Laporkan Masalah

Analisis Minat Masyarakat dalam Pemanfaatan Telemedicine pada Layanan Kesehatan Mental di Rumah Sakit Akademik UGM

Ari Budiyanto, Adhistya Erna Permanasari, S.T, M.T, Ph.D.; Dr. dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo

2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

Pendahuluan: Layanan telemedicine memiliki potensi besar untuk memperluas akses dan meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, termasuk untuk kesehatan mental. Meskipun demikian, adopsi layanan ini di lingkungan rumah sakit masih menghadapi minat yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam faktor-faktor yang memengaruhi minat pasien dalam menggunakan layanan telemedicine untuk kesehatan mental, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan implementasinya di masa depan.

Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam kepada 7 orang informan yang terdaftar di Klinik Kejiwaan dan Psikologi Dewasa RSA UGM. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan kerangka teori Theory of Planned Behavior (TPB) untuk mengidentifikasi komponen Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kontrol Perilaku.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat penggunaan telemedicine bersifat kompleks dan bersyarat. Sikap pasien bersifat dualistik, terbelah antara sikap positif terhadap efisiensi dan privasi dengan kekhawatiran akan hilangnya koneksi personal dengan dokter atau tenaga kesehatan saat konsultasi. Norma Subjektif menunjukkan adanya pertentangan antara dukungan dari figur tertentu (dokter, keluarga) dengan keyakinan tradisional di level masyarakat yang menganggap pertemuan fisik sebagai salah satu syarat kesembuhan. Sementara itu, Persepsi Kontrol Perilaku, meskipun didukung oleh kapabilitas digital individu, keadaan ini dihambat oleh faktor sistemik di luar kendali pasien, terutama masalah logistik pasca-konsultasi (pengambilan obat) dan belum terintegrasinya layanan dengan sistem pembiayaan nasional (BPJS).

Kesimpulan: Adopsi telemedicine untuk kesehatan mental tidak hanya bergantung pada kemudahan teknis, melainkan pada keseluruhan ekosistem layanan yang mampu terintegrasi secara menyeluruh, hal ini juga mencakup alur logistik obat dan sistem pembiayaan. Rekomendasi difokuskan pada pengembangan model layanan hybrid yang kontekstual dengan keadaan pasien, integrasi dengan sistem jaminan kesehatan, dan pembangunan ekosistem layanan yang utuh dari hulu ke hilir.

Introduction: Telemedicine has great potential to expand access to and improve the efficiency of healthcare services, including mental health services. However, the adoption of this service in hospitals still faces low interest. This study aims to explore in depth the factors that influence patients' interest in using telemedicine services for mental health, as well as to identify opportunities and challenges for its implementation in the future.

Method: This study employs a qualitative approach using in-depth interviews with 7 informants registered at the RSA UGM Adult Psychiatry and Psychology Clinic. Data were analyzed using thematic analysis with the Theory of Planned Behavior (TPB) framework to identify the components of Attitude, Subjective Norm, and Perceived Behavioral Control.

Results: The results of the study indicate that the intention to use telemedicine is complex and conditional. Patients' attitudes are dualistic, torn between positive attitudes toward efficiency and privacy and concerns about losing personal connection with doctors or health workers during consultations. Subjective Norms reveal a conflict between support from certain figures (doctors, family) and traditional beliefs at the community level that consider physical meetings as one of the keys to recovery. Meanwhile, Perceived Behavioral Control, although supported by individual digital capabilities, is limited by systemic factors beyond the patient's control, particularly post-consultation logistics (medication delivery) and the lack of integration with the national health insurance system (BPJS).

Conclusion: The adoption of telemedicine for mental health does not only depend on technical ease but on an integrated service ecosystem that covers medication logistics and financing systems. Recommendations focus on developing a contextual hybrid service model tailored to patient conditions, integration with health insurance systems, and building a comprehensive service ecosystem from end to end.

Kata Kunci : telemedicine, kesehatan mental, Theory of Planned Behavior (TPB), adopsi teknologi, persepsi pasien

  1. S2-2025-529753-abstract.pdf  
  2. S2-2025-529753-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-529753-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-529753-title.pdf