ESTIMASI EMISI KARBON DIOKSIDA INDUSTRI SEMEN DAN LANDSCAPE CAPACITY KAWASAN KARST DI INDONESIA
Bernadetta Indri Dwi Astuti, Prof. Dr. Eko Haryono, M.Si. ; Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si.
2025 | Tesis | S2 Geografi
Perubahan iklim
merupakan isu global yang didorong oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca
utamanya karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Industri semen
menyumbang sekitar 6% emisi gas rumah kaca global. Studi ini bertujuan untuk (1)
menganalisis distribusi jumlah produksi dan konsumsi semen di masing-masing
pulau di Indonesia tahun 2008-2023, (2) melakukan inventarisasi dan
menganalisis emisi karbon dioksida semen di Indonesia tahun 2008-2023, (3)
memproyeksikan emisi karbon dioksida industri semen di Indonesia tahun
2025-2050, (4) menganalisis landscape capacity kawasan karst di
Indonesia terhadap emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh pabrik semen
tahun 2020.
Studi ini
menggunakan data konsumsi semen tahun 2008-2023 dari Badan Pusat Statistik
(BPS), data produksi semen dari laporan tahunan perusahaan, dan data spasial
tentang sebaran hutan dan bentang alam karst dari Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral serta Kementerian Kehutanan Indonesia. Perhitungan emisi
menggunakan metode IPCC 2006 tier 1 dengan pendekatan produksi dan konsumsi
semen. Emisi dihitung menggunakan faktor emisi 0,507 dan rasio klinker 64,99%. Proyeksi
emisi mengikuti skenario bussiness-as usual. Landscape capacity dianalisis
melalui perbandingan total serapan kawasan karst serta hutan dan emisi proses
kalkinasi.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Jawa memiliki konsumsi semen tertinggi dari tahun 2008 hingga
2023, dengan proyeksi emisi menunjukkan tren penurunan antara tahun 2025 dan
2050. Lima pulau besar lainnya diperkirakan akan mengalami pertumbuhan emisi
yang berkelanjutan. Kalimantan dan Papua menunjukkan tren peningkatan konsumsi
dan emisi karena pembangunan infrastruktur yang pesat. Pada tahun 2020, Jawa dan
Sumatera mengalami kelebihan kapasitas dalam menampung emisi dari industri
semen dan menjadikan Jawa dan Sumatera sebagai net emmiter. Indonesia
Timur merupakan wilayah yang memiliki kapasitas serapan tertinggi dan
menjadikan wilayah ini sebagai net sink di Indonesia.
Climate change
is a global issue that is driven by the increasing concentration of greenhouse
gases, especially carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. The cement
industry produces about 6% of global greenhouse gas emissions. This study aims
to (1) analyzing the distribution of cement production and consumption on each
island in Indonesia in 2008-2023, (2) conducting an inventory and analyzing
cement carbon dioxide emissions in Indonesia in 2008-2023, (3) projecting
carbon dioxide emissions in the cement industry in Indonesia in 2025-2050, (4)
analyzing the landscape capacity of the karst area in Indonesia regarding
carbon dioxide emissions produced by cement factories in 2020.
The study
utilized cement consumption data (2008–2023) from Statistics Indonesia (BPS),
cement production data from annual company reports, and spatial data on forest
distribution and karst landscapes from the Ministry of Energy and Mineral
Resources and the Ministry of Forestry Indonesia. Emission projections follow a
business-as-usual scenario. Emission calculation using IPCC 2006 tier 1 method
with cement production and consumption approach. Emission is calculated using
emission factor 0.507 and clinker ratio 64.99%. Emission projection follows
business-as-usual scenario. Landscape capacity is analyzed through comparison
of total absorption of karst area and forest and calcination process emission.
The results indicate that Java had the highest
cement consumption from 2008 to 2023, with projected emissions showing a
downward trend between 2025 and 2050. The other five major islands are expected
to experience continuous emission growth. Kalimantan and Papua show increasing
trends in consumption and emissions due to rapid infrastructure development. In
2020, Java and Sumatera experienced excess capacity in accommodating emissions
from the cement industries, made Java and Sumatera net emitter. Eastern Indonesia
is the region with the highest absorption capacity and makes this region a net
sink in Indonesia.
Kata Kunci : Emisi, Industri, Karbon Dioksida, Proyeksi, Semen