Aspek Genetik Klinik Penderita Epilepsi di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Pusat Profesor Doktor Sardjito Yogyakarta
Wigung Wratsangka, dr. H. Harsono, DSS
1995 | Skripsi | S1 KEDOKTERANEpilepsi masih merupakan masalah yang penting dan cukup rumit, baik bagi para dokter maupun kalangan masyarakat awam. Diperkirakan bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari dua puluh juta orang dengan epilepsi. Salah satu kerumitan dalam masalah epilepsi adalah penyebab dari epilepsi yang belum dapat diketahui secara pasti. Hasil penelitian yang sudah ada menyebutkan bahwa sebanyak 70% dari epilepsi adalah idiopatik. Hal yang lebih mendasar adalah anggapan bahwa epilepsi merupakan stigma bagi masyarakat. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa epilepsi merupakan penyakit jiwa yang bercitra buruk sehingga dalam memilih menantu pun masyarakat jawa mempunyai prinsip edan Ian ayan kudu disingkiri. Penelitian observational yang bertujuan untuk mendiskripsikan peran faktor genetik dalam timbulnya epilepsi ini dilakukan dengan metode penelitian case control study, dilakukan di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. Sardjito, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan pasien atau keluarga yang mengantarkannya datang ke Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. Sardjito, Yogyakarta. Subyek penelitian terdiri dari dua kelompok, masing-masing dengan 30 individu. Kelompok pertama yang selanjutnya disebut kelompok kasus, terdiri dari penderita epilepsi idiopatik dan onset serangan disaat individu berusia dibawah 5 tahun. Kelompok kedua adalah kelompok kontrol, terdiri dari individu yang tidak menderita epilepsi. Dari hasil penelusuran epilepsi anggota keluarga kedua kelompok subyek, didapatkan data jumlah anggota keluarga sebanyak 490 orang pada kelompok kasus, dan sebanyak 488 pada kelompok kontrol. Dari 490 anggota keluarga kelompok kasus tersebut dijumpai epilepsi sebanyak 10 orang, dan dari 488 orang anggota keluarga pada kelompok kontrol dijumpai 2 orang yang menderita epilepsi. Untuk mengetahui peran faktor genetik dalam terjadinya epilepsi terutama epilepsi idiopatik, data-data tersebut diatas diolah dengan uji Chi-square dan dilanjutkan dengan odds ratio. Dengan metode statistik tersebut didapatkan hubungan an tara epilepsi idiopatik dan faktor keturunan yang bermakna, dengan resiko menderita epilepsi 5 kali lebih besar harus ditanggung oleh anggota keluarga kelompok kasus dibanding pada anggota keluarga kelompok kontrol. Dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor genetik mempunyai peranan terhadap setiap kejadian epilepsi, terutama epilepsi yang idiopatik.
Kata Kunci : Epilepsi Idiopatik, Faktor Genetik