Yang Muda Yang Mengabdi: Dinamika Sosial, Budaya, dan Ekonomi dalam Fenomena Keterlibatan Abdi Dalem Muda di Keraton Yogyakarta
Erlang Wahyu Sumirat, Dr. Suharman M.Si
2025 | Tesis | S2 Sosiologi
Fenomena meningkatnya jumlah Abdi Dalem dari
kalangan kaum muda di Keraton Yogyakarta menjadi fenomena yang nampak anti-mainstream.
Meskipun pada satu sisi fenomena ini disambut dengan positif sebagai bentuk
kebangkitan budaya tradisional di kalangan kaum muda, namun fenomena ini juga
memunculkan berbagai pertanyaan terkait motif dibalik fenomena ini. Berbagai
pertanyaan yang meliputi fenomena ini terutama kali terkait relasi antara
kebudayaan tradisional dan kaum muda di era modern yang sering kali ditempatkan
pada sisi yang bersebrangan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab
faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlibatan kaum muda menjadi Abdi Dalem
di Keraton Yogyakarta serta dinamikan sosial yang melatarbelakanginya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Subyek dalam penelitian ini adalah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dari kalangan
kaum muda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam,
observasi, dan studi literatur. Data yang telah dikumpulkan kemudain dibingkai
menggunakan prespektif Generasi Muda, Refleksivitas, Hibridtas serta prespektif
Globalisasi Budaya dari Arjun Appadurai. Prespektif generasi muda mencoba
melihat sisi kepemudaan sebagai arena dialektika yang bejalan dinamis, terutama
dalam konteks modernitas lanjut. Sementara Globalisasi Budaya menawarkan sudut
pandang yang lebih terbuka terkait fenomena globalisasi yang pada akhirnya
menjadi melting pot bagi berbagai kebudayaan untuk saling bernegosiasi
untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa fenomena pengabdian Abdi Dalem muda di Keraton Yogyakarta
erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi di Keraton Yogyakarta.
Transformasi yang merupakan hasil dari proses negosiasi kebudayaan tradisional
dengan kebudayaan modern di Keraton menciptakan ruang yang memungkinkan
keterlibatan kaum muda untuk masuk ke dalam komunitas tradisional tersebut,
tanpa harus “mengorbankan” masa depan, maupun identitas kepemudaannya.
The growing trend of young people becoming Abdi
Dalem (royal servants) at the Keraton Yogyakarta (Yogyakarta
Royal Palace) presents
a seemingly anti-mainstream trend. While this phenomenon is positively welcomed
as a sign of a cultural revival among the younger generation, it also raises several questions
regarding the underlying motives. These questions mainly revolve around the
relationship between traditional culture and youth in the modern era, which are
often perceived as opposing forces. This research aims to explore the factors
that underlie the involvement of young people as Abdi Dalem at the Keraton Yogyakarta, as well as the social dynamics
behind this phenomenon. The study employs a qualitative method with a
phenomenological approach. The subjects of this study are young Abdi Dalem
in the Keraton Yogyakarta. Data collection techniques include in-depth interviews, observation,
and literature reviews. The collected data is analyzed through the lens of Youth
Generations, Reflectivity, Hibridity and Arjun Appadurai’s theory of Cultural Globalization. The
youth perspective seeks to understand youth as a dynamic site of dialectical
processes, particularly in the context of late modernity. Meanwhile,
Appadurai’s perspective on Cultural Globalization provides a more open view of
globalization as a melting pot where different cultures negotiate to remain relevant in the
face of changing times. The findings of this research indicate that the
emergence of young Abdi Dalem is closely related to the ongoing
transformation within the Keraton Yogyakarta. This transformation,
resulting from the negotiation between traditional and modern cultures, has
created a space that allows young people to be involved in a traditional
community without having to “sacrifice” their future or their youthful identity.
Kata Kunci : Abdi Dalem, Kaum Muda, Hibridasi Budaya