Laporkan Masalah

Kajian potensi penumpang bis kota di kota Yogyakarta

Debi Mutia, Drs. Djarot Sadharto Widyatmoko, M.Sc.

2005 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Kota Yogyakarta yang merupakan ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan. Sebagian besar penduduknya menggunakan bis kota sebagai sarana angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan mobilitas mereka. Ada 19 rute bis kota yang telah ditetapkan Pemerintah Daerah sejak tahun 2002. Namun, hingga akhir tahun 2005, hanya ada 14 rute yang masih beroperasi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak meratanya potensi penumpang yang ada pada masing-masing rute. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi penumpang, potensi rute berdasarkan potensi penumpang dan pendapat supir bis kota, kesesuaian antara potensi rute berdasarkan potensi penumpang dan potensi rute berdasarkan pendapat supir bis kota, serta implikasi terhadap kabijakan yang berlaku. Metode penelitian ini adalahan metode analisa data sekunder, menggunakan data berupa potensi penduduk yang meliputi jumlah penduduk menurut umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kepemilikan kendaraan pribadi dan jumlah pelajar, serta potensi wilayah yang meliputi jumlah fasilitas pelayanan dan luas penggunaan lahan stiap kecamatan. Data-data tersebut diolah dengan menggunakan teknik skoring, scalling dan klasifikasi, sehingga menghasilkan klas potensi penumpang bis kota (klas potensi tinggi, klas potensi sedang dan klas potensi rendah). Selanjutnya, dengan teknik yang sama berdasarkan klas potensi penumpang, ditentukan klas potensi rute bis kota (jalur gemuk, jalur sedang dan jalur kurus). Hasil klas potensi rute berdasarkan data sekunder ini dicocokkan dengan klas potensi rute yang ada di lapangan, berupa informasi dari supir bis kota tentang pengoperasian bis kota dilapangan, dengan teknik wawancara.. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sebagian besar kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta memiliki potensi penumpang bis kota sedang dan rendah, masing-masing 42,86%. Sisanya sebanyak 14,29% adalah kecamatan yang memiliki potensi penumpang tinggi. Variasi potensi penumpang mengakibatkan variasi potensi rute bis kota yang beroperasi di Kota Yogyakarta. Ada 5 rute (jalur 4, 5, 12, 15, 17) yang termasuk jalur gemuk, 2 rute (jalur 9, 11) yang termasuk rute sedang dan 7 rute (jalur 2, 3, 6, 7, 10, 16, 19) yang termasuk jalur kurus. Berdasarkan pendapat supir, rute yang termasuk jalur gemuk adalah jalur 2, 4, 7, 12, 15; jalur sedang adalah jalur 6, 10, 17, 19; dan jalur kurus adalah jalur 3, 5, 9, 11, 16. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara potensi rute berdasarkan potensi penumpang (data sekunder) dengan berdasarkan pendapat supir (data primer). Perbedaan dapat terjadi karena kondisi wilayah dan fasilitas pendukung yang ada di dalamnya tidak dapat berfungsi secara optimal dalam menghasilkan penumpang dan terjadinya tumpang tindih jalur (overlapping) pada ruas-ruas jalan tertentu. Dengan demikian, Pemerintah Daerah dan instansi terkait hendaknya melakukan peninjauan ulang rute bis kota yang ada sekarang, dengan mempertimbangkan potensi penumpang yang ada di setiap kecamatan, dengan harapan bahwa kesenjangan antar rute bis kota, operator pengelola dan kesenjangan wilayah secara umum dapat diminimalisir. Sebaiknya dibuat peraturan yang jelas tentang bis kota agar tercipta sistem transportasi perkotaan yang lebih baik di Kota Yogyakarta.

-

Kata Kunci : Bis kota,Potensi penumpang bis kota,Kota Yogyakarta,DIY

  1. S1-2005-150587-Abstract.pdf  
  2. S1-2005-150587-Bibliography.pdf  
  3. S1-2005-150587-TableofContent.pdf  
  4. S1-2005-150587-Title.pdf