NEGARA, PASAR, DAN ISLAM: ARTIKULASI KELEMBAGAAN DALAM KONTESTASI WACANA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
ARIN MAMLAKAH KALAMIKA, Dr. Muhamad Supraja, S. Sos, S.H, M.Si; Kuskridho Ambardi, Ph.D
2025 | Disertasi | S3 Sosiologi
ABSTRAK
Di tengah menguatnya simbolisasi syariah dalam praktik ekonomi nasional, muncul fenomena paradoks dalam ranah sosial-keagamaan. Perbankan syariah justru menghadapi resistensi dari sebagian umat Islam yang menilai institusi ini gagal mewujudkan prinsip keadilan Islam secara substantif. Penelitian ini bertujuan untuk membaca ulang keberadaan perbankan syariah, melalui keberadaan Bank Syariah Indonesia (BSI). Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan yang dilibatkan terdiri dari bankir syariah, nasabah, otoritas pengawasan seperti OJK dan DSN–MUI, serta tokoh-tokoh dari gerakan anti-riba. Kajian ini menemukan bahwa perbankan syariah tidak berdiri di ruang yang netral secara politik dan ideologis. Pertama, lahirnya perbankan syariah di Indonesia merupakan hasil dari kompromi politik antara aspirasi Islam politik dan negara. Perbankan syariah menjadi jalan tengah yang secara simbolik mengakomodasi aspirasi keagamaan namun tetap berada dalam kerangka sistem keuangan nasional. Kedua, seiring dengan kondisi masyarakat yang semakin tersegmentasi secara ideologis, perbankan syariah mengalami perubahan fungsi. Dari instrumen kompromi antara negara dan umat, ia berkembang menjadi arena kontestasi simbolik antara berbagai kelompok sosial yang memiliki klaim keagamaan yang berbeda. Hal ini menjadikan perbankan syariah sebagai medan artikulasi identitas religius yang saling berkompetisi, bukan sebagai ruang konsensus tunggal. Ketiga, gimik teologi adalah konsep yang digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan praktik perbankan syariah kontemporer di Indonesia. Rentetan temuan ini merefleksikan evolusi kelembagaan perbankan syariah yang berlangsung dalam kontestasi gagasan dan politik, dan gimik teologi menjadi konsep yang menggambarkan strategi diskursif untuk mendamaikan tiga kepentingan yang berbeda, yaitu Islam, negara, dan korporasi.
Kata Kunci : Perbankan Syariah, BSI, Politik Akomodasi, Politik Wacana, Gimik Teologi