SISTEM KOTA-KOTA DAN INTEGRASI KERUANGAN DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN WILAYAH METROPOLITAN KEDUNGSEPUR (KENDAL-DEMAK-UNGARAN-SEMARANG-SALATIGA-PURWODADI)
Ariyani Indrayati, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc. ; Prof. Dr. Luthfi Mutaali, M.SP. ; Prof. Dr. Rini Rachmawati, M.T.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Indrayati, Ariyani. 2025. Sistem Kota-Kota dan Integrasi Keruangan
dalam Konteks Pengembangan Wilayah Metropolitan Kedungsepur
(Kendal-Demak-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi). Disertasi. Fakultas
Geografi, Universitas Gadjah Mada.
Kata Kunci: Metropolitanisasi, Sistem Kota-Kota, Integrasi Keruangan,
Kedungsepur, Kota Inti, Kota Satelit
Perkembangan kota-kota besar di Indonesia khususnya di Pulau Jawa
berlangsung sangat intensif.
Perkembangan tersebut membentuk metropolitan melampaui batas
administratif. Salah satu kota besar berkembang pesat yaitu Kota Semarang, yang
membentuk Metropolitan Kedungsepur
(Kendal-Demak-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi). Fenomena metropolitanisasi
ini menimbulkan ketimpangan keruangan antara kota inti Semarang dengan
kota-kota satelit disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengukur
proses metropolitanisasi aspek fisik, sistem kota-kota dan polisentrisitas
sebelum dan sesudah Perpres Nomor 78 Tahun 2017; (2) mengukur integrasi
keruangan di Metropolitan Kedungsepur; (3) merumuskan strategi pengembangan
wilayah berdasarkan integrasi keruangan di Metropolitan Kedungsepur
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data
dikumpulkan melalui interpretasi citra satelit Sentinel-2 dari tahun 2015–2021
untuk mengukur metropolitanisasi secara fisik sehingga diperoleh kategori
penggunaan lahan, tingkat kekotaan, dan pola sebaran keruangannya. Sistem
kota-kota diukur dengan penggunaan formula: kekompakan, indeks sentralitas, dan
intensitas perubahan lahan terbangun berbasis data instansional. Integrasi
keruangan diukur menggunakan beberapa indikator seperti konektivitas,
aksesibilitas, mobilitas, dan interaksi (KAMI), serta dilengkapi dengan
penilaian apakah tata ruang (RTRW) Kedungsepur terintegrasi dengan RPJMD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses metropolitanisasi di
Metropolitan Kedungsepur terjadi semakin intensif setelah terbit Perpres Nomor
78 Tahun 2017. Struktur keruangan Metropolitan Kedungsepur masih bersifat
monosentris dengan dominasi kuat Kota Semarang sebagai kota ini dan masih
lemahnya peran kota-kota satelit. Integrasi keruangan bervariasi, hubungan
antara Kota Semarang dengan Ungaran tergolong kuat, dengan Demak dan Kendal
tergolong sedang, sedangkan dengan Kota Salatiga dan Purwodadi tergolong masih
lemah. Sinkronisasi antara dokumen RPJMD dan RTRW belum maksimal. Strategi
penguatan integrasi keruangan diarahkan pada pembentukan lembaga koordinatif
dan penyusunan grand design bersama.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan konsep
integrasi keruangan, polisentrisitas metropolitan, dan rekomendasi praktis bagi
penguatan tata kelola kawasan strategis nasional melalui pendekatan geografi
dan perencanaan terpadu.
Indrayati, Ariyani. 2025. Citi Sistem dan Spatial Integration in
Kedungsepur Metropolitan Development Area Conteks
(Kendal-Demak-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi). Dissertation. Faculty of Geography,
Universitas Gadjah Mada.
Keywords: Metropolitanization, City Sistem, Spatial Integration,
Kedungsepur, Core City, Satellite City
The development of major cities in Indonesia, especially on the island
of Java, has been very intensive. This
development has formed metropolitan areas that transcend administrative
boundaries. One of the rapidly developing major cities is Semarang, which has
formed the Kedungsepur Metropolitan Area
(Kendal-Demak-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi). This phenomenon of
metropolitanization has created spatial disparities between the core city of
Semarang and the surrounding satellite cities. This study aims to: (1) measure
the process of metropolitanization in terms of physical aspects and
polycentricity before and after Presidential Regulation No. 78 of 2017; (2)
measure spatial integration in the Kedungsepur Metropolitan Area; (3) assess
policymakers' perspectives on the concept of spatial synergy in the Kedungsepur
Metropolitan Area; (4) formulate strategies to strengthen inter-regional
integration among districts and cities within the Kedungsepur Metropolitan
Area.
This research uses a quantitative approach. Data was collected through
the interpretation of Sentinel-2 satellite imagery from 2015 to 2020, content
analysis of RPJMD and RTRW documents, and in-depth interviews with
policymakers. Spatial integration is measured using several indicators such as
connectivity, accessibility, mobility, and interaction (KAMI), as well as the
alignment between the RPJMD and RTRW documents.
The research results indicate that the metropolitanization process in
the Kedungsepur Metropolitan Area has become increasingly intensive following
the issuance of Presidential Regulation No. 78 of 2017. The spatial structure
of the Kedungsepur Metropolitan Area remains monocentric, with Semarang City
dominating as the central city and satellite cities playing a weak role.
Spatial integration varies; the relationship between Semarang City and Ungaran
is strong, moderate with Demak and Kendal, and still weak with Salatiga City
and Purwodadi. Synchronization between the RPJMD and RTRW documents is not yet
optimal. Strategies to strengthen spatial integration are focused on
establishing a coordinating body and developing a joint master plan.
This study contributes theoretically to the development of spatial
integration concepts, metropolitan polycentricity, and practical
recommendations for strengthening the governance of national strategic areas
through a geographical and integrated planning approach.
Kata Kunci : Metropolitanization, City Sistem, Spatial Integration, Kedungsepur, Core City, Satellite City