Dinamika Lanskap Budaya di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur: Pendekatan Maritime Cultural Landscape
Muslim Dimas Khoiru D., Dr. Mimi Savitri, M.A.
2025 | Tesis | S2 Arkeologi
Pulau Bawean merupakan pulau kecil
di Laut Jawa yang masuk wilayah administratif Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa
Timur. Pada hasil penelitian sebelumnya, pulau tersebut mempunyai tinggalan
arkeologi yang cukup kompleks yang berpusat di bagian sisi selatan pulau . Tinggalan arkeologi yang berada di sisi
selatan Pulau Bawean mempunyai karakteristik dari masa Islam hingga kolonial,
sehingga muncul pertanyaan, bagaimana karakteristik lanskap Pulau Bawean bagian
selatan dengan masuknya Islam dan kolonial.
Penelitian ini mengkaji dinamika
lanskap budaya di sisi selatan Pulau Bawean melalui pendekatan maritime cultural
landscape. Ruang lingkup temporal mencakup abad ke-17 hingga abad ke-20 M,
yakni masa Islamisasi hingga kolonial Belanda dengan wilayah penelitian bagian
sisi selatan yang berada di darat maupun di laut. Penelitian menggunakan
analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan sebaran tinggalan
arkeologi dan menelusuri perubahan lanskap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
fase Islamisasi ditandai dengan perpindahan pusat pemerintahan ke Sangkapura
oleh Maulana Umar Mas’ud, yang disertai pembangunan masjid, alun-alun, pasar,
dan permukiman bercorak tata kota Mataram Islam. Fase kolonial Belanda
selanjutnya membawa pengaruh berupa pembangunan infrastruktur, pemukiman, dan
kantor pelabuhan. Selain itu, kehadiran etnis Madura, Bugis, Jawa, dan
Palembang memperkaya corak budaya lokal yang kemudian melahirkan bahasa,
tradisi, serta kesenian khas Bawean. Dengan demikian, penelitian ini
menyimpulkan bahwa dinamika lanskap budaya di Pulau Bawean terbentuk melalui
dua lapisan utama, yaitu Islam dan kolonial Belanda, yang dipengaruhi faktor
politik, ekonomi, serta interaksi multietnis.
Bawean
Island is a small island in the Java Sea, administratively part of Gresik
Regency, East Java Province. Previous research has shown that the island boasts
a fairly complex archaeological site centered on the southern side of the
island. These archaeological remains on the southern side of Bawean Island
exhibit characteristics from the Islamic to the colonial era, raising the
question of how the landscape of southern Bawean Island evolved with the
arrival of Islam and colonial rule.
This
research examines the dynamics of the cultural landscape on the southern side
of Bawean Island through a maritime cultural landscape approach. The temporal
scope spans the 17th to 20th centuries CE, from the period of Islamization to
the Dutch colonial period, with the research area on the southern side
encompassing both land and sea. The study uses Geographic Information System
(GIS) analysis to map the distribution of archaeological remains and trace
landscape changes.
The
results indicate that the Islamization phase was marked by the relocation of
the center of government to Sangkapura by Maulana Umar Mas'ud, accompanied by
the construction of mosques, town squares, markets, and settlements modeled on
Islamic Mataram urban planning. The subsequent Dutch colonial period brought
with it the development of infrastructure, settlements, and port offices.
Furthermore, the presence of Madurese, Bugis, Javanese, and Palembang ethnic
groups enriched the local cultural landscape, which gave rise to the
distinctive Bawean language, traditions, and arts. Therefore, this study
concludes that the dynamics of the cultural landscape on Bawean Island were
shaped by two main layers: Islam and Dutch colonialism, influenced by
political, economic, and multi-ethnic interactions.
Kata Kunci : maritime cultural landscape , Islam, Kolonial Belanda, Etnis.