Laporkan Masalah

Kewargaan Keturunan Jepang di Indonesia: Strategi dan Perjuangan Keturunan Mantan Prajurit Jepang untuk Mendapatkan Pengakuan dari Masyarakat Indonesia serta Mempertahankan Identitas Etnis Minoritas

Haruka Aoki, Evi Lina Sutrisno, S.Psi., M.A., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Kewargaan seorang keturunan etnis asing mengandung kompleksitas karena berpotensi terdampak oleh kebijakan lebih dari dua negara. Konsep ‘kewargaan’ mencakup makna yang lebih luas daripada sekadar ‘kewarganegaraan’ atau status legal sebagai warga negara dari suatu negara (nation-state), karena memiliki dimensi lain yaitu hak, keanggotaan, dan partisipasi. Kewargaan etnis asing seringkali mengalami hambatan karena status yang tidak sepenuhnya diakui sebagai anggota masyarakat dan tekanan dari pemerintah, sehingga terjadi perjuangan untuk mempertahankan dan memperkokoh eksistensi kelompok keturunan dengan strategi identitas diaspora. Namun, perjuangan itu menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh berbagai faktor khas kelompok etnis asing, seperti kehilangan koneksi dengan negara asal dan tekanan untuk melebur ke dalam masyarakat mayoritas. Penelitian ini bertujuan melihat situasi kewargaan keturunan mantan prajurit Jepang di Indonesia dan strategi untuk mempertahankan identitas etnis asing minoritas. Subyek penelitian ini merupakan keturunan generasi kedua sampai keempat dari mantan prajurit Jepang yang dahulu bergabung dalam perang kemerdekaan di Indonesia setelah masa pendudukan Jepang, kemudian menetap dan mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Mereka membentuk sebuah organisasi keturunan mantan prajurit Jepang di Indonesia bernama Yayasan Warga Persahabatan (YWP, Fukushi Tomo no Kai). Pengalaman para keturunan Jepang dilihat secara fenomenologis, yaitu metode penelitian yang mendalami pengalaman individu dari deskripsi dan interpretasi langsung. Situasi kewargaan mereka dilihat dengan menggunakan teori kewargaan (Stokke & Hiariej, 2017), kemudian strategi dan perjuangan untuk memenuhi kekurangan dalam kewargaan dapat dilihat menggunakan teori identitas diaspora.

Penelitian ini menuai dua penemuan yaitu kekurangan dalam empat dimensi kewargaan para keturunan mantan prajurit Jepang dan strategi mereka dalam memperjuangkan pengakuan masyarakat dan mempertahankan identitas diaspora. Pertama, kewargaan keturunan mantan prajurit Jepang mendapatkan pengaruh oleh kedua unsur, yaitu kondisi sosial dan kebijakan pemerintah untuk kewarganegaraan. Kewargaan Indonesia mereka diakui dalam dimensi legal, namun mengalami hambatan dalam dimensi hak sosial dan keanggotaan karena kabijakan pemerintah yang berkaitan dengan status sebagai warga non-pribumi dan stigma “keturunan penjajah” dari masyarakat Indonesia. Kewargaan keturunan mantan prajurit Jepang mengacu pada negara Jepang juga, karena narasi masyarakat, bantuan finansial, dan hubungan politik dengan negara Jepang. Situasi “kewargaan transnasional” yang mana kewargaan para migran mengacu pada dua negara ini menambah kompleksitas dalam kewargaan dan identitas keturunan Jepang. Ketidaklengkapan dimensi kewargaan menciptakan perjuangan untuk mempertahankan eksistensi dengan strategi pembentukan identitas diaspora.  Penemuan kedua adalah perjuangan keturunan mantan prajurit Jepang untuk mempertahankan eksistensi di dalam masyarakat Indonesia dengan strategi membentuk identitas diaspora. Keturunan Jepang mencoba memupuk identitas diaspora Jepang dalam komunitas di kota Jakarta, Medan, dan Surabaya, melalui jalur budaya, ekonomi dan sejarah. Pelestarian budaya dalam keluarga maupun dalam organisasi keturunan, YWP memiliki peran penting dalam membentuk identitas diaspora, sekaligus menjadi strategi untuk menegosiasi Indonesia dan Jepang. Namun penurunan solidaritas komunitas dan memudarnya identitas keturunan Jepang menjadi tantangan besar bagi mereka. 

The citizenship of a person of foreign ethnic descent is complex because it can potentially be affected by the policies of more than two countries. The concept of ‘citizenship’ has a broader meaning than just ‘nationality’ or legal status as a citizen of a nation-state, with other dimensions such as rights, membership, and participation. Foreign ethnic citizenship often faces obstacles due to not being fully recognized as members of society and having pressure from the government, leading to a struggle to maintain and strengthen the existence of the ethnic group through diaspora identity strategies. However, this struggle faces challenges caused by various factors specific to foreign ethnic groups, such as losing connections with their country of origin and assimilating into the majority society. This study aims to examine the citizenship situation of the descendants of former Japanese soldiers in Indonesia and the strategies for maintaining the identity of ethnic minorities. The subjects of this research are the second to fourth generations of descendants of former Japanese soldiers who joined the Indonesian independence war after the Japanese occupation, then settled and obtained Indonesian citizenship. They formed an organization of descendants of former Japanese soldiers in Indonesia called the Yayasan Warga Persahabatan (YWP, Fukushi Tomo no Kai). The experiences of the Japanese descendants were examined phenomenologically, a research method that delves into individual experiences through direct description and interpretation. Their citizenship status is analyzed using citizenship theory (Stokke & Hiariej, 2017), while strategies and struggles to address deficiencies in citizenship are examined using diaspora identity theory.
This study has two findings: deficiencies in the four dimensions of citizenship among the descendants of former Japanese soldiers and their strategies in striving for societal recognition and maintaining their diaspora identity. First, the citizenship of the descendants of former Japanese soldiers is influenced by two elements, social conditions and government policy on citizenship. Their Indonesian citizenship is recognized in the legal dimension, but faces obstacles in the social rights and membership dimensions due to government policy on their status as non-indigenous citizens and the stigma of being “descendants of colonizers” from Indonesian society. The citizenship of the descendants of former Japanese soldiers also refers to Japan, due to societal narratives, financial assistance, and political ties with Japan. The situation of ‘transnational citizenship’, where the citizenship of migrants refers to two countries, adds complexity to the citizenship and identity of Japanese descendants in Indonesia. The incompleteness of the citizenship dimension creates a struggle to maintain existence through strategies of forming a diaspora identity. The second finding is the struggle of the descendants of former Japanese soldiers to maintain their existence within Indonesian society through strategies of forming a diaspora identity. Japanese descendants try to nurture Japanese diaspora identity in communities in Jakarta, Medan, and Surabaya through cultural, economic, and historical channels. Cultural preservation within families and in descendant organizations, YWP plays an important role in shaping diaspora identity and also become a part of their strategy to negotiate Japan and Indonesia. However, the decline in community solidarity and the fading of Japanese descendant identity pose a major challenge for them.

Kata Kunci : mantan prajurit Jepang di Indonesia, teori kewargaan, kewargaan transnasional, identitas diaspora

  1. S2-2025-523700-abstract.pdf  
  2. S2-2025-523700-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-523700-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-523700-title.pdf