Laporkan Masalah

Pemilihan Satwa Mamalia Sebagai Spesies Payung Untuk Mendukung Efektivitas Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Taman Nasional Baluran

Drajat Dwi Hartono, Dr.rer.silv. Ir. Sandy Nurvianto, S.Hut., M.Sc., IPM.; Dr. Ir. Johan Setiawan, S.Hut., M.Sc., IPU.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Di tengah tiga krisis planet dan tujuan global untuk melindungi sedikitnya 30 persen wilayah darat dan laut pada tahun 2030, Taman Nasional Baluran dengan lanskap savana dan hutan musim beriklim kering menghadapi invasi Acacia nilotica, penggembalaan liar, perburuan, illegal logging dan kebakaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies mamalia yang berpotensi menjadi spesies payung untuk mengefisienkan pengelolaan keanekaragaman hayati. Sebanyak 101 unit kamera jebak dipasang secara sistematis pada grid 1×1 km, menghasilkan 1.591 trap night selama periode September hingga November 2023, merekam 13 mamalia berukuran menengah hingga besar, dan sembilan spesies memenuhi ambang deteksi sebagai kandidat.

Setiap kandidat dinilai menggunakan tujuh indikator, yaitu informasi bio-ekologi, ukuran wilayah jelajah, probabilitas kelestarian, keberadaan bersama spesies lain (co-occurrence), kebutuhan pengelolaan yang menguntungkan spesies lain, sensitivitas terhadap gangguan manusia, dan kemudahan pemantauan. Banteng (Bos javanicus javanicus) dan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) memperoleh skor tertinggi pada aspek ekologis dan manajerial.

Temuan ini menegaskan relevansi pendekatan multi spesies payung bagi komunitas mamalia dan kesiapan integrasinya ke dalam kebijakan Taman Nasional Baluran melalui pemulihan savana, pengendalian Acacia nilotica, dan pengurangan gangguan, sekaligus menyediakan peta prioritas serta metrik monitoring yang aplikatif bagi alokasi sumber daya dan pengambilan keputusan adaptif.

Amid the triple planetary crisis and the global goal to protect at least 30% of land and sea by 2030, Baluran National Park, a dry tropical mosaic of savanna and monsoon forest, faces escalating pressures from Acacia nilotica invasion, unregulated livestock grazing, poaching, illegal logging, and fire. This study aimed to identify mammal species with potential to serve as umbrella species to make biodiversity management more efficient. We systematically deployed 101 camera traps on a 1 × 1 km grid, yielding 1,591 trap nights between September and November 2023, and detected 13 medium to large?bodied mammals; nine met a minimum detection threshold and were retained as candidates.

Each candidate was evaluated against seven indicators: bioecological information, home range size, probability of future population persistence, co?occurrence with other species, management needs that benefit other species, sensitivity to human disturbance, and ease of monitoring. Banteng (Bos javanicus javanicus) and the Javan leopard (Panthera pardus melas) achieved the highest ecological and managerial scores.

These findings support a multi?species umbrella approach for the mammal community of Baluran and demonstrate its readiness for integration into park policy through savanna restoration, control of Acacia nilotica, and reduction of anthropogenic pressures, while providing priority maps and monitoring metrics that are directly usable for resource allocation and adaptive decision?making.

Kata Kunci : Keanekaragaman hayati, Kamera jebak, Prioritisasi konservasi, Analisis co-occurrence, Mamalia.

  1. S2-2025-513995-abstract.pdf  
  2. S2-2025-513995-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-513995-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-513995-title.pdf