Kesejahteraan Subjektif dan Resiliensi Anak Yang Kehilangan Orang Tua Meninggal Akibat Covid-19 Di Kota Semarang Jawa Tengah
Ipung Ristiyani, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Pandemi Covid-19 membawa konsekuensi sosial yang kompleks
terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk meningkatnya jumlah anak yang
kehilangan orang tua meninggal akibat Covid-19. Kehilangan orang tua berdampak
langsung pada aspek psikologis dan sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk
memahami dampak kehilangan orang tua akibat Covid-19 terhadap kesejahteraan
subjektif dan resiliensi anak di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengkaji proses adaptasi
anak dalam situasi kehilangan, khususnya dalam konteks pemulihan pasca pandemi.
Kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis pengalaman
anak yang kehilangan orang tua meninggal akibat Covid-19, yaitu kesejahteraan
subjektif dari Ed Diener dan resiliensi dari Reivich dan Shatte. Kesejahteraan
subjektif dari Ed Diener, yang
menekankan evaluasi individu terhadap kehidupannya melalui kepuasan hidup
secara kognitif dan keseimbangan antara emosi positif dan negatif yang dialami
sehari-hari. Pendekatan ini diukur untuk melihat bagaimana anak memaknai
kehidupannya setelah kehilangan serta sejauh mana mereka mampu mempertahankan
persepsi positif di tengah situasi berduka. Sementara teori resiliensi dari Reivich dan Shatté menekankan
pemahaman mendalam mengenai kapasitas anak dalam membangun ketahanan psikologis
melalui tujuh aspek utama, meliputi regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme,
efikasi diri, empati, analisis kausal, dan penerapan perspektif. Kedua teori
ini bertujuan untuk menelaah dinamika psikologis yang terjadi dalam proses anak
menyesuaikan diri terhadap kehilangan, serta strategi internal mereka bertahan
dan tumbuh secara positif dari pengalaman traumatis.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif, yang menitikberatkan pada analisis data secara
kualitatif. Pengambilan data dilakukan di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian
sejumlah lima belas (15) anak yang didapatkan dengan metode teknik purposive sampling berdasarkan kriteria,
antara lain: status keyatiman (yatim, piatu dan yatim piatu, jenis kelamin
(laki-laki dan perempuan), usia (SD, SMP dan SMA), dan pola pengasuhan (ibu,
ayah, kakek/nenek, paman/bibi, atau saudara kandung).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kematian orang tua meninggal karena Covid-19 memiliki dampak pada penurunan tingkat kesejahteraan subjektif anak, yang mencakup kepuasan hidup, harapan masa depan, dan makna diri. Secara psikologis, anak-anak mengalami tekanan emosional seperti kesedihan mendalam, kecemasan, serta ketidakpastian masa depan. Dari aspek sosial, hilangnya figur pengasuh utama mengganggu sistem dukungan sosial dan interaksi anak. Di sisi lain, tantangan ekonomi turut memperburuk kondisi anak, terutama dalam hal keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar dan pendidikan. Meskipun demikian, sebagian anak menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi. Mereka mampu bangkit dan beradaptasi dari situasi krisis melalui dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar, serta melalui penghayatan spiritual dan keterlibatan sosial. Resiliensi anak diperkuat oleh kemampuan memaknai kehidupan baru, motivasi untuk meraih kesuksesan, serta pengembangan pola pikir positif di tengah keterbatasan.
Pandemi Covid-19 membawa konsekuensi sosial yang kompleks
terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk meningkatnya jumlah anak yang
kehilangan orang tua meninggal akibat Covid-19. Kehilangan orang tua berdampak
langsung pada aspek psikologis dan sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk
memahami dampak kehilangan orang tua akibat Covid-19 terhadap kesejahteraan
subjektif dan resiliensi anak di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengkaji proses adaptasi
anak dalam situasi kehilangan, khususnya dalam konteks pemulihan pasca pandemi.
Kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis pengalaman
anak yang kehilangan orang tua meninggal akibat Covid-19, yaitu kesejahteraan
subjektif dari Ed Diener dan resiliensi dari Reivich dan Shatte. Kesejahteraan
subjektif dari Ed Diener, yang
menekankan evaluasi individu terhadap kehidupannya melalui kepuasan hidup
secara kognitif dan keseimbangan antara emosi positif dan negatif yang dialami
sehari-hari. Pendekatan ini diukur untuk melihat bagaimana anak memaknai
kehidupannya setelah kehilangan serta sejauh mana mereka mampu mempertahankan
persepsi positif di tengah situasi berduka. Sementara teori resiliensi dari Reivich dan Shatté menekankan
pemahaman mendalam mengenai kapasitas anak dalam membangun ketahanan psikologis
melalui tujuh aspek utama, meliputi regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme,
efikasi diri, empati, analisis kausal, dan penerapan perspektif. Kedua teori
ini bertujuan untuk menelaah dinamika psikologis yang terjadi dalam proses anak
menyesuaikan diri terhadap kehilangan, serta strategi internal mereka bertahan
dan tumbuh secara positif dari pengalaman traumatis.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang menitikberatkan pada analisis data secara kualitatif. Pengambilan data dilakukan di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian sejumlah lima belas (15) anak yang didapatkan dengan metode teknik purposive sampling berdasarkan kriteria, antara lain: status keyatiman (yatim, piatu dan yatim piatu, jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), usia (SD, SMP dan SMA), dan pola pengasuhan (ibu, ayah, kakek/nenek, paman/bibi, atau saudara kandung).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kematian
orang tua meninggal karena Covid-19 memiliki dampak pada penurunan tingkat
kesejahteraan subjektif anak, yang mencakup kepuasan hidup, harapan masa depan,
dan makna diri. Secara psikologis, anak-anak mengalami tekanan emosional
seperti kesedihan mendalam, kecemasan, serta ketidakpastian masa depan. Dari aspek
sosial, hilangnya figur pengasuh utama mengganggu sistem dukungan sosial dan
interaksi anak. Di sisi lain, tantangan ekonomi turut memperburuk kondisi anak,
terutama dalam hal keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar dan pendidikan.
Meskipun demikian, sebagian anak menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi.
Mereka mampu bangkit dan beradaptasi dari situasi krisis melalui dukungan
sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar, serta melalui penghayatan
spiritual dan keterlibatan sosial. Resiliensi anak diperkuat oleh kemampuan
memaknai kehidupan baru, motivasi untuk meraih kesuksesan, serta pengembangan
pola pikir positif di tengah keterbatasan.
Kata Kunci : Kata Kunci: Kesejahteraan subjektif, resiliensi, anak, Covid-19, kehilangan orang tua