CHALLENGING PATRIARCHAL GENDER ROLES IN MARRIAGE: A SEMIOTIC ANALYSIS OF GENDER ROLES PORTRAYAL IN ‘DUA HATI BIRU’ (2024)
Fadhila Rosi Ramadhani, Lidwina Mutia Sadasri, S.I.P., M.A.
2025 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana film Indonesia Dua Hati Biru (2024) merepresentasikan dan menantang peran gender patriarkal dalam konteks pernikahan. Penelitian ini didorong oleh pengaruh ideologi patriarki yang terus bertahan dalam masyarakat Indonesia, di mana perempuan sering dibatasi pada tanggung jawab domestik dan laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah utama. Dikotomi ini tercermin dan diperkuat melalui representasi media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Dua Hati Biru membangun, menegosiasikan, atau menggugurkan ekspektasi gender tradisional tersebut dalam narasi dan penggambaran visual kehidupan pernikahan.
Dengan menggunakan kerangka teori semiotika Roland Barthes—khususnya model dua tingkat signifikasi (denotasi, konotasi, dan mitos)—serta Social Role Theory dari Alice Eagly, penelitian ini mengadopsi metode deskriptif kualitatif dalam paradigma kritis. Delapan adegan terpilih dari film dianalisis untuk mengungkap makna ideologis yang terkandung dalam representasi peran gender.
Temuan penelitian mengungkapkan adanya dualitas: sementara karakter sekunder memperkuat norma tradisional—seperti mengasosiasikan pengasuhan hanya dengan perempuan dan kepemimpinan dengan laki-laki—karakter utama, Bima dan Dara, menampilkan dinamika egaliter. Dara mengambil peran sebagai pencari nafkah yang rasional dan berdaya, sementara Bima terlibat dalam pekerjaan domestik dan pengasuhan anak, mendefinisikan ulang maskulinitas sebagai kolaboratif dan matang secara emosional. Dengan demikian, film ini menawarkan narasi kontra-hegemonik yang membayangkan ulang pernikahan sebagai kemitraan yang fleksibel, menantang mitos dominan tentang kerja berbasis gender.
This study explores how the Indonesian film Dua Hati Biru (2024) portrays and challenges patriarchal gender roles within the context of marriage. The research is motivated by the persistent influence of patriarchal ideology in Indonesian society, where women are often confined to domestic responsibilities and men are expected to serve as primary breadwinners. This dichotomy is reflected and reinforced through media representations. The study aims to analyze how Dua Hati Biru constructs, negotiates, or subverts these traditional gender expectations in its narrative and visual portrayal of marital life. Framed by Roland Barthes’s semiotic theory—particularly his two-level signification model (denotation, connotation, and myth)—and Alice Eagly’s Social Role Theory, this research adopts a qualitative descriptive method within a critical paradigm. Eight selected scenes from the film are examined to uncover the ideological meanings embedded in the portrayal of gender roles. The findings reveal a duality: while secondary characters reinforce traditional norms—such as associating caregiving solely with women and leadership with men—the main characters, Bima and Dara, display egalitarian dynamics. Dara assumes the role of a rational, agentic breadwinner, while Bima engages in domestic labor and childcare, redefining masculinity as collaborative and emotionally mature. The film, therefore, offers a counter-hegemonic narrative that reimagines marriage as a flexible partnership, challenging dominant myths about gendered labor.
Kata Kunci : gender roles, semiotics, Social Role Theory, patriarchy, Indonesian film