Laporkan Masalah

PEREMPUAN PENCARI NAFKAH UTAMA: STRATEGI KEBERLANJUTAN PENGHIDUPAN DAN PEMILIHAN PENDIDIKAN ANAK PADA PEREMPUAN KEPALA KELUARGA (STUDI KASUS SERIKAT PEKKA KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA)

Vira Paramitha, R. Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini mengkaji straregi penghidupan berkelanjutan pada perempuan kepala keluarga (PEKKA) sebagai pencari nafkah utama di Serikat PEKKA Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang salah satunya meliputi hal dalam memilih pendidikan anak. Fenomena perempuan kepala keluarga semakin relevan, mengingat data global dan nasional menunjukan peningkatannya sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, namun seringkali menghadapi stigma dan beban ganda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perempuan kepala keluarga mengelola pembiayaan hidup dan mengambil keputusan pendidikan anak di tengah tantangan sosial dan ekonomi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi dari empat informan Serikat PEKKA Bantul yang beragam latar belakang status (cerai hidup, cerai mati, suami sakit menahun) dan memiliki anak yang menempuh pendidikan tinggi. Penelitian ini dianalisis dengan Sustainable Livelihood Approach (SLA) atau pendekatan penghidupan berkelanjutan sebagai kerangka utama, didukung oleh beberapa teori sosial sebagai teoritical framework atau kajian literatur penelitian ini. Didukung oleh Teori Keterlekatan (Embeddedness Theory) Mark Granovetter, konsep Modal Sosial Robert D. Putnam, Resiliensi Froma Walsh, dan Performativitas Gender Judith Butler untuk menjelaskan peran gender. Hasil menunjukkan bahwa perempuan kepala keluarga di PEKKA Bantul mengembangkan strategi penghidupan adaptif yang berakar pada lima modal SLA (manusia, sosial, finansial, fisik, alam) dan sangat dipengaruhi oleh jaring sosial mereka. Meskipun modal finansial sering menjadi titik kerentanan, modal sosial—khususnya dari dukungan PEKKA dan keluarga—menjadi kekuatan utama yang memfasilitasi keputusan pendidikan anak. Strategi pemilihan pendidikan anak tidak hanya didasarkan pada pertimbangan finansial, tetapi juga kolaborasi ibu-anak, adaptasi terhadap kendala, dan resistensi terhadap norma patriarki. Studi ini menemukan bahwa PEKKA berfungsi sebagai "keterlekatan-balik" yang memberdayakan, mengubah pengalaman marginalisasi menjadi kekuatan kolektif, dan memungkinkan perempuan menavigasi struktur yang menekan untuk mencapai aspirasi pendidikan anak.

This study examines sustainable livelihood strategies among female heads of households (PEKKA) who are the main breadwinners in the PEKKA Association in Bantul Regency, Yogyakarta, one of which involves choosing their children's education. The phenomenon of women as heads of households is increasingly relevant, as global and national data show their growing role as economic pillars, yet they often face stigma and double burdens even triple burdens. This research aims to analyze how these women manage their livelihoods and make educational decisions for their children amidst social and economic challenges. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation from four PEKKA Bantul informants with diverse backgrounds (divorced, widowed, husband with chronic illness) and children pursuing higher education. The study is analyzed using the Sustainable Livelihood Approach (SLA) as the main framework, supported by Mark Granovetter's Embeddedness Theory, Robert D. Putnam's Social Capital concept, Froma Walsh's Resilience, and Judith Butler's Gender Performativity to explain gender roles. The results indicate that women heads of households in PEKKA Bantul develop adaptive livelihood strategies rooted in the five SLA capitals (human, social, financial, physical, natural) and significantly influenced by their social networks. Although financial capital is often a vulnerability point, social capital—especially from PEKKA and family support—emerges as a primary strength facilitating children's educational decisions. The process of deciding on higher education is not solely based on financial considerations but also on mother-child collaboration, adaptation to constraints, and resistance to patriarchal norms. This study finds that PEKKA acts as an empowering "counter-embeddedness," transforming experiences of marginalization into collective strength, enabling women to navigate oppressive structures to achieve their children's educational aspirations.

Kata Kunci : Perempuan Kepala Keluarga, Penghidupan Berkelanjutan, Modal Sosial Pendidikan Anak, Peran Gender

  1. S1-2025-480649-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480649-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480649-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480649-title.pdf