Kawasan Catuspatha Pusat Kota Tabanan Dalam Kajian Transformasi Spasial
Putu Prilia Widariyathi, Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D
2025 | Tesis | MAGISTER RANCANG KOTA
Kawasan pusat Kota Tabanan sangat identik
dengan keberadaan Catuspatha, yaitu sistem penataan ruang yang terbentuk dari
pertemuan empat arah mata angin dengan wujud fisik berupa pempatan agung
atau jalan simpang empat. Catuspatha ini diyakini memiliki nilai
simbolik dalam tata ruang tradisional Bali sebagai pusat kerajaan atau pusat
dunia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika perubahan yang terjadi
pada kawasan pusat Kota Tabanan khususnya pada kawasan Catuspatha dari masa ke
masa, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan serta
merumuskan strategi pengembangan yang mempertahankan nilai historis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis sinkronik dan diakronik untuk melusuri perkembangan historis kawasan berdasarkan elemen-elemen fisik kawasan dalam empat periode waktu, yaitu tahun 1493-1906 (masa kerajaan Tabanan), 1906-1929 (masa kolonial Belanda), 1929-2002 (masa sebagai pusat pemerintahan daerah) dan 2002-2025 (masa sebagai pusat strategis prekonomian dan kebudayaan), melalui studi dokumen dan foto, wawancara mendalam, serta observasi langsung. Elemen yang dianalisis meliputi tata ruang, guna lahan, ruang terbuka, jaringan jalan dan tata bangunan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pusat Kota Tabanan mengalami transformasi yang signifikan karena tidak hanya mengubah struktur fisik tata ruang, tetapi juga membentuk ulang makna filosofis dan identitas budaya kawasan. Transformasi sangat dipengaruhi oleh faktor politik kolonial yang menghilakan kesakralan ruang, faktor ekonomi modern yang memadatkan kota, serta faktor budaya yang kini menjadi dasar revitalisasi identitas lokal. Strategi pengembangan pusat kota ke depan diarahkan pada revitalisasi makna filosofis Catuspatha, optimalisasi fungsi ruang publik, penataan setting kota yang harmonis, penguatan faktor sosial budaya, serta tata kelola berkelanjutan. Dengan demikian, Catuspatha di masa depan diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai simpul lalu lintas dan pusat ekonomi, tetapi juga sebagai ruang publik modern yang tetap menyimpan jejak filosofis keseimbangan alam semesta.
The central area of Tabanan City is closely
associated with the presence of Catuspatha, a spatial arrangement system formed
by the intersection of four cardinal directions, physically represented as a
pempatan agung or a four-way juction. This Catuspatha is believed to hold
symbolic value in traditional Balinese spatial planning, as it represents the
center of the kingdom or the center of the world. This study aims to understand
the dynamics of change that occur in the central area of Tabanan City,
particularly in the Catuspatha area, over time, and to identify the factors
influencing these changes. Additionally, it seeks to formulate development
strategies that preserve the historical value of the area.
This research uses a descriptive qualitative approach with synchronical and diachronical analysis methods to trace the historical development of the area based on the physical elements of the area over four time periods, namely 1493-1906 (the era of the Tabanan kingdom), 1906-1929 (the Dutch colonial era), 1929-2002 (the era as a regional government center), and 2002-2025 (the era as a strategic center for the economy and culture), through document and photo studies, in-depth interviews, and direct observations. The elements analyzed include spatial layout, land use, open spaces, road networks, and building arrangements.
The results indicate that the Tabanan City Center has undergone a significant transformation, not only reshaping the physical structure of urban space but also redefining the philosophical meaning and cultural identity of the area. This transformation has been strongly influenced by three factors: colonial political, economic dynamics that intensified urban density, and cultural values that now provide the foundation for revitalizing local identity. Future development strategies for the city center are directed toward revitalizing the philosophical meaning of Catuspatha, optimizing the function of public spaces, arranging a harmonious urban setting, strengthening socio-cultural dimensions, and ensuring sustainable governance. Thus, in the future, Catuspatha is expected to function not only as a traffic hub and economic center but also as a modern public space that continues to embody its philosophical essence as a symbol of cosmic balance.
Kata Kunci : Transformasi Spasial, Pusat Kota, Catuspatha, Tabanan