Kesiapsiagaan Masyarakat di Daerah Rawan Bencana Likuefaksi Kota Palu Berdasarkan Pembelajaran Dari Kejadian Bencana Tahun 2018
Hasri Alvionita Hasan, 1. Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D.; 2. Prof. Dr. Ir. Dina Ruslanjari, M.Si.
2025 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA
Kota Palu berada pada daerah dengan kelas bahaya likuefaksi tinggi. Likuefaksi pada tahun 2018 yang didahului oleh gempa bumi merupakan salah satu bencana terdahsyat di Indonesia dengan skala yang sangat besar dan menyebabkan kerugian serta korban jiwa, terutama di Kelurahan Petobo dan Balaroa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesiapsiagaan masyarakat sebelum dan sesudah bencana, pengaruh pengalaman bencana terhadap kesiapsiagaan, serta mengidentifikasi bentuk intervensi pemerintah yang memengaruhi kesiapsiagaan masyarakat.
Metode yang digunakan adalah metode campuran secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner terhadap 136 responden dan dianalisis menggunakan indeks kesiapiagaan masyarakat, statitistik deskriptif, serta analisis SEM-PLS untuk mengukur pengaruh pengalaman bencana terhadap kesiapsiagaan. Selanjutnya, analisis deskriptif kualitatif dilakuan melalui wawancara mendalam dengan dengan informan kunci yang berkaitan dengan program kesiapsiagaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat meningkat dari kategori “kurang siap” menjadi “siap” pascabencana. Tingkat pengalaman langsung masyarakat terhadap bencana likuefaksi berada pada kategori tinggi, sementara Analisis SEM membuktikan pengalaman bencana berpengaruh positif dan signifikan dengan kontribusi sebesar 52.6% terhadap kesiapsiagaan. Intervensi pemerintah masih menghadapi kendala pada aspek peringatan dini, perencanaan kontingensi, logistik, serta fokus pemerintah yang masih dominan pada fase tanggap darurat. Pentingnya integrasi pengalaman bencana bencana dengan intervensi pemerintah yang berkelanjutan untuk mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dari kategori “siap” menjadi “sangat siap”.
Palu City is located in an area with a high liquefaction level. The 2018 liquefaction triggered by an earthquake, was one of the most catastrophic disasters in Indonesia, occurring on a massive scale and caused significant losses and fatalities, especially in Petobo and Balaroa. The purpose of this study is to analyze community preparedness before and after the disaster, to assess the influence of disaster experience on preparedness, and identify forms of government intervention that affect community preparedness.
This study applied a mixed method approach combining quantitative and qualitative. Quantitative data were collected through structured interviews using questionnaires with 136 respondents and analyze using a community preparedness index, descriptive statistics, and SEM-PLS to measure the effect of disaster experience on preparedness. Qualitative descriptive analysis through in-depth interviews with key informants related to preparedness programs.
The findings show that community preparedness improved from the “less prepared” category before the disaster to the “prepared” category after the disaster. The level of direct community experience with the liquefaction disaster was high, while SEM analysis confirmed that disaster experience had a positive and significant influence on preparedness, contributing 52.6%. Government intervention still has challenges, including early warning systems, contingency planning, logistics, and the predominance of focus on emergency phase. The integration of disaster experience with sustained government intervention is essential to optimize community preparedness, form the “prepared” to the “well prepared”.
Kata Kunci : Likuefaksi, Kesiapsiagaan, Pengalaman Bencana, Intervensi Pemerintah / Liquefaction, Preparedness, Disaster Experience, Government Intervention