MAKNA SIMBOL TRADISI KHUMASA MASYARAKAT SIMEULUE DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT BUDAYA CLIFFORD GEERTZ
Efaludina, Dr. Dra., Sartini. M. Hum & Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M. Hum Ph.D Of Arts
2025 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat
Krisis iklim menjadi tantangan utama manusia abad ini, ditandai oleh perubahan cuaca ekstrem yang mengancam ketahanan pangan global. Di Indonesia, isu ini erat kaitannya dengan budidaya padi sebagai kebutuhan pokok. Uniknya, bagi masyarakat lokal di Indonesia, pertanian padi bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari simbol budaya dan tradisi. Salah satu tradisi yang belum banyak dikaji adalah tradisi Khumasa di masyarakat Simeulue. Penelitian ini menjadi penelitian pertama yang secara khusus mengeksplorasi beberapa pertanyaan berupa: Bagaimana tradisi Khumasa masyarakat Simeulue dipraktikkan dan dipahami masyarakat sebagai bagian dari budaya mereka; Bagaimana pergeseran makna simbol tradisi Khumasa masyarakat Simeulue; Analisis kritis nilai-nilai dan pengetahuan lokal pada tradisi Khumasa relevannya terhadap problem krisis iklim dan ketahanan padangan.
Penelitian ini merupakan kajian filsafat kebudayaan, menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan mini etnografi. Pendekatan ini dipilih untuk menelusuri dinamika budaya dan perubahan simbol dalam tradisi lokal secara mendalam dan kontekstual. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan partisipatif dan wawancara mendalam terhadap pelaku budaya dan tokoh adat. Sumber data terdisi atas data primer, yang diperoleh melalui observasi langsung, wawancara terstruktur dan semi-terstruktur, serta pencatatan lapangan; Data sekunder, yang berasal dari literatur kredibel seperti buku, artikel ilmiah, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung analisis teori dan konteks tradisi yang dikaji. Seluruh data dianalisis secara interpretatif untuk mengungkap makna simbolik dan transformasi nilai budaya dalam kerangka filsafat kebudayaan.
Penelitian ini menemukan bahwa: Pertama, tradisi Khumasa sebagai warisan budaya tercermin dari mitologis padi sebagai entitas sakral yang menjadi dasar membentuk pandang dan sikap masyarakat, Praktik pertanian lokal memiliki nilai spiritual, ekologis, sosial, dan ekonomi, serta terdapatnya praktik ritual yang memperkuat makna budaya dalam setiap aktivitas pertaniannya. Kedua, tradisi Khumasa mengalami penafsiran ulang dan berubahnya pandang masyarakat sebab pengaruh agama, modernisasi, dan globalisasi. Simbol maupun praktik tradisi sebelumnya sakral kini mengalami modifikasi bahkan beberapa praktik dalam tradisi telah ditinggalkan. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara kolektif dan bergotong royong kini lebih pragmatis, individu dan formalitas. Ketiga, Merefleksikan sistem pengetahuan dan praktik yang relevan terhadap krisis iklim dan keberlangsungan lingkungan, sistem penyimpanan pangan mandiri yang adaptif terhadap problem krisis iklim dan ketahanan pangan.
Kata Kunci: Krisis Iklim, Ketahanan Pangan, Tradisi Khumasa, Pengetahuan lokal, simbol budaya
The climate crisis is one of the greatest challenges of this century, characterized by extreme weather changes that threaten global food security. In Indonesia, this issue is closely linked to rice cultivation, which serves as a staple food. Uniquely, for local communities, rice farming is not merely an economic activity but also a cultural and traditional symbol. One tradition that remains understudied is Khumasa in Simeulue. This study is the first to specifically investigate several key questions: How is the Khumasa tradition practiced and understood by the Simeulue community as part of their cultural identity? How has the meaning of its symbols shifted over time? And how do the values and local knowledge embedded in the Khumasa tradition critically relate to the challenges of the climate crisis and food security.?
This research is a study in cultural philosophy, employing a qualitative method with a mini-ethnographic approach. The study was conducted by exploring cultural dynamics and the transformation of traditional symbols through field observations and in-depth interviews. Primary data were collected from observations, interviews, and field notes, while secondary data were obtained from credible sources such as books, articles, journals, and previous research that provide relevant information, theories, and concepts related to the research topic.
This study found that: First, the Khumasa tradition, as a form of cultural heritage, is rooted in the mythology of rice as a sacred entity, shaping the community’s worldview and behavior. Local agricultural practices embody spiritual, ecological, social, and economic values, with ritual activities reinforcing cultural meaning in every stage of farming. Second, the Khumasa tradition has undergone reinterpretation and shifts in community perspectives due to the influences of religion, modernization, and globalization. Symbols and practices once considered sacred have been modified, and some are gradually being abandoned. Activities that were once communal and cooperative have become more pragmatic, individualistic, and formal. Third, the Khumasa tradition reflects a system of local knowledge and practices that hold critical relevance to spiritual, economic, and ecological values, particularly in its adaptive food storage practices that offer resilience in the face of climate crises.
Kata Kunci : limate Crisis, Food Resilience, Khumasa Tradition, Local Knowledge, Cultural Symbols