POLITIK PEMBENTUKAN IDENTITAS KERUANGAN DAN SUMBER DAYA TIMAH DI BANGKA BELITUNG (STUDI KASUS DI DESA MAYANG KABUPATEN BANGKA BARAT)
Berlian Zarina, Dr. Nanang Indra Kurniawan, S.IP., M.P.A
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Studi ini mengkaji tentang pembentukan identitas keruangan berdasarkan material sumber daya yaitu timah di Bangka Belitung dengan studi kasus di Desa Mayang, Bangka Barat. Selama ini, identitas keruangan dilihat dalam perspektif ekonomi ataupun lingkungan dan budaya secara terpisah, serta cenderung fokus pada aktor yang berkuasa. Padahal, masyarakat yang hidup di dalamnya juga berperan memberikan pemaknaan atas tempat dan material sumber dayanya di kehidupan kolektif mereka sehari-hari, baik secara ekonomi maupun budaya sehingga keduanya saling mempengaruhi. Penelitian ini bermaksud untuk memaparkan bahwa identitas keruangan tidak terlepas dari proses-proses pembentukan seperti distribusi ekonomi, ekologi, dan budaya yang secara simultan kemudian membentuk konfigurasi ruang akan ditentukan menjadi wilayah apa.
Dalam mengkaji fenomena pembentukan identitas keruangan yang terjadi, penelitian ini menggunakan kerangka kerja identitas keruangan sebagai bagian Place Making dari Arturo Escobar. Kerangka tersebut memiliki 3 elemen utama, yaitu Economic Distribution, Ecology Distribution, dan Cultural Distribution. Kerangka ini akan melihat bagaimana pembentukan identitas keruangan bekerja melalui dominasi kekuasaan yang ada. Dengan teknik pengumpulan data seperti wawancara kepada berbagai pihak mulai dari ekonom, sejarawan, akademisi, institusi, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, hingga masyarakat penambang, penelitian ini memperlihatkan aspek diskursif dari konstruksi atas ruang beserta materialnya. Sedangkan observasi dan dokumentasi dalam pengumpulan data membantu memperkuat fenomena yang diteliti.
Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, distribusi ekonomi timah telah membentuk ruang hidup masyarakat seiring dominasi akses terhadap timah dan terbatasnya pilihan sumber ekonomi alternatif. Kedua, keberadaan jaringan informal timah di tingkat desa seperti di Desa Mayang telah mendukung pertambangan rakyat dan mendorong teritorialisasi area tambang, termasuk di tempat-tempat sakral, lahan pertanian, hingga menimbulkan konflik batas wilayah antar desa karena kepentingan ekonomi. Ketiga, perkembangan teknologi, pengetahuan, dan makna ruang menyesuaikan produksi timah, menjadikan ruang semata untuk produksi demi memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, konstruksi identitas keruangan masyarakat terbentuk melalui jaringan kekuasaan formal dan informal dari material simbolik yaitu timah yang mendominasi kehidupan sehari-hari.
This study examines the formation of spatial identity based on tin resources in Bangka Belitung, using a case study in Mayang Village, West Bangka. Until now, spatial identity has been viewed from separate economic, environmental, and cultural perspectives, with a tendency to focus on powerful actors. However, the communities living in these areas also play a role in giving meaning to their place and material resources in their daily collective lives, both economically and culturally, so that the two influence each other. This study aims to explain that spatial identity cannot be separated from formation processes such as economic, ecological, and cultural distribution, which simultaneously shape the spatial configuration that will determine what kind of region it will become.
In examining the phenomenon of spatial identity formation, this study uses the spatial identity framework as part of Arturo Escobar's Place Making. The framework has three main elements: Economic Distribution, Ecology Distribution, and Cultural Distribution. This framework will examine how the formation of spatial identity works through the dominance of existing power structures. Using data collection techniques such as interviews with various parties ranging from economists, historians, academics, institutions, community organization, community leaders, to miners, this study reveals the discursive aspects of the construction of space and its materials. Meanwhile, observation and documentation in data collection help reinforce the phenomenon being studied.
This study produced three main findings. First, the economic distribution of tin has shaped people's living spaces due to the dominance of access to tin and the limited choice of alternative economic sources. Second, the existence of informal tin networks at the village level, such as in Mayang Village, has supported small-scale mining and encouraged the territorialization of mining areas, including in sacred places and agricultural land, leading to conflicts over boundaries between villages due to economic interests. Third, developments in technology, knowledge, and the meaning of space have adapted tin production, making it solely a space of production to meet daily needs. Thus, the construction of spatial identity in society is formed through formal and informal power networks of symbolic material, namely tin, which dominates everyday life.
Kata Kunci : Konstruksi Identitas, Proses Pembentukan, Material Timah