menawarkan model kohesi sebagai gambaran kesiapan kognitif akuntan pendidik dalam memenuhi tanggung jawabnya, dengan tetap memperhatikan kualitas luaran yang dihasilkan. Teori adaptasi digunakan di riset ini sebagai teori dasar yang mampu menjelaskan fenomena reaksi dari Akuntan pendidik untuk memenuhi seluruh tanggung jawabnya. Riset ini menggunakan metoda eksperimen dengan matriks 2X2X2 dengan partisipan dari akuntan murni, konsultan, dan pengajar di bidang akuntansi. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji beda multivariat dan non-parametrik untuk menguji kekuatan hasil model.
Hasil pengujian dari 196 partisipan menunjukkan bahwa kesiapan kognitif itu terdapat di akuntan pendidik yang berkonflik peran tinggi, berkepribadian proaktif konfron, dan berkohesi rendah. Selanjutnya, untuk menurunkan tingkat prekrastinasi, akuntan pendidik harus diberi perlakuan kohesi tinggi. Hasil analisis data mengindikasikan bahwa akuntan pendidik telah terbiasa dengan kondisi yang kompleks dan prosedural, sehingga memungkinkan akuntan pendidik menghadapi situasi tak terduga dengan cepat. Meski secara kognitif siap memenuhi tanggung jawabnya, akuntan pendidik memerlukan perlakuan kohesi tinggi untuk memastikan kualitas hasil luarannya. Kohesi tinggi ini membentuk dukungan moril untuk membentuk tanggung jawab terhadap hasil luarannya sehingga menurunkan prekrastinasi.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen stipulates the obligation of educators to fulfil tridharma through education, research, and engagement with the community. Especially for accounting educators, the Accounting Education Change Commission (AECC) regulates them to produce graduates who meet the desires of stakeholders. However, fulfilling these obligations is often challenging due to the complexity of the task involved. Due to an inability to prioritize tasks, educators face role conflicts, which lead to a decline in cognitive readiness and increased susceptibility to precrastination. This decline in cognitive readiness and the tendency to precrastination threaten the quality of graduates from accounting programs.
This study proposes a cohesion model to represent the cognitive readiness of accounting educators to fulfil their responsibilities while ensuring the quality of outcomes produced. The adaptation theory is used as the foundation theory in this research, explaining why accounting educators meet their obligations. The study employs an experimental method with a 2X2X2 matrix design, with participants drawn from pure accountants, consultants, and accounting educators. Hypothesis testing uses multivariate analysis and non-parametric tests to examine the strength model.
The results from 196 participants indicate that cognitive readiness rises among accounting educators experiencing high role conflict, confront proactive personalities and low cohesion. Furthermore, accounting educators must provide high cohesion treatment to reduce precrastination levels. Data analysis suggests that accounting educators are accustomed to complex and procedural conditions, enabling them to respond quickly to unforeseen situations. While cognitively prepared to fulfil their responsibilities, accounting educators require high-cohesion treatment to ensure the quality of their outcomes. This high cohesion fosters moral support, reinforcing their responsibility for the quality of their outputs, thereby reducing precrastination.
Kata Kunci : Kata kunci: konflik peran, kepribadian proaktif, kohesi, akuntan pendidik, prekrastinasi Keywords: role conflict, proactive personality, cohesion, accounting educator, precrastination.