Laporkan Masalah

Metafora Pengalaman Psikologis Perawatasuh Utama Keluarga Penyandang Gangguan Jiwa Terpasung

Tri Hayuning Tyas, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog; Prof. Byron J. Good Ph.D. ; Prof Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.,Med.Sc., Ph.D., Psikolog.

2025 | Disertasi | S3 Psikologi

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, praktik pemasungan penyandang gangguan jiwa serius di Indonesia masih terjadi terutama karena tingginya beban perawatasuhan yang ditanggung keluarga. Dalam keterbatasan sumber daya, keluarga tetap melanjutkan peran mereka dalam merawatasuh penyandang gangguan jiwa.  Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perawatasuh utama keluarga memaknai perawatasuhan melalui metafora, sebagai dasar untuk pengembangan program dukungan yang kontekstual.  Dengan pendekatan kualitatif analisis naratif dan analisis metafora berjenjang, penelitian ini melibatkan dua belas partisipan perawatasuh utama keluarga.  Hasil temuan mengidentifikasi tiga metafora sentral yang merepresentasikan makna perawatasuhan, yaitu metafora Perjalanan, metafora Ujian, dan metafora Ibadah.   Selain itu, terdapat metafora inti lain, yaitu metafora Amanah dan metafora Beban Berat, yang melengkapi metafora sentral dan memperkaya pemahaman atas makna perawatasuhan.   Metafora-metafora tersebut menggambarkan pengalaman perawatasuhan sekaligus membentuk kerangka moral dan emosional dalam memahami penderitaan, tanggung jawab dan harapan. Temuan ini menunjukkan bahwa metafora berfungsi sebagai instrumen kognitif-emosional yang membantu perawatasuh menegosiasikan beban secara bermakna dan menjaga koherensi subjektif.  Studi lanjut diperlukan untuk mendalami fungsi dan dampak metafora terhadap kesejahteraan psikologis perawatasuh. Ketika dipahami dengan baik dan diterapkan dengan tepat, metafora dapat menjadi jembatan komunikasi empatik dan layanan yang responsif terhadap konteks individu dan budaya. Oleh karena itu, profesional kesehatan perlu meningkatkan kepekaan terhadap metafora dalam konteks perawatasuhan penyandang gangguan jiwa dan melibatkan perawatasuh keluarga dalam penyusunan program intervensi. 

Despite ongoing efforts, the practice of Pasung in Indonesia remains unresolved, partly due to the heavy caregiving burden on families.  Even with limited resources, families continue to fulfill their caregiving roles.  This study explores how primary family caregivers construct the meaning of caregiving through metaphors, aiming to inform culturally and contextually responsive support.  Using a qualitative narrative analysis combined with an integrated multilevel metaphor analysis data from twelve participants this study revealed three central metaphors that convey the meaning of caregiving:  the Journey metaphor (Perjalanan), the Test metaphor (Ujian), and the Worship metaphor (Ibadah).  In addition, two core metaphors emerged - Trust Metaphor (Amanah) and Heavy Burden Metaphor (Beban Berat).  These metaphors not only describe caregiving experiences but also shape the moral and emotional framework through which caregivers make sense of suffering, obligation, and hope.  Finding suggest that metaphors function as cognitive-emotional tools that help caregivers negotiate burden in meaningful ways and maintain subjective coherence amid adversity.  When carefully understood and meaningfully implemented, metaphors can serve as bridges for empathetic communication and the delivery of care that is responsive to individual and cultural context.  Health professionals are thus encouraged to develop greater sensitivity to caregiving-related metaphors and to involve family caregivers in the design of intervention programs.  Further research is needed to examine the functions and consequences of metaphor use on caregivers' psychological well-being. 

Kata Kunci : Metafora, Metafora Perawatasuhan, Pasung, Perawatasuh Utama Keluarga, Penyandang Gangguan Jiwa

  1. S3-2025-435434-abstract.pdf  
  2. S3-2025-435434-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-435434-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-435434-title.pdf