Laporkan Masalah

Evaluasi penggunaan lahan untuk arahan konservasi lahan di daerah aliran sungai Serang Kulon Progo Yogyakarta

HASTUTI, Dwi, Prof.Dr.Ir. H. Djoko Marsono

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan (Konservasi Sumber Daya Alam dan

Saat ini kondisi sumberdaya alam utama yaitu air dan tanah sangat memprihatinkan, karena pemanfaatan untuk berbagai kepentingan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Dalam era otonomi daerah saat ini ada kecenderungan pemanfaatan terhadap sumberdaya alam seringkali tanpa memperhatikan kelestariannya sehingga sangat mendukung munculnya ancaman bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, produktifitas menurun dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk mengurangi resiko tersebut di atas, dicoba untuk melakukan penelitian di Daerah Aliran Sungai Serang, Kulonprogo, D.I. Yogyakarta yang bertujuan untuk mengetahui jenis dan kondisi penggunaan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai Serang dan mengevaluasi penggunaan lahan ditinjau dari arahan pemanfaatan fungsi lahan dan tingkat bahaya erosi sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan pengelolaan Derah Aliran Sungai Serang dengan memanfaatkan intepretasi pohoto udara. Pendugaan nilai erosi dihitung menggunakan persamaan USLE (the Universal Soil Loss Equation), yaitu A = R x K x LS x C x P. Dimana A = Erosi tanah tahunan (ton/ha/tahun), R = Erosivitas, K = Erodibilitas tanah,LS= Faktor Panjang dan kemiringan lereng, P = Tindakan konservasi, C = Faktor pengelolaan tanaman. Analisis data dilakukan dengan menggunakan interpretasi foto udara Daerah Aliran Sungai Serang, data dasar peta topografi, peta tanah serta data lainnya dan pengolahan data dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis. Pendugaan nilai erosi (A) dilakukan pada setiap satuan lahan dan demikian juga untuk pendugaan nilai erosi terbolehkan (T). Selanjutnya nilai erosi terbolehkan (T) dibandingkan dengan nilai erosi (A) merupakan dasar untuk memberikan arahan konservasi lahan yaitu pengelolaan tanaman dan pengelolaan lahan pada setiap satuan lahan, sehingga erosi dapat dikurang/ditekan sebesar sama atau lebih kecil dari nilai erosi terbolehkan. Arahan pemanfaatan fungsi lahan untuk Daerah Aliran Sungai Serang yaitu kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan budidaya tahunan dan kawasan budi daya musiman. Penggunaan lahan berupa hutan belukar, hutan sejenis, kampung, kebun campur, perkebunan rakyat, persawahan irigasi, tanah tandus, tegalan/ladang dan waduk. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai erosi yang termasuk klas berat seluas 3,933,598 ha (14,146 %) dan Klas sangat berat 7.401,399 ha (26,618 %) dengan variasi nilai erosi mulai dari 195,866 ton/ha/tahun s/d 5288, 718 ton/ha/tahun. Nilai erosi terbolehkan berkisar antara 9,6 ton/ha/tahun sampai dengan 30 ton/ha/tahun. Arahan tindakan konservasi untuk Daerah Aliran Sungai sebagian besar adalah hutan tidak terganggu, perkebunan rakyat, kebun talun dan sebagian pertanian dengan tindakan konservasi teras bangku.

The condition of natural resources especially water and soil is now being at the critical level due to increasing the utilization of natural resources for various purposes in respond to the growth of citizen. The utilization of natural resources without considering their sustainability would generate greater risk of natural disaster such as: flood, soil slicing, drought, and decreasing soil productivity. According to this condition the research might be needed to minimize the risk of natural resource depletion. The research was conducted in the Serang watershed, Kulonprogo, Yogyakarta Special Region (Daerah Istimewa Yogyakarta) in 2004. The aim of the research is to know the type and the condition of land use based and to decide on the direction land conservation of soil function utilization and the level of erosion hazard as a basic consideration in management planning of Serang Watershed using the interpretation of air photograph. Data analyses were conducted based on the air photograph interpretation of Serang watershed, basic data of topographic map, soil map, and other type of data. Geographic information system is used in the data processing. The erosion value (A) and the tolerable erosion value were generated on the each unit of land. Ratio between the tolerable erosion value and the erosion value is used as basic information to decide on the direction of land conservation including plant and land management in the each unit of land so that erosion could be eliminated to reach the same or less than the tolerable erosion value. The direction of land function utilization at Serang watershed is protection area, buffer area, and perennial and annual culture area. Existing land use systems were bush (398,391 ha), monoculture forest ( 558,561 ha), village (8.441,045 ha), mix cropping (8.441,045 ha), private estate (8.441,045 ha), irrigation land (4.434,292 ha), critical soil (514,593 ha), dry land (2.188,990 ha), and dam (183,692 ha). The result showed that 3,933,598 ha (14.146 %) and 7,401,399 ha (26.618%) were classified into moderate and heavy erosion with the erosion value from 195,866 ton/ha/year up to 5288,718 ton/ha/year. The tolerable erosion value is about 9,6 ton/ha/year up to 30 ton/ha/year. The direction of conservation activities on the watershed is undisturbed forest, estate community, “kebun talun” and the small part of agriculture with bench terrace.

Kata Kunci : Sumberdaya Alam,Konservasi Lahan,DAS, Erosion-Conservation-Land Use


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.