Dinamika Mekanisme Akses dalam Program Pengembangan Usaha Tambak Garam Pemkab di Sabu Raijua
Ester Wolo, Evi Lina Sutrisno, S.PSi., M.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Tesis
ini mengkaji kemampuan pemerintah Kabupaten Sabu Raijua yang kurang efektif
dalam mengelola sumber daya alam dalam bentuk usaha tambak garam. Penelitian ini menelisik posisi
pemerintah daerah dalam kebijakan desentralisasi di awal masa reformasi yang
direvisi menjadi resentralisasi melalui UU No. 23/2014. Di bawah peraturan
tersebut, penelitian ini menggali mekanisme akses dalam pengembangan usaha
tambak garam yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua melalui Dinas
Perindustrian dan Perdagangan.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan
pendekatan studi kasus, yang mengandalkan wawancara, observasi, serta analisis
dokumentasi sebagai sumber data utama terkait pengelolaan usaha tambak garam.
Temuan penelitian menegaskan bahwa optimalisasi akses pemanfaatan sumber daya
alam sangat ditentukan oleh sejauh mana konfigurasi mekanisme akses yang
dimiliki dan diusahakan oleh aktor yang terlibat. Semakin banyak mekanisme
akses yang dapat dimanfaatkan, semakin besar pula kemampuan aktor, termasuk
pemerintah daerah, dalam mengontrol, mempertahankan, dan memperluas akses serta
manfaat dari pengelolaan sumber daya alam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi akses
terhadap sumber daya alam membutuhkan konfigurasi mekanisme yang lengkap dan
memadai agar dapat memperluas akses guna memaksimalkan manfaat. Mekanisme akses
tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja secara saling berkaitan, beririsan,
dan bahkan dapat saling menguatkan atau melemahkan satu sama lain. Hal ini
sejalan dengan teori akses yang dikemukakan Ribot dan Peluso (2003), yang
menekankan bahwa akses tidak hanya ditentukan oleh hak formal, tetapi juga oleh
kemampuan nyata untuk memperoleh manfaat melalui berbagai mekanisme politik,
ekonomi, teknologi, maupun sosial.
Implikasi dari penelitian ini memperlihatkan bahwa,
sebagaimana ditegaskan dalam pengembangan teori akses oleh Peluso dan Ribot
(2020), pemerintah daerah berada pada posisi sebagai aktor yang memiliki hak
formal, tetapi dalam praktiknya menghadapi keterbatasan untuk mengonversi hak
tersebut menjadi manfaat nyata. Kondisi ini memperlihatkan bahwa relasi
kekuasaan, struktur kebijakan desentralisasi–resentralisasi, serta faktor
eksternal seperti bencana alam dan kebijakan pusat turut menentukan sejauh mana
kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya strategis.
Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa akses
bersifat dinamis, selalu berproses, dan senantiasa perlu diupayakan melalui
konfigurasi mekanisme yang memadai. Ketidakmampuan pemerintah daerah dalam
mengoptimalkan mekanisme akses memperlihatkan bahwa hak formal semata tidak
cukup untuk memastikan penguasaan dan pemanfaatan sumber daya. Oleh karena itu,
penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola mekanisme akses secara
komprehensif menjadi krusial untuk memaksimalkan manfaat dari sumber daya alam
yang dikelola.
This study examines the ineffectiveness of the Sabu Raijua
Regency Government in managing natural resources through its salt pond business
development program. The research delves into the position of local government
within decentralization policies, initially established during the early reform
era but revised into a form of recentralization under Law No. 23/2014. Within
this legal framework, the study explores the access mechanisms in the
development of salt ponds, managed by the Sabu Raijua Regency Government
through the Department of Industry and Trade.
The research uses a qualitative method with a case study
approach, relying on interviews, observations, and document analysis as primary
data sources for understanding the management of the salt pond business. The
findings confirm that the optimization of access to natural resources is highly
dependent on the configuration of access mechanisms held and pursued by the
actors involved. The more access mechanisms an actor can utilize, the greater
their ability to control, maintain, and expand access and benefits from natural
resource management.
The results show that optimizing access to natural resources
requires a complete and adequate configuration of mechanisms to expand access
and maximize benefits. Access mechanisms do not operate in isolation; they are
interconnected, overlapping, and can even strengthen or weaken one another.
This aligns with the theory of access proposed by Ribot and Peluso (2003),
which emphasizes that access is not merely determined by formal rights but also
by the actual ability to derive benefits through various political, economic,
technological, and social mechanisms.
The implications of this study reveal that, as emphasized in
the further development of access theory by Peluso and Ribot (2020), local
governments are in a position of having formal rights but, in practice, face
limitations in converting these rights into tangible benefits. This condition
highlights that power relations, the structure of
decentralization-recentralization policies, and external factors such as
natural disasters and central government policies all determine the extent of a
local government's ability to manage strategic resources.
Thus, this study affirms that access is dynamic, constantly
in process, and must always be pursued through an adequate configuration of
mechanisms. The local government's inability to optimize access mechanisms
demonstrates that formal rights alone are insufficient to ensure control and
utilization of resources. Therefore, strengthening the capacity of local
governments to manage access mechanisms comprehensively is crucial for
maximizing the benefits derived from the natural resources they manage.
Kata Kunci : Akses, Mekanisme Akses, Tambak Garam, Sabu Raijua