Penilaian kasus kegagalan pengobatan klorokuin terhadap penderita malaria Falciparum dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di beberapa Puskesmas, di Kota Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
MARYATUN, Prof.dr. Soesanto Tjokrosonto, MSc.,PhD
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis
Kota Sabang merupakan salah satu daerah endemis malaria di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kejadian kasus resistensi pertama kali ditemukan tahun 1983 dengan uji efikasi secara in-vitro dan dengan uji efikasi secara in-vivo juga ditemukan kasus P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin dengan derajat RII. Klorokuin masih digunakan sebagai first line drug pada program peberantasan malaria di Kota Sabang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai seberapa besar kegagalan pengobatan klorokuin terhadap penderita malaria falciparum serta untuk mengkaji tentang faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kegagalan pengobatan klorokuin di Kota Sabang.
Penelitian ini dilakukan secara in-vivo selama 28 hari menggunakan protokol WHO tahun 2003. Protokol ini digunakan untuk menilai efikasi klorokuin terhadap pengobatan malaria falciparum, yang didasarkan pada pemeriksaan klinis dan parasitologis. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum dan Puskesmas Paya Seunara di Kota Sabang, selama periode Januari – Juli 2004. Subjek penelitian adalah semua penderita malaria yang pada pemeriksaan mikroskopis pada sediaan darahnya hanya ditemukan infeksi oleh P. falciparum dan memenuhi kriteria inklusi .Untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kegagalan pengobatan maka dilakukan penelitian observasional menggunakan rancangan case control. Data yang diperoleh diolah menggunakan SPSS versi 10.
Hasil penilaian kegagalan pengobatan pada evaluasi H14 menunjukkan 62,14% adequate clinical and parasitological response (ACPR), 10,68% early treatment failure (ETF), 14,56% late clinical failure (LCF), dan 12,62% late parasitological failure (LPF). Evaluasi pada H28 menunjukkan hasil 52,43% ACPR, 10,68% ETF, 20,39% LCF dan 16,5% LPF. Faktor-faktor risiko kegagalan pengobatan yang secara statistik bermakna adalah ukuran limpa membesar (OR=6,06; 95%CI=1,86 Sabang is one of endemic malaria area in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) province. The first in-vitro resistance case to chloroquine was reported in 1983 and the in -vivo resistance case in the level of RII was also observed in 1983. Chloroquine is still used as the first line drug in the malaria control programme at Sabang. The aim of this study is to evaluate the level of treatment failure of chloroquine to falciparum malaria and to analyze the risk factors associated to affect its failure in Sabang.
This study was an in -vivo test for 28 days using the protocol from WHO 2003. The protocol is used to assess the efficacy of chloroquine in uncomplicated falciparum malaria treatment, based on clinical and parasitological examination. The study was implemented in the General Hospital of Sabang and Puskesmas Paya Seunara region, during January – July 2004. The subjects are patient of malaria with mono infection of P. falciparum and include in inclusion criteria. In order to investigate the risk factors of the treatment failure, observational case control design was used. The data were processed using SPSS version 10,0.
The result shows that: 62,14% adequate clinical and parasitological response (ACPR), 10,68% early treatment failure (ETF), 14,56% late clinical failure (LCF), and 12,62% late parasitological failure (LPF), on 14th day evaluation. Evaluation on 28th day shows that: 52,43% ACPR, 10,68% ETF, 20,39% LCF and 16,5% LPF. The risk factors that have significant relationship with treatment failure are splenomegaly (OR=6,06; 95%CI=1,86
Kata Kunci : Kedokteran Tropis,Penderita Malaria,Kegagalan Pengobatan Klorokuin, malaria, P. falciparum, chloroquine, treatment failure, risk factors