Laporkan Masalah

Determinan Sosial Tren Kematian Maternal di Kabupaten Banyumas Tahun 2014 – 2023

Marta Isyana Dewi, Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, Sp.OG, Subsp.Obginsos; Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG, Subsp.Obginsos., PhD; Dr. dr. R. Soerjo Hadijono, Sp.OG, Subsp.Obginsos

2025 | Tesis-Subspesialis | SUBSPESIALIS OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Latar belakang: Indonesia berhasil menurunkan angka kematian maternal dari 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1994 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2007 dan mengalami lonjakan menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2015. Tren angka kematian maternal di Kabupaten Banyumas mengalami penurunan dari tahun 2014 hingga tahun 2020 tetapi setelah itu mulai terjadi peningkatan kembali di tahun 2021 sampai dengan tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial yang berpengaruh dalam tren angka kematian maternal di Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu 2014 hingga 2023.

Metode: Desain penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode penelitian kualitatif yang mengacu kepada Standards for Reporting Qualitative Research (SRQR). Penelitian dilakukan dengan melakukan in depth interview kepada subjek penelitian dan Focus Group Discussion Kedua hal ini dilakukan dalam rangka merekonstruksi pandangan, pendapat dan opini subjek terhadap fokus penelitian. In depth interview dan Focus Group Discussion dilakukan secara terbuka namun tetap berdasar pada pedoman wawancara yang telah tersusun secara tentatif.

Hasil: dilakukan in depth interview terhadap 45 orang responden, yang terdiri dari staf Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, informan dari rumah sakit, bidan- bidan puskesmas, kader dan bidan desa. Selain itu, dilakukan juga sebuah Focus Group Discussion. Mayoritas responden telah bekerja lebih dari 3 tahun di fasilitas kerja masing masing dan juga mayoritas berusia 40 hingga 50 tahun. Beberapa tema utama yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: kendala dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal; penolakan rujukan dan faktor sosiokultural; pelatihan kegawatdaruratan maternal dan neonatal untuk tenaga kesehatan; kolaborasi dan sistem rujukan berjenjang; standarisasi rumah sakit.

Kesimpulan: Faktor determinan sosial dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang mempengaruhi tren kematian maternal adalah kecukupan jumlah sumber daya manusia; kesinambungan pelatihan kegawatdaruratan maternal dan neonatal untuk tenaga kesehatan; kemudahan akses rujukan serta kolaborasi yang terintegrasi antar fasilitas kesehatan berjenjang ; konsistensi pelaksanaan standar akreditasi Rumah Sakit PONEK di fasilitas kesehatan; faktor sosiokultural.

Objective: Indonesia experienced fluctuating maternal mortality rates (MMR), declining from 390 per 100,000 live births in 1994 to 228 in 2007, before rising to 305 in 2015. Banyumas Regency mirrored this trend, with MMR decreasing from 2014-2020 but increasing sharply from 2021-2023. Despite national interventions, the post-2020 rise in MMR remains insufficiently explored, particularly regarding social determinants exacerbated by the COVID-19 pandemic.

Methods: This qualitative study employed the Standards for Reporting Qualitative Research (SRQR) framework. In-depth interviews were conducted with 45 purposively sampled stakeholders—including healthcare providers, policymakers, midwives, and community health cadres—across four sub-districts in Banyumas Regency. One focus group discussion was conducted for triangulation. Hybrid thematic analysis was performed using NVivo12 software.

Results: Most participants were aged 40–50 with over three years of experience. Five interconnected social determinants emerged: healthcare workforce adequacy and competency, emergency training continuity, referral system effectiveness, hospital standardization, and sociocultural influences on care-seeking behavior. Key findings included workforce training programs hindered by COVID-19, coordination delays affecting 70% of surgical response times, family reluctance toward PONEK-accredited hospitals, and resource constraints disrupting community programs. Despite quantitative workforce adequacy, qualitative competency gaps and geographic distribution inequities persisted.

Conclusion: Findings reveal that systemic and cultural factors, amplified by pandemic disruptions, significantly contribute to rising MMR. Evidence supports integrated interventions targeting workforce strengthening, referral system optimization, hospital standardization, and culturally sensitive community engagement to reverse adverse trends and advance Indonesia's SDG commitments.

Kata Kunci : kematian maternal, determinan sosial, penelitian kualitatif, maternal mortality, social determinants, qualitative research..

  1. SPESIALIS-2-2025-502437-abstract.pdf  
  2. SPESIALIS-2-2025-502437-bibliography.pdf  
  3. SPESIALIS-2-2025-502437-tableofcontent.pdf  
  4. SPESIALIS-2-2025-502437-title.pdf